
"Hm... oh ya Ra, boleh aku bertanya sedikit pribadi gak?" tanya Yangki.
Aira mengangguk sambil merapikan kotak makanannya.
"Apakah setiap datang bulan selalu sakit? sejak kapan kamu datang bulan?" tanya nya sambil gugup dan malu mengelus dahinya.
"Sejak kelas lima SD, saat itu aku takut banget. Aku sampe nangis, untung aja datangnya malam hari, dan bukan di sekolah. Jadi, bi Susi segera memberitahukan aku tentang menstruansi dan cara mengatasinya."
Yangki mengangguk paham, ia juga pertama kali mimpi basah juga ketakutan, bersembunyi dan bahkan malu menatap wajah Aira keesokannya, bahkan ia mengutuki matanya yang telah berdosa melihat belahan dada Aira saat mengambil pulpen yang jatuh di lantai saat itu.
"Tapi, aku gak pernah minum obat. Bi Susi waktu itu membuatkan jamu pahit banget," sambung Aira.
"Oh begitu, aku juga bertanya sama bibi kok, makanya tau. Kata bibi, 'biasanya gadis tidak suka minum pahit'. Jadi, bibi buatkan kusus itu untuk mu."
"Bilang makasih ku sama bibi ya, bibi perhatian banget deh, sama kayak tuan muda nya," goda Aira.
Yangki tersipu malu, ia tersenyum saat mendapati Aira beberapa kali membuatnya tergoda. Ia sangat senang saat bersama dengan Aira.
Di lain sisi, Arnel merasa kesal memandangi pemandangan itu. Ia hanya bisa menahan amarahnya mengingat Aira masih sakit karena datang bulan.
Saat pulang sekolah, ia mulai bertanya dan meminta Bi Susi membuatkan obat yang tidak pahit untuk Aira, memberikan makanan sehat agar ia cepat sembuh, pikirnya.
Beberapa hari ini, ia berusaha berbuat baik pada Aira, tidak memarahi apalagi membentaknya. Tidak menyuruhnya apalagi mengerjai nya.
Tapi, sepertinya Aira tidak pernah melihat perhatiannya. Sehingga ia merasa jengkel sekali, ia melihat Aira tersenyum sangat manis kepada Yangki, tapi kepadanya bermuka serius yang jarang tersenyum.
Senyuman Aira yang sering ia lihat waktu SD tidak pernah lagi ia lihat untuknya sejak Aira berteman dengan Yangki, ia menjadi uring-uringan beberapa hari ini.
"Cewek desa," panggilnya.
Aira menoleh ke arah nya, menutup buku yang sedang ia baca.
"Ada apa Tuan Muda? apa ada yang bisa saya bantu?"
__ADS_1
"Kamu bisa pijit saya?"
Hah! pijit? apa ia mau mengerjaiku? sudah beberapa hari ini ia tidak menggangu ku?
"Bisa Tuan Muda, apa tangan tuan sakit karena main voli disekolah tadi?"
"Iya," jawab nya sambil duduk disamping Aira menyodorkan tangannya.
Aira memijit tangan nya, pijitan Aira tidak sama seperti saat tadi ia memijit tangan Yangki, membuat Arnel menggerutu dalam hati.
Cih, lihat dia bermuka serius saat bersamaku, tadi ia memijit tangan cowok sampah itu lembut, manja dan tersenyum. Apa sih hebatnya cowok sampah itu dari pada aku cewek desa? huh! bikin sebal aja.
"Udah! gak enak pijitan kamu!" ia menarik tangannya dan pergi meninggalkan Aira.
Aneh, sudah minta dipijitin gak bersukur. Ganggu waktu aku baca aja.
Aira melanjutkan membaca buku nya, sedangkan Arnel masih kesal duduk menjauh dan melihat ke arah Aira yang sibuk membaca buku.
Huh! dasar cewek desa, bikin kesal aja. Apa hebatnya cowok sampah itu? dari pada aku Arnel Harviz Damrah? lebih ganteng juga aku? lebih populer juga aku? apa sih hebatnya dia!
"Papa! bikin kaget aja!"
"Loh, loh kok galak sih putra papa, apa papa ganggu? bukannya peluk papa yang bisa pulang cepat hari ini, gak biasanya? apa gak kangen dan sayang papa lagi nih?"
Arnel segera memeluk Ari, bergelayut manja di lengannya setelah itu, membuntuti Ari mengganti baju dan menemani nya makan di meja makan.
"Pa, apa aku gak tampan?"
Ari mengernyitkan keningnya saat mendengar kan pertanyaan putranya yang selama ini sangat percaya diri itu.
"Tentu saja, sangat tampan. Kalau tidak percaya tanya para pelayan perempuan aja atau sama Aira?"
Ngapain tanya cewek desa itu?, jelas aja jawaban dia aku gak tampan lah! buktinya, sama aku wajah serius, sama cowok sampah itu tersenyum manis.
__ADS_1
"Tapi, ada yang gak suka sama aku," lirih Arnel.
"Wah, siapa yang sampai tidak suka dengan putra papa yang keren ini? berani sekali dia tidak suka pada putra papa, apa papa boleh tau siapa dia?"
"Anu..." jawab nya gugup.
"Anu? namanya anu? namanya aneh ya," ucap Ari terkekeh.
"Bukan pa, papa ngejek nih!"
Ari terkekeh melihat putra nya yang salah tingkah.
"Apakah perempuan yang tidak suka itu sering dimimpikan putra papa?"
Arnel menggaruk kepalanya, telinganya memerah, ia gugup dan sangat malu, papanya sangat bisa menebaknya, pikirnya.
"Papa gak usah penasaran gitu deh, pokok nya rahasia."
"Baiklah, papa gak akan tanya rahasia putra kesayangan papa lagi deh. Apakah putra papa ingin tau biar kelihatan tampan di depan nya?"
Arnel mengangguk.
"Berbuat baik dan manis kepadanya, perhatikan dia, bertutur kata yang lembut dan cari tahu apa yang dia suka, seperti makanan atau pun hobi nya."
"Kalau itu sudah aku lakuin, kata bibi kemarin juga gitu! aku sudah gak ganggu dia, gak jahilin dia, udah perhatian. Tapi, ia tersenyum pada laki-laki lain, sedangkan padaku? ia berwajah datar."
"Berarti putra papa sekarang cemburu?"
"Cemburu?"
"Iya, cemburu itu merasa tidak senang saat orang yang disukai di dekati laki-laki lain, atau dekat dengan yang lain. Seperti sekarang, saat kamu melihat dia tersenyum pada yang lain, hatimu merasa kesal," jelas Ari.
Setelah mendengar beberapa penjelasan tentang cemburu dan suka lawan jenis dari papa nya, ia sering melamun akhir-akhir ini. Memegangi dada nya, jantungnya berdetak lebih cepat.
__ADS_1
"Semakin hari hatiku semakin cemburu melihat dia dengan Yangki, jantungku semakin berdetak cepat saat bersitatap dengannya. Apakah benar aku jatuh cinta padanya?" Arnel berkata dalam hati.