
Arnel mengintip dari jauh saat Yangki dan Aira berbicara, mereka berpisah jalan. Aira menuju ke mobil parkiran yang telah ditunggu Pak Tanto disana dari tadi, tapi Yangki masih diam disana sampai Tuan Muda Rido menghampiri Yangki bersama teman-temannya.
"Huh! kau masih setia melihat gadis pujaanmu ya! seleramu sungguh buruk!"
"Berhenti lah menghina dia, jika bagimu ia buruk tapi bagiku tidak dan itu bukan urusanmu!"
"Wah,wah,wah apa aku harus bertepuk tangan untuk itu?"
Yangki merasa kesal saat ini, ia pergi dan menuju ke parkiran mobilnya. Tapi belum sampai ia pergi Tuan Muda Rido telah memukulinya.
"Kau!" Yangki menoleh kearah Tuan Muda Rido. Ia berdiri dengan tegak dan mengelus pipinya yang nyeri karena pukulan. Ia membalas pukulan itu.
"Hajar dia! kenapa kalian diam saja!" perintah Rido kepada teman-teman nya
Yangki dikeroyok oleh 6 orang teman Rido, ia dipukuli sampai tersungkur dan dipijak bahunya oleh Rido, tangan dan kakinya dipegangi oleh teman-teman Rido.
"Apa tadi pagi kau belum puas dengan pukulan ku? bahkan sekarang kau masih ingin menantang ku?" tanya Rido dengan arogan.
Arnel melihat kejadian itu langsung berlari mendekati perkelahian itu. Sebenarnya ia tidak peduli dengan perkelahian itu, tapi Tuan Muda Rido benar -benar keterlaluan main keroyok 1 lawan 7, ia meminta 6 orang temannya.
"Kau bukan laki-laki aku kira! mengeroyoknya seperti banci! jika kau berani kenapa tidak satu lawan satu saja!"
"Cih, kau! ini bukan urusanmu, pergilah! sebelum aku juga menghajar mu!"
"Oh, kau berani? akan ku pastikan satu helai rambutku rusak akan bisa menghancurkan semua keluargamu!"
"Huh,kau mengancam ku!"
"Tidak, tapi itu kenyataan nya. Kau bukan apa-apa!"
__ADS_1
"Baiklah, aku hanya menghargai paman Ari Damrah yang sangat baik padaku, kalau tidak aku tidak akan pernah takut padamu, bahkan dengan ancamanmu itu!"
"Dan satu lagi aku kasih tau kamu, tadi pagi aku melihat dia membeli sesuatu dan bertulis kata-kata cinta untuk wanitamu. Aku memukul dan merusak hadiah itu, tapi entah bagaimana dia bisa punya hadiah lain,"
" Apakah kau tahu? tadi dia memeluk wanitamu dibangku taman sekolah?" ucap Rido untuk memprovokasi Arnel.
"Wanitaku? apa maksudmu! jangan asal bicara! "
"Hahahahaha" Tuan Muda Rido tertawa dan pergi bersama teman-teman nya meninggalkan Arnel dan Yangki. Arnel masih berdiri melihat Yangki yang berusaha berdiri dan merapikan bajunya yang berantakan.
"Terimakasih kau menolongku menghentikan mereka," ucap Yangki memaksakan senyum sambil mengelus pipinya yang memar.
"Huh! aku tidak menolongmu. Aku hanya tidak ingin kamu mati di depanku dan aku memang ingin menemuimu untuk bilang kau menjauhlah dari Aira!"
"Siapa kamu? pacarnya?" Yangki terkekeh kecil.
" Itu bukan urusan mu! dan jangan memamerkan hartamu, aku bisa membeli seluruh toko buku yang kau berikan padanya, kau bukan apa-apa dibandingkan aku!"
"Kau!" Arnel mengangkat tangannya hendak memukul Yangki. tiba-tiba tangannya terhenti dan ia segera di tangkap 2 orang bodyguard Yangki.
"Ah, siapa kalian! lepaskan aku! aku bisa menghancurkan kalian!" ucap Arnel meronta-ronta.
Pak Tanto yang telah menunggu Tuan Muda Arnel akhirnya memutuskan berjalan-jalan disekitar parkir, karena bosan menunggu lama. Sedangkan Nona Muda Aira dari tadi telah masuk kedalam mobil. Ia melihat Tuan Muda Arnel dipegangi lengannya oleh dua orang bodyguard.
"Hei, apa yang kalian lakukan!" teriak pak Tanto kepada mereka.
"Lepaskan Tuan Muda kami, atau kalian akan hancur! aku tau kalian adalah pengawal keluarga Admaja!"
" Dia telah memukul Tuan Muda Yangki sampai babak belur! dia harus bertanggung jawab!" jawab salah seorang bodyguard Yangki.
__ADS_1
"Sudah, sudah paman. Bukan dia yang memukulku! aku tadi dikeroyok. Ia datang membantuku."
"Tapi tuan Muda, kami melihat dia mengayunkan kepalan tinju kearahmu," jawab salah seorang bodyguard.
" Iya ,tapi dia belum memukulku. Tadi aku berdebat dengannya, mungkin itu membuatnya sedikit emosi,"
"Paman, maaf bodyguard saya salah sangka, kami harus pulang dulu untuk mengobati luka saya," ucap Yangki dengan hormat kepada sopir pribadi Arnel itu.
"Dan satu lagi tuan Arnel, jika kamu bisa melakukan apapun, dan aku bukan lah apa-apa dibandingkan dirimu. Maka seharusnya kamu tau, kenapa aku memberi hadiah untuk Aira!"
Setelah berbicara seperti itu, Yangki dipapah oleh bodyguard menuju mobil. Begitupula dengan Arnel menuju kedalam mobil. Di dalam mobil ia hanya diam tanpa bicara sepatah katapun sampai dirumahnya, ia masih mengingat perkataan terakhir Yangki tadi.
**
Tuan Muda Yangki di papah masuk kedalam mobil oleh 2 bodyguard nya, pak sopir yang sedari tadi menunggu di dalam mobil sangat terkejut melihat tuan mudanya mengalami banyak memar.
"Kenapa dengan Tuan Muda? kenapa dia banyak memar seperti ini?" tanya sopir.
"Huh, anak Wijaya mengeroyok Tuan Muda, dan tadi juga anak Damrah ingin memukul Tuan muda, jika bukan anak Wijaya dan Damrah akan aku patahkan jari bocah itu walaupun Tuan Muda melarangku!," ketus salah seorang bodyguard.
"Ah, cepat lah buka pintu mobil! kita harus segera mengobati Tuan Muda Yangki."
"Ah, sekolah orang kaya memang membahayakan. Mereka melakukan kekerasan dan mendiamkan karena uang dan jabatan," gumam sang sopir dalam hati sambil membuka pintu dan menyetir mobil.
Tuan Muda Yangki tidak ingin pergi ke rumah sakit sehingga sopir dan bodyguard membawa nya untuk segera pulang. Beberapa puluhan menit akhirnya mobil yang dikendarai membawa tuan Muda Yangki berhenti tepat didepan pagar rumahnya.
Penjaga segera membukakan pagar sambil sedikit membungkukan kepala sebagai penghormatan kepada Tuan Muda, Pak Sopir dan 2 bodyguard segera membawa Tuan Muda Yangki kedalam rumah.
Mereka meminta Bibi pelayan segera mengambil obat dan mengobati beberapa memar diwajah dan sebagian tangan dan kaki Tuan Muda Yangki.
__ADS_1
Wanita cantik berbaju kemeja warna kuning dengan rok panjang berwarna coklat tua segera menghampiri Tuan Muda Yangki setelah ia mendengar putranya telah pulang dari sekolah dan mempunyai beberapa memar.
Ia sangat kawatir, duduk dan mengelus wajah anaknya yang tampan itu, ia bernama Nadira Admaja.