(Masih Revisi) Danau Hijau Buatan Kakek

(Masih Revisi) Danau Hijau Buatan Kakek
Alun-alun Kota


__ADS_3

"Aira, aku telah menyukaimu saat pertama kali kita bertemu, saat itu aku belum terlalu menyadarinya. Aku berpikir, mungkin perasaan suka ini karena kita berteman."


"Semakin hari, aku selalu merindukanmu, aku tidak bisa jauh darimu, aku selalu mengkhawatirkanmu jika Arnel menjahatimu," Yangki berkata dengan tatapan lembut.


"Apakah kamu mencintaiku Aira?"


Aira hanya diam, ia sungguh tidak tau dengan perasaannya saat ini. Satu sisi ia begitu bahagia mendengarkan pria yang begitu hangat membuatnya bahagia dan nyaman selama ini adalah orang yang mencintainya.


Satu sisi lain, Paman yang merawatnya sedari kecil meminta ia untuk menikah dengan putranya di masa depan.


"Aira," panggil Yangki.


"Apakah kau tidak mencintaiku?"


Aira menunduk, kemudian ia menangis.


"Jangan menangis Aira, aku tidak bisa melihatmu menangis, aku mohon jangan menangis."


"Jangan jawab pertanyaanku, jika itu membebanimu. Aku hanya ingin kamu tau, kalau aku sangat mencintaimu seumur hidupku."


"Aku akan mencintaimu disetiap denyut nadiku, hingga ujung nafasku berhenti, hanya namamu dalam hatiku," jelas Yangki dengan tatapan berkaca-kaca menahan air mata.


"Aira, rawatlah bunga ini. Jika nanti kau mengetahui perasaanmu, dan saat itu kamu sadar kalau kau mencintaiku. Maka, temuilah aku, beritahu aku. Aku selalu menunggumu."


"Jika, kau tidak pernah mencintaiku. Tetaplah rawat bunga ini sebagai pertemanan kita."


"Tapi, jika suatu saat kau merasa sedih dan ingin bercerita denganku, ceritakan lah. Aku akan mendengarnya."


"Jika suatu hari kau merindukanku, temui aku. Aku selalu merindukanmu, mencintaimu, dan menunggumu di sini."


Aira menangis tersedu-sedu, ia memeluk Yangki dengan erat. Mereka berpelukan cukup lama.


"Aira, bisakah aku meminta sesuatu untuk perpisahan kita?"


Aira mengangguk sambil menghapus air matanya.


"Bisakah aku...."


Aira mengernyitkan keningnya, menunggu perkataan Yangki. ia terlihat gugup dan mengelus tengkuknya beberapa kali.


"Apa?" tanya Aira.


"Ciuman perpisahan?" Yangki berucap malu-malu dan takut kalau Aira marah dan menolaknya.


Pipi Aira bersemu merah, ia mengangguk malu.

__ADS_1


Yangki tersenyum malu dan mendekatkan wajahnya dengan wajah Aira, kemudian ia mencium hangat kening Aira.


"Makasih Aira."


Aira kemudian membalas ciuman di pipi Yangki, membuat jantung Yangki berdetak lebih cepat, malu bercampur bahagia, mereka sama-sama malu dan memalingkan wajah ke tempat lain beberapa saat.


"Ma..maaf tadi aku..." ucapan Aira terpotong.


"Tidak apa-apa Aira, aku sangat menyukainya, ini kenangan yang paling indah," tutur Yangki dengan tersenyum bahagia. Ia bertambah tampan saat ini di mata Aira.


Beberapa saat mereka saling tatap. Dan... satu kecupan di bibir Aira dari Yangki.


Aira mengedipkan matanya beberapa kali, apakah ia sedang bermimpi? apakah itu disebut ciuman pertama?


Ia menyentuh bibirnya, canggung dan malu tapi suka. Itulah yang di rasakan Aira sekarang. Yangki juga tidak kalah gugup setelah menabrakkan bibirnya dengan bibir Aira.


"Apakah itu ciuman pertama?" tanya Aira dengan lugu.


"Mungkin, ini untuk pertama kalinya aku mencium seseorang, aku tidak pernah punya pacar selama ini, aku hanya menyukaimu Aira, kamu orang pertama yang menciumku dan orang pertama yang aku cium," jelas Yangki malu-malu.


"Aku juga," balas Aira dengan pipi bersemu merah.


"Makasih banyak dengan semua kenangan indah ini Aira, aku akan mengenangnya di dalam lubuk hatiku sampai hembusan terakhir di nafasku, aku mencintaimu Aira," Yangki berkata sambil memeluk Aira, lalu mencium keningnya kembali.


"Aira, ingatkah rawat bunga itu ya, aku pulang dulu."


Yangki pergi meninggalkan Aira yang sedang tersenyum sendiri bahagia, begitupula dengan Yangki wajahnya dipenuhi dengan senyuman saat memasuki mobil bahkan saat ia sampai di rumahnya, masih dalam keadaan tersenyum-senyum sendiri.


Di lain sisi, Arnel dan Rido melihat adegan dimana Yangki memeluk dan mencium Aira. Arnel sangat marah. Rido bisa melihat dengan jelas, kalau Arnel sangat cemburu saat ini.


"Apakah kau cemburu?"


"Diam!"


"Aku tau, kau jatuh cinta sama si kutu buku ya?"


Arnel diam, ia tidak menjawab satu kata pun. Ia melihat dengan tajam ke arah 2 sejoli yang ada di sana.


"Tidak ku sangka, bahkan gadis yang kau sukai juga di babat oleh dia."


"Sampah! dasar pemuda sampah!" cela Arnel.


"Sabar, sabar bro, aku tau banget sama perasaan kamu! aku juga cemburu saat Una mengejar dia."


Setelah melihat Yangki pergi, Arnel segera berjalan mendekati Aira, ia membuat Aira terkejut dan langsung berubah ekspresi wajah dari tersenyum langsung berwajah serius.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan disini dengan pemuda sampah itu?!"


"A...a... aku..." Aira berkata gugup.


Tidak menunggu Aira sampai menjawab, Arnel langsung menangkap tengkuk Aira, memaksa dengan mencium paksa bibir Aira.


Ciuman paksa itu terjadi cukup lama, Aira bahkan berusaha keras mendorong tubuh Arnel, tapi tenaganya tidak sebanding. Arnel mencium bibirnya dengan kasar, melahap bibirnya seperti binatang buas.


Nafas Arnel dan Aira memburu, mungkin sama-sama kehabisan nafas, akirnya Arnel memberi ruang untuk bernafas. Tapi, kemudian ia mencium paksa kembali.


Ciuman itu cukup lama dari sebelumnya, Aira tidak memberontak lagi, dia hanya diam, tanpa perlawanan, air matanya menetes mengalir.


Arnel melepaskan ciuman itu, menatap lekat wajah Aira, ia bertambah murka melihat Aira menangis saat ia menciumnya.


"Aku peringatkan kau! jangan pernah berciuman dengan siapapun lagi! kalau tidak, aku akan menghukummu lebih dari ini!"


"Ayo pergi," ucap Arnel kepada Rido yang mematung melihat adegan ciuman tadi.


Mereka berdua berjalan pergi meninggalkan Aira.


Aira menangis tersedu-sedu, ia menghapus bekas bibir Arnel yang menempel di bibirnya. Ia merasa sakit hati dengan ciuman paksa itu.


Aira berlari sambil menangis masuk ke dalam kamarnya, ia mengunci kamar itu, lalu pergi ke kamar mandi. Disana, ia menangis, ia menggosok-gosok bibir dan lidahnya, ia sangat jijik dengan dirinya, ia merasa sedang berselingkuh dari Yangki.


"Bagaimana bisa Paman memintaku menjadi istrinya dimasa depan? dia begitu kasar kepadaku? dia selalu memaksa keinginannya kepadaku, apapun itu."


"Apakah dia tidak punya perasaan sama sekali? bagaimana mungkin dia bisa mencium sembarangan gadis? apa dia pikir aku gadis murahan?"


"Aku bukan gadis-gadis yang menjadi pacarnya waktu SMP, apa aku terlalu hina di matanya."


"Arnel, aku sumpahin kamu gak laku-laku! Gak akan ada satu orang pun gadis yang akan menyukaimu setelah ini!" maki Aira di dalam kamar mandi.


"Aku benci kamu Arnel, dasar kurang ajar! Huhuhu...hu..hu... " tangis Aira.


___


Di alun-alun kota.


Arnel dan Rido baru saja sampai. Rido membeli air dingin dan memberikannya kepada Arnel, ia mengambil sebotol air dingin itu, lalu meminumnya, menghela nafas beberapa kali, lantas menatap langit cerah yang hendak berganti sore.


"Apa aku tadi terlalu buruk?" tanya Arnel.


"Aku tidak tau, jika aku menjadi kamu, mungkin aku juga melakukan hal yang sama."


"Tapi, tadi dia menangis saat aku menciumnya, kenapa dengan pemuda sampah itu dia tersenyum bahagia? apa perbedaan antara ciuman aku dengan ciuman pemuda sampah itu?" teriak Arnel frustasi mengacak rambutnya.

__ADS_1


"Tenang, tenanglah bro," Rido berkata sambil mengelus punggung Arnel menenangkan.


__ADS_2