(Masih Revisi) Danau Hijau Buatan Kakek

(Masih Revisi) Danau Hijau Buatan Kakek
Cinta Segitiga


__ADS_3

Rido langsung memukul Yangki. "Apa kau bilang? kau akan rasakan yang mana bernyali tempe itu!" Memaki Yangki. Yangki tertawa kecil. "Jika kalian menyukai seorang gadis, berjuanglah. Jangan menyalahkan orang lain."


"Kau Tuan Muda Rido!" Menunjuk wajah Rido lekat.


"Una ingin kuliah di Inggris juga, saat aku bilang aku ingin kuliah di Inggris, saat aku bilang ingin ke Amerika, dia juga ingin kesana. Apa kau tau? aku tidak peduli tentangnya sedikitpun! aku tidak butuh perasaannya!"


"Aku tidak pernah menyukainya sedikitpun, yang aku sukai adalah Aira dari dulu. Jadi berhentilah, menyalahkanku!" Menepuk pundak Rido. "Aku tidak akan mengizinkanmu mencintai Aira," Arnel berteriak kesal.


"Siapa kau!" Menyunggingkan senyuman dengan tatapan menghina, Arnel langsung memukulnya. "Hahahaha" Yangki tertawa lantang. Mengelus wajah yang terasa sakit. "Cuih! sebenarnya, kalianlah yang sampah di sini! pengecut!"


Rido langsung menghajar Yangki, Arnel juga memukul. Mereka berdua mengeroyok Yangki. Ia tidak menghindar dan tidak melawan. Entah apa yang ia pikirkan. "Kenapa kau tidak menghindar dan melawan, Sampah!" seru Rido mencengkram lengan baju Yangki.


"Aku tidak akan melawan orang-orang yang sedang cemburu, aku tidak peduli. Aku anggap ini adalah kenang-kenangan dari kalian. Sampai jumpa, semoga kalian sukses ya!" Berdiri dengan gagah, mengeluarkan senyuman lebar, mengangkat tangan mencoba melambai ke arah mereka.


"Kau pikir itu keren!" Rido memukul sekuat-kuatnya ke wajah Yangki. Membuat Yangki tersungkur dan tidak bangun-bangun lagi. Aira yang kembali berputar melihat mereka, berlari sekencang-kencangnya.


"Apa yang kalian lakukan?" Aira melorot marah. Ia segera memeluk kepala Yangki, menepuk-nepuk wajahnya, hidungnya mengeluarkan banyak darah. " Yangki... Yangki... bangunlah! terdengar suara Aira mengkhawatirkannya.

__ADS_1


Sang Sopir segera berlari melihat Tuan Muda nya tersungkur tidak bangun lagi, sebenarnya ia sedari tadi ingin menyusul. Tapi Yangki berpesan tidak boleh mendekat, biarkan saja kalau ia dipukuli untuk sekarang.


"Tuan Muda!" panggilnya.


Yangki membuka matanya, mengelus wajah Aira yang memangkunya. "Kenapa kau kembali lagi, aku sudah menyuruhmu masukkan? aku tidak apa-apa, aku baik-baik saja, ini cuma permainan kecil antara laki-laki. Jangan kawatir!"


Sang Sopir segera berlari melihat Tuan Muda nya tersungkur tidak bangun lagi, sebenarnya ia sedari tadi ingin menyusul. Tapi Yangki berpesan tidak boleh mendekat, biarkan saja kalau ia dipukuli untuk sekarang.


"Tuan Muda!" panggilnya.


Yangki membuka matanya, mengelus wajah Aira yang memangkunya. "Kenapa kau kembali lagi, aku sudah menyuruhmu masukkan? aku tidak apa-apa, aku baik-baik saja, ini cuma permainan kecil antara laki-laki. Jangan kawatir!"


"Semoga kalian berdua sukses dimasa depan, berjuanglah! dan perlakukan wanita yang kalian cintai dengan baik, di terima atau tidaknya cinta kalian. Cinta tidak bisa dipaksa!"


Darah di hidung Yangki semakin banyak keluar, ia segera di bawa Sang Sopir pergi dengan tergesa-gesa. Ia masih tersenyum kepada Rido dan Arnel, melambaikan tangan walaupun dibalas dengan tatapan tajam.


"Aku memaafkan kalian! aku anggap ini hadiah perpisahan kita seumur hidup! semoga kalian sukses kedepannya! berjuanglah sebaik mungkin kedepannya untuk yang paling terbaik bagi jalian." balasnya teriak sembari tersenyum dan terbatuk-batuk.

__ADS_1


•••Flasback Off•••


“Begitulah masa-masa muda Papa dan Mama mu.” ucap Kakek mengakhiri ceritanya.


“Wah, cinta segitiga dong, Kek?” tanya Humaira.


“He'em.” jawab Kakek Ari mengangguk.


“Entah kenapa aku merasa tersentuh dengan Paman Yangki. Aku juga ingin kenalan dengan Tante Wanda. Dan juga Penasaran dengan Paman Rido.”


“Rupanya, Paman tak dekat dulu dengan Papa. Tapi, seperti Tom and Jerry. Kikikikiki.” ucap Humaira terkikik.


Ari mengelus pucuk kepala cucunya. “Ya, begitulah. Mari kita pulang.” ajak Kakek Ari.


“Ok, Kek.”


Humaira membimbing tangan Kakek Ari Damrah dan tangannya satu lagi berjalan memegangi tongkat.

__ADS_1


__ADS_2