(Masih Revisi) Danau Hijau Buatan Kakek

(Masih Revisi) Danau Hijau Buatan Kakek
Aku Mencintaimu Aira


__ADS_3

Dianjurkan Bab ini hanya dibaca bagi orang dewasa.


•••


Setelah cukup lama berendam, ia segera membersihkan tubuhnya dan mengguyurnya dengan shower, lalu menghadap cermin, mengelus wajah nya, dan mencukur beberapa kumis yang mulai kasar terlihat.


Setelah mandi dengan bersih, ia melilitkan handuk di pinggangnya. Ia berdiri cukup lama di depan pintu kamar mandi, menatap istrinya yang menutup kening dengan lengannya.


Ia berjalan mendekati, mengusap rambut istrinya, Aira mendongak melihat ke atas, wajah tampan yang tersenyum kepadanya, walaupun tidak muda lagi, tapi Arnel masih mempunyai fisik yang bagus, tubuhnya masih terawat dengan baik.


Arnel sedikit membungkuk, mengecup bibir istrinya cepat, lalu menyelipkan rambut Aira ditelinga. Ia duduk di samping Aira, lalu menghadap dan menatapnya dengan lekat.


"Sayang, jika kau tidak ingin mengatakan apa-apa padaku, jangan pikirkan lagi masalah itu," ucap nya sambil mengelus pipi Aira.


Aira menatap Arnel dengan gugup, dan ia berkata.


"Ma...maaf sayang, maafkan aku selama ini berbohong padamu," ucapnya menundukkan kepalanya sambil memegang tangan Arnel yang mengelus pipi nya.


"Maaf kenapa?"


"Se... selama ini aku diam-diam pergi ke rumah Admaja, dan tadi aku juga dari sana, aku bertemu dengan kak Yuhen disana."


Arnel beberapa saat terdiam, lalu ia kembali mengangkat dagu Aira yang membuat ia mendongak menghadap Arnel. Ia mengelus pipi, dagu dan bibir istrinya itu.


"Oh, lalu dia bicara apa?" tanya Arnel.


Aira lama terpaku, ia masih cemas kalau Arnel akan marah dan mereka akan bertengkar, tapi rupanya reaksi Arnel biasa saja dan malah menjawab nya dengan santai.


"Ia tidak bicara banyak, ia pulang karena Nyonya dan Tuan Admaja memintanya pulang."


Arnel memegang kedua pipi istrinya dengan tangannya, mencium kening istrinya, lalu turun ke pertengahan alis mata, mencium pelupuk mata dan hidung istrinya.


Setelah mencium, ia menatap istrinya kembali, membuat Aira gugup, dan menebak-nebak apa yang dipikirkan suaminya.

__ADS_1


Kemudian Arnel kembali mencium dagu istrinya, dan menempelkan ujung hidungnya dengan hidung Aira beberapa detik, lalu mencium bibir Aira dengan cepat.


"Apakah kau masih mencintai Yangki?" tiba-tiba ia bertanya, membuat Aira gelagapan untuk menjawab.


"A...aaa...aku..."


Arnel langsung menempelkan jari telunjuknya di bibir Aira, saat ia melihat Aira gelagapan menjawab. Ia memandang Aira dengan lembut, merapikan rambutnya, lalu mengecup bibir istrinya itu kembali.


"Aku mencintaimu istriku, aku berharap kau juga mencintaiku, jika kau masih mencintai Yangki itu tidak masalah, dia berhak...."


Arnel menghela nafas panjang, dan menghembuskannya, lalu menyambung perkataannya.


"Dia berhak untuk dicintai, tapi cintailah dia sebagai teman yang baik, karena sekarang aku lah suamimu, aku mencintaimu Aira."


Jantung Aira berdetak lebih cepat, Arnel tidak pernah sembarangan mengungkapkan cinta kepadanya, bisa di ingat ini untuk ketiga kali nya selama mereka bersama dari kecil ia mengatakan cinta pada Aira.


Aira memeluknya, diam tanpa kata. Arnel mengusap punggung istrinya, melepaskan pelukan itu, lalu mengecup pipi dan bibir istrinya.


"Bisakah kau berjanji hanya akan mencintai aku, suamimu, mulai saat ini?"


"Suamiku, bukankah aku telah berkata, sedari dulu aku telah jatuh cinta padamu, dan selama ini aku juga mencintaimu, aku pernah mencintainya, dia memang berada di dalam hatiku, tapi kau suamiku, kau yang mengisi seluruh hatiku sampai penuh," ucapnya lalu menggigit telinga Arnel pelan.


Arnel mengelus wajah istrinya dan membalas gigitan pelan di dagu istrinya, Aira memukul dada Arnel manja, Arnel berdiri dan mengangkat tubuh istrinya berbaring ke atas ranjang.


Ia menindih Aira, mencium wajahnya dan bibirnya, ciuman bibir itu mulai panas dan lama, mulai bermain lidah, bukan hanya mencium bibir, sekarang Arnel mulai mencium setiap inci tubuh istrinya, bahkan menjilati beberapa area sensitif.


"Sayang, udah, geli," ucap Aira yang terengah-engah.


"Geli tapi..." ucap Arnel tersenyum mesum.


Pipi Aira merah merona karena malu mendapati pertanyaan suaminya, karena itu memang benar.


Arnel mulai membuka setiap helai kain yang menempel di tubuh istrinya, kemudian ia melemparkan juga handuk yang sedari tadi melilit dipinggangnya.

__ADS_1


"Sayang, boleh kan? tanyanya menggoda, memainkan wajah dan rambut Aira.


Aira tidak menjawab, hanya anggukan dan suara desahan yang bisa ia keluarkan, karena Arnel telah menggerayangi tubuhnya. Meninggalkan tanda kepemilikan di beberapa Area tertentu.


Ciuman semakin lama dan panas, pemanasan yang semakin menggairahkan. Ranjang juga ikut bergoyang seirama dengan goyangan mereka, suara desahan memenuhi telinga mereka masing-masing, mereka benar-benar menikmatinya, sehingga keringat mulai bercucuran.


Tidak lama, mereka sampai dipuncak nikmat. Arnel merebahkan tubuhnya disamping Aira, mereka berdua kelelahan dengan mata setengah sayu sambil tersenyum, Arnel memegangi tangan Aira, meletakkan di dadanya yang terlentang menghadap langit-langit kamar.


Beberapa menit kemudian, ia menggeser tubuhnya mendekati istrinya, merapikan rambut istrinya, mengelus pipi dan mengecup pipi itu lalu turun mengecup bibirnya.


Bibir mereka mungkin telah mengering dan panas sekarang, karena entah berapa kali mereka saling menggigit dan menghisap, tapi mereka masih saling mengecup saat ini.


Arnel memegang dan mencium jemari Aira, lalu mendekapnya dalam pelukan.


"Aku mencintaimu Aira," ucapnya lalu mencium pucuk kepala istrinya.


Aira mendongakkan pandangannya ke atas dan mengecup pipi serta bibir suaminya.


"Aku juga mencintaimu suamiku."


Akhirnya mereka terlelap hingga cuaca dingin dini hari terasa dingin menusuk tubuh Arnel, ia terbangun dan merapikan selimut tebal yang tertendang saat tidur oleh Aira.


"Istriku ini, masih saja tidur seperti ini, berantakan," Arnel berkata dalam hati.


Bukannya merapikan, tapi malah ia berubah pikiran, ia mulai mengganggu tidur Aira, menciumi tubuh yang mungkin sudah berbau sedikit asam karena keringat. Tapi aroma itu sangat dinikmati nya, mungkin karena cinta, taik kambing bulat saja mungkin dikira chocochip.


Aira menggeliat, karena tidurnya di usik, ia terbangun dan membuka matanya, ia telah melihat suaminya telah menindihnya, tidak lama ia mulai merasakan tongkat pusaka telah menembus area sensitif nomor satu nya.


Aira hanya bisa pasrah, karena ia juga menikmatinya.


Sambil menggoyangkan tubuhnya dengan pelan, Arnel mencoba mencium bibir istrinya, Aira mengatupkan bibirnya menolak berciuman.


"Tidak sayang, aku belum kumur-kumur," ucap Aira sambil menggelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan saat Arnel terus mencoba mencium.

__ADS_1


Arnel menangkap pipinya, lalu memaksa mencium bibir itu, yang akhirnya ia pun menikmati, hingga ia lebih agresif mencium dan mengisap bibir dan lidah suaminya itu.


Semakin panas nya ciuman itu, membuat gairah cinta semakin membara, mereka berdua pun menikmati waktu yang indah hingga mereka tertidur kembali.


__ADS_2