
Malam ini di meja makan rumah keluarga Damrah terlihat begitu sunyi, tanpa ada yang berbicara. Walaupun semuanya ada di rumah, bahkan berada satu meja, tidak seperti biasanya membuat Aira merasa ada yang aneh dengan suami dan anak-anak nya sejak tadi sore.
Dentingan suara sendok dan piring yang menghiasi malam itu, bahkan biasanya Humaira setidaknya akan protes saat Ronald mengambil lauk di depan nya, tapi dia diam tanpa kata.
Di tengah-tengah makan, Aira meletakkan sendok nya, ia mulai kesal dengan tingkah laku penghuni rumah ini sejak sore. Ia sampai memikirkan tanggal dan hari apa sekarang, mungkin ia sedang ulang tahun atau sengaja dikerjai untuk diberikan kejutan, pikirnya dengan sangat keras.
Setelah ia mengingat, tidak ada hari spesial hari ini, ia menghela nafas kasar, menghentikan makannya, meminum setengah gelas air putih dan mulai menatapi wajah-wajah yang berada di meja makan itu, wajah mereka sungguh terlihat aneh dari pada biasanya.
Sebagai seorang ibu dan istri, ia mengenal betul sifat mereka. Bahkan sifat Ronald yang baru serumah dengan mereka, ia mulai mengetahui walaupun tidak seluruhnya seperti ia mengenal putra dan putri nya.
"Bagaimana dengan pekerjaan kalian hari ini?" ucap Aira memulai berbicara.
Tidak ada yang menjawab, Aira merasa kesal sekarang.
"Apa kalian marah pada ku?" tanya Aira.
Agung menghentikan sendok yang hampir masuk di mulutnya, dan meletakkan kembali sendok berisi nasi itu kedalam piring, ia menghela nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan ibu nya.
"Mama banyak berpikir, untuk apa kami marah pada mama, sebenernya cukup baik-baik saja pekerjaan kami, tapi..." ucap agung, lalu ia menghentikan ucapannya dan melanjutkan makannya.
"Tapi apa?"
Agung tidak menjawab lagi, ia melirik ke arah Arnel dan Ronald, begitu pula Ronald yang ditatap kembali menatapnya dan menatap Arnel, sedangkan Arnel tidak melihat siapapun, bahkan sepertinya tidak peduli dengan pembicaraan ini. Membuat Aira curiga, kalau diperusahaan Arnel mengalami masalah serius.
"Apa papa mu kalah tender?"
"Iya," jawab Agung singkat.
Aira mengerutkan keningnya, sangat jarang suaminya kalah dalam berbisnis, ia yakin yang mengalahkan suaminya pasti bukan orang biasa, di lihat dari reaksi nya dia sangat terpukul. Mungkin karena tidak pernah kalah, jadi dia seperti ini, batin nya.
__ADS_1
"Kalah bagian proyek yang mana? atau tentang peluncuran produk baru?" tanya nya lagi.
"Itu....." ucap Agung, tapi ucapannya terpotong oleh Arnel, sehingga ia belum sempat menyelesaikan jawabannya.
"Aku sudah selesai makan, kalian bisa melanjutkan nya," Arnel berkata sambil meletakkan sendok di piring, mengelap bibirnya dengan tisu, lalu berdiri dan menuju ke dalam kamar nya.
Mereka berempat hanya melihat sekilas kepergian Arnel, lalu melanjutkan makanannya.
Apakah tender yang tadi itu tidak penting buat papa? bukannya papa sangat suka dengan lukisan itu? kenapa papa tiba-tiba mengalah dengan pria itu? siapa pria itu? Agung berkata dalam hatinya.
"Ma," panggil nya.
Aira menoleh dan menatap putranya yang gugup saat berbicara dengan nya saat ini, membuat ia semakin yakin kalau ada masalah dalam perusahaan.
"Iya sayang, apa kamu ingin mengatakan sesuatu? oh ya, tadi kamu belum jawab pertanyaan mama. Kalian kalah di bagian proyek yang mana? atau tentang peluncuran, atau yang mana sih?" tanya Aira.
"Itu ma.... anu... mama ingat gak? papa merencanakan tentang gerbang ke lima danau hijau buatan?"
"Tidak tante, aku tidak punya masalah. Sebenarnya aku hanya sedih kecewa dengan keputusan paman, ini adalah proyek pertamaku. Tapi, paman sepertinya mengalah pada seseorang, dan..." jawab Ronald, kemudian menghentikan ucapannya.
"Dan apa?"
Ronald hanya diam saja, menunduk dan tidak ingin menjawab lagi. Aira kemudian menatap Agung berharap mendapatkan jawaban, ia merasa kesal sekarang dengan suaminya, bagaimana mungkin suaminya menjadi begitu egois kepada anak temannya sendiri.
Apa dia menjadi bodoh? atau dia mulai kesal dengan Rido? lalu dia membalasnya kepada Ronald dengan memberikan proyek kepada orang lain? suamiku sungguh egois dan kekanak-kanakan, batinnya.
"Bisakah kamu ceritakan lebih detailnya nak? mungkin mama bisa membicarakan nya dengan papa. Sepertinya papa mu akhir-akhir ini menjadi bodoh."
"Tadi setelah kami makan siang, sekitar jam dua, kami dikejutkan kedatangan dua orang tamu dari keluarga Admaja, dan kami tiba-tiba harus melakukan rapat sampai jam empat sore, itu pun masih banyak yang protes seperti nya."
__ADS_1
Aira terdiam dan berpikir keras saat ini, apalagi saat Agung mengucapkan nama Admaja.
Apa Yuhen datang ke perusahaan? ia ingin mengacau? apa yang ia inginkan? tentang gerbang ke lima? apa jangan-jangan....?
"Lalu, setelah kami berkumpul. Kami diperkenalkan dengan mereka, mereka berdua memiliki 40% saham di PT.ARYANDO.Tdk, ini sangat aneh bukan ma?" sambung Agung sambil bertanya kepada Aira.
40%? kenapa bisa? bukankah perusahan Aryando dimiliki suamiku dan Rido saja? kenapa ada orang lain? kenapa aku tidak pernah tau?
"Siapa mereka? mama sungguh tidak tau, setau mama perusahaan itu dirintis oleh papa dan dad mu!"
"Kalau tidak salah nama dia Andi Sutomo Admaja dan Alex Fernando Admaja, sepertinya mereka anak dan ayah, aku mendengar Andi dipanggil ayah oleh nya."
Aira sungguh terkejut mendengar nya, bukan hanya Aira tapi Humaira juga lebih terkejut lagi mendengar nama yang disebutkan kakak laki-laki nya itu.
Apa? Andi Sutomo Admaja? apa aku salah dengar? sejak kapan keluarga Admaja mempunyai anak bernama Andi? Aira berkata dalam hati
Apa? Alex Fernando Admaja? apakah dia teman sekelasku si murid baru? pikir Humaira.
"Apakah Andi itu sudah tua? kira-kira berapa umur mereka?"
"Sepertinya kalau Andi mungkin hampir setua papa, sedangkan Alex seperti nya masih kuliah lebih muda dari kami tampang nya, iya kan Ron?" jawab Agung sambil menyikut siku Ronald.
Apakah dia Andi teman satu sekolahan dulu? apakah mungkin dia menjadi keluarga Admaja? bagaimana mungkin?
"Lalu kedatangan mereka ingin mengambil apa? bukan kah mereka mempunyai saham disana? bukannya mereka dapat untung? kenapa mereka ingin mengambil proyek pertama Ronald?"
"Mereka bukan hanya mengambil proyek yang sedang dikerjakan Ronald, tapi juga mengambil alih pembuatan rumah kenangan yang akan di bangun digerbang ke lima. Dan lebih kesal nya lagi, ia tidak bersedia lukisan itu dipajang disana."
"Aku sangat kesal saat itu, apalagi saat itu papa tidak mencoba membela kami, papa membiarkan mereka berkuasa. Bukan kah artinya papa meragukan kinerja kami dalam bekerja? ia memberikan wewenang begitu saja kepada mereka? emangnya siapa mereka?" ketus Agung.
__ADS_1
Aira terdiam mendengar ucapan Agung, wajahnya berubah jadi masam.
Kenapa dengan mama? kenapa mama menjadi diam begini? apa mama saat ini juga ingin membela papa? biasanya mama gak akan bela papa kan, kalau jelas-jelas salah begini? aku benarkan? batin Agung.