(Masih Revisi) Danau Hijau Buatan Kakek

(Masih Revisi) Danau Hijau Buatan Kakek
Menjahili Humaira


__ADS_3

"Gerbang ke lima terletak di kolam pribadi milik papa, nanti di sana akan dibuat beberapa tempat barang-barang antik, dan rumah kenangan tiga lantai."


"Lantai pertama kusus untuk tamu yang akan menyimpan kenangan mereka, lantai pertama rencana akan dibuat sangat luas agar bisa menerima beberapa benda kenangan para tamu yang berkunjung."


"Lantai ke dua rencana nya pengenalan seni lukis dan seni potret, sedangkan lantai tiga adalah tempat pribadi yang dikhususkan bukan untuk tamu kunjungan."


Seluruh Area kolam pribadi milik papa akan di pagar dengan tinggi, agar orang-orang jahil tidak memasuki pekarangan kita, karena jaraknya tidak terlalu jauh dari gerbang rumah kita.


Dari gazebo yang berada ditengah kolam itu, akan di buat jalan panjang sampai ditepi danau gerbang pertama, di samping gerbang pertama lah akan di buat gerbang ke lima.


Di sepanjang jalan itu, kita membutuhkan ide-ide cemerlang dari kalian, tentang danau pribadi milik papa, itu akan diberi pagar pelindung dan kusus mawar-mawar yang di dekat kolam itu akan di buatkan rumah kaca beratap matahari, supaya tidak di rusak oleh tamu jahil."


"Apakah kalian paham?"


"Tentu, terimakasih paman. Sekarang saya sudah tahu maksud paman. Kami semua hanya perlu menambahkan ide dari ide utama."


Arnel segera menyelesaikan makanan nya, dan mengakhiri pembicaraan nya dengan mereka. Ia segera menuju ke kamar kembali, ia masih merasa lelah karena olahraga sore bersama Aira tadi.


Ia berbaring di atas kasur, menghadap ke langit-langit kamar dengan beberapa pikiran yang menerawang, perlahan pikiran itu mulai redup, mata nya mulai sayup dan akhirnya ia tertidur.


Aira masih terkejut dengan jawaban Arnel, ia duduk di teras sambil memegang buku dengan segelas air mineral hangat.


Ada apa dengan suamiku? kenapa dia ingin menjadikan tempat pribadi nya menjadi kunjungan publik?


Aira masih melamun dengan pikirannya, membuat Humaira menjahilinya yang sedari tadi melihatnya.


Cilubba... Humaira mengagetkan Aira.


"Kamu, ngagetin aja deh!" ucap Aira terkejut.

__ADS_1


"Mama sih, malah melamun. Mikirin apa sih ma? papa aja di kamar kok lagi tidur tuh, ngapain juga di pikirin. Pergi ke kamar nanti juga jumpa."


"Gadis ini, siapa juga yang mikirin papa, mama cuma mau bersantai aja kok." jawab Aira sambil mencubit lengan putrinya pelan.


Humaira duduk di samping kursi mama nya, mulai bercerita tentang sekolah dan anak baru. Saat mendengar nama anak baru membuat Aira terkejut.


"Di kelas ku ada murid baru, mereka dua saudara namanya Alex Admaja dan Oxcellya Admaja," kisah Humaira.


Keluarga Admaja? atau hanya kebetulan sama nama?


"Mereka pindahan mana?" tanya Aira.


"Dari luar negri ma, mereka baru pulang. Tapi mereka sangat sombong dan angkuh."


Apa jangan-jangan anak Yuhen? mereka juga baru pindah dari luar negri.


"Tapi tenang ma, putri mama ini anak baik dan pintar di sekolah, mereka tidak akan bisa menjahatiku, mereka tidak akan menyombongkan diri padaku," ucap Humaira dengan angkuh.


Humaira juga kembali menonton dengan Bi Mona dan bi Susi diruang tengah, sedangkan Agung dan Kakek Ari asik bermain catur.


Di dalam kamar, Ronald sibuk video call dengan mama dan papa nya, kemudian dari pacar baru yang ia dapat dari rapat beberapa hari lalu.


Orang tampan memang laku keras, itulah gambaran yang cocok untuknya. Tapi selama ini ia hanya bermain-main dan suka berganti perempuan seperti pakaian.


Satu jam menonton Aira mulai merasa ngantuk, ia berjalan dengan langkah gontai sambil menguap ke kamarnya, ia berpapasan dan menabrak Ronald. Ia terkejut dan membuka mata lebar, kemudian memaki-maki Ronald.


Ronald mengerutkan keningnya, adik temannya ini selalu saja marah dan memaki-maki nya setiap saat, masih saja berdendam padanya, padahal ia sudah berusaha sebaik mungkin di depan gadis remaja itu.


"Gunakan matamu! kalau jalan tuh lihat-lihat, jangan nabrak orang!"

__ADS_1


Yang nabrak siapa? bukannya dia yang nabrak aku? kok marah ke aku sih! mending aku ngalah aja, makin repot ntar urusan nya.


"Maaf dik, tadi kakak terburu-buru," jawab Ronald masih bersifat manis.


"Banyak alasan, sana minggir! ucap Humaira sambil mendorong tubuh Ronald.


Ini gadis kayaknya harus aku kasih pelajaran sekali-kali, mumpung agung gak ada, biar aku lihat gimana reaksi nya.


Ronald memegangi tangan Humaira yang mendorong dada nya itu, ia terus memegang dan menariknya, ia memepet tubuh Humaira ke dinding, kemudian menaikan kedua tangan Humaira itu keatas.


Aku ingin lihat gimana reaksi mu gadis kecil.


Ia mendekatkan tubuhnya lebih dekat dengan Humaira, sampai ia mendengar degupan jantung Aira yang begitu cepat, nafas nya begitu memburu, sepertinya gadis remaja itu sedang ketakutan atau cemas setidaknya.


Ya Tuhan, mau apa laki-laki asing kurang ajar ini, apa yang mau dia lakukan? jangan sampai ia berniat memperkosaku? aku tidak mau! apa yang harus aku lakukan? apa aku berteriak minta tolong aja sekarang? tapi apa mungkin orang-orang akan percaya? kalau sampai ia menarik bajuku, baru lah aku berteriak, pikir nya.


Melihat reaksi Humaira seperti itu, Ronald semakin agresif, mendekatkan bibirnya ditelinga Humaira dan menghembus telinga itu pelan beberapa kali. Kemudian ia berbisik.


"Jangan main sentuh-sentuh aku lain kali, kalau kau masih sentuh aku, apalagi dorong aku seperti ini, aku akan melakukan lebih dari ini."


"Mungkin, aku akan menggigit bibir mu yang memaki ku ini," ucap nya sambil melepaskan tangan Humaira dan mengelus bibir Humaira dengan jemarinya.


Lembut dan seksi juga bibir gadis kecil ini, kalau bukan adik temanku! sudah ku cium bibirnya yang memaki-maki ku setiap bertemu dengan nya.


Humaira berlari sekencangnya, masuk kedalam kamar setelah tangannya dilepaskan oleh Ronald. Ia mengunci pintunya rapat, jantungnya berdebar ketakutan.


Ia menuju ke kamar mandi, mencuci bibir nya, menggosok gigi dan mencuci muka, ia meraba bibir nya, ia sangat marah dan jijik sekali bibir nya dipegang oleh laki-laki yang sangat ia benci dari kecil.


Ia memaki-maki Ronald dalam hatinya, ia segera menuju kasurnya, bersembunyi menutup seluruh tubuhnya dengan selimut sambil memaki-maki Ronald dengan sumpah serapah.

__ADS_1


Ronald yang melihat Humaira berlari dengan cepat ke dalam kamar membuat ia terkekeh, ia tertawa kecil sambil berjalan menuruni tangga mencari Agung dan Kakek Ari yang bermain catur di teras atau kebun belakang, biasanya.


Hehehehe... lucu sungguh lucu, gadis kecil lain kali kalau kamu masih galak, aku kasih pelajaran yang lebih lucu lagi, lucu sekali muka nya sampai setegang itu tadi, ia sampai berkeringat. Batin Ronald.


__ADS_2