(Masih Revisi) Danau Hijau Buatan Kakek

(Masih Revisi) Danau Hijau Buatan Kakek
Pemilihan OSIS Baru


__ADS_3

Aira segera menyimpan sapu tangan dan kembali ke ruang tengah, ia tidak ingin menggangu mertuanya, mungkin ia butuh waktu menenangkan diri, batinnya.


Tidak terasa waktu berlalu hingga sore pun datang, Humaira dengan wajah riang bersenandung masuk ke dalam rumah dengan pakaian sekolahnya yang baru pulang sekolah.


"Sore ma," ucapnya sambil mengecup pipi ibu nya. Lalu ia duduk di sofa melepaskan tas nya.


"Sore sayang, gimana di sekolah tadi?"


"Lancar ma, tapi ada pemilihan OSIS baru," jawabnya sambil melepas sepatu.


"Apa putri mama juga terdaftar?"


"Males ma, capek aja tuh! ngerepotin jadi OSIS, gak bebas.


Aira termenung beberapa saat, sampai iya tersadar dengan tangan Humaira yang melambai-lambai di depan wajah nya, untuk membangunkan lamunannya.


"Mama kenapa ya? kok malah melamun sih! capek aja deh aku ngomong dari tadi," sungut Humaira.


"Maaf sayang, tadi mama ke ingat saat papa dan paman Rido ikut daftar OSIS di SMP, tapi malah jadi rusuh."


"Benarkah ma? Ayo kita di meja makan ma ceritanya, sambil makan ya! aku lapar." ajak Humaira.


"Ganti baju dulu sana, susah nanti nyuci nya, baju warna putih gini," ucap Aira sambil menarik lengan baju berwarna putih itu.


"Besok juga gak pake baju putih lagi ma, gak apa-apa lah kotor."


"Ya sudah mama gak jadi cerita deh!"


"Iiiihh... mama! ok, aku ganti baju, ucap Humaira sambil membawa sepatu dan tas nya berlari ke lantai atas menuju kamar nya.


Beberapa menit kemudian, Humaira turun dengan baju santai, rambut disanggul tinggi, duduk disamping Aira yang telah menunggunya.

__ADS_1


"Ayo ma kita cerita sambil makan, penasaran deh," pinta Humaira.


Humaira mengambil nasi dan lauk ke dalam piring, sedangkan Aira hanya memotong beberapa buah memasukan nya ke dalam piring dengan di temani segelas es teh.


Akhirnya Humaira selesai makan sampai kekenyangan, setalah ia makan sepiring nasi dengan lauk, ia mulai memakan buah yang dikupas oleh Aira. Karena asik mendengar Aira bercerita, ia terus memasukkan buah ke dalam mulutnya.


Tidak lama setelah itu, Arnel juga pulang dari bekerja. Aira segera membantunya melepaskan jas dan mengiringinya masuk ke dalam kamar untuk berganti baju.


Sampai di dalam kamar. “Cup!” satu kecupan di kening Aira dari Arnel, lalu ia membuka kancing baju kemejanya yang juga di bantu Aira.


"Sayang sudah mandi?" tanya Arnel.


"Belum."


Arnel tersenyum penuh makna, memegang dagu Aira mengangkatnya sampai terdongak, lalu mencium dagu itu, dan turun ke bibir. Aira menggelayutkan sebelah tangannya di leher Arnel, dan sebelah lagi menepuk-nepuk pipi Arnel pelan sambil menjulurkan lidah meledek suaminya itu.


"Coba keluarkan lagi lidahnya," pinta Arnel.


Arnel menggelitik Aira sampai ia tertawa dan lupa mengatupkan bibirnya, Arnel tersenyum langsung menangkap wajah istrinya dengan segera ia mengecup bibir itu, dan menggigit bibir bawah nya pelan.


"Aduh sakit sayang!" Ringis Aira sambil memukul dada Arnel.


"Siapa suruh tadi berani menepuk pipiku dan menjulurkan lidah," jawab Arnel sambil mencubit pipi Aira.


"Ayo kita mandi bareng sayang," sambung Arnel.


"Gak mau!"


"Kenapa?"


"Ngapain tadi di gigit, sakit tau!"

__ADS_1


"Ya udah, nanti gak sakit lagi, sini di obati sayang," ucap Arnel sambil mendekati dan memeluk Aira. Ia mengelak, ia tahu akan tujuan suaminya. Tapi usaha nya goyah juga karena ia sendiri sangat tergoda dengan kehangatan Arnel.


Arnel yang hanya memakai celana, segera membuka celananya dan tersisa ****** *****. Ia membantu Aira membuka baju dan juga menyisakan pakaian dalamnya, lalu ia segera menggendong Aira menuju kamar mandi.


"Sayang, turunin! masa ke kamar mandi di gendong! aku bisa jalan sendiri!"


"Udah, jangan bawel! jangan gerak-gerak nanti jatuh."


Mereka mandi dengan kehangatan, saling gosok dan saling sabun. Tapi, belum selesai mandi bersih. Arnel segera menyiram bersih tubuh nya dan tubuh Aira. Segera mengambil handuk dan membuka pintu, mengangkat tubuh Aira ke sofa.


"Sayang, kok gendong aku keluar lagi? aku belom bersih mandinya, belum selesai," protes Aira dalam pangkuan.


Arnel tidak menjawab, ia segera menciumi tubuh istrinya yang masih basah itu, mata nya sayu dan ******* bibir istrinya cukup lama, tangan nya mulai nakal kesana kesini, membuat Aira sangat mengerti mengapa suaminya tergesa-gesa mengangkatnya ke sofa.


Aira membalas ciuman itu, sehingga ciuman itu begitu panas, nafas mereka berdua memburu, Arnel sudah dalam masa tegangan tinggi, ia membuka ****** ***** nya dan menarik ****** ***** istrinya yang basah karena mandi yang belum selesai itu, atau mungkin juga bertambah basah karena ciuman panas mereka.


Mereka melakukannya dengan penuh semangat, hingga sampai pada rasa paling ternikmat. Arnel kelelahan, ia segera mengatur posisi duduk bersandar di sofa, begitu pula Aira juga bersandar di sofa.


Beberapa saat kemudian, mereka kembali mandi. Tapi tidak berdua lagi, sehingga mereka cepat selesai mandi. Setalah mandi, Aira menemani Arnel makan di meja makan.


Di sana juga telah duduk Agung dan Ronald yang sedang menikmati makanan bi Susi, sedangkan Aira asik menonton televisi sendiri di ruang tengah.


Mereka makan dengan nikmat sambil berbincang-bincang.


"Bagaimana dengan pekerjaan kalian?"


"Lancar pa, tapi Ronald ada yang kurang dia pahami katanya, saat kami tanya Dad ia suruh kami tanya papa."


"Oh, masalah apa Ronald?"


"Masalah tentang pengembangan Danau hijau buatan kakek, menurut proposal akan di buat gerbang ke lima, aku gak tau dimana paman. Soalnya, di dalam proposal terletak ditengah danau, apakah pondasi yang akan di buat gazebo itu? atau yang mana paman?"

__ADS_1


Arnel diam sejenak, berpikir tentang masa lalu, lalu ia menjawab pertanyaan Ronald. Membuat Aira terkejut mendengarnya.


__ADS_2