
Aku sangat terkejut saat melihat isi di dalam laci gadisku. 'Shit!' umpatku, aku bertambah kesal, rupanya banyak coklat dan surat cinta dari pemuda disekolah ini untuk gadisku. Saingan ku rupanya banyak juga, pikirku.
Aku juga menulis sesuatu dikertas, tanpa ku berinama, hanya nama inisial. Kemudian kurobek buku gambarku, disana ada gambar wajahnya ku gambar saat itu. Aku masukan kedalam laci nya juga diantara surat-surat yang banyak itu.
Aku sungguh gugup rasanya, dadaku berdebar-debar, seperti aku akan mengatakan cinta padanya, padahal aku hanya menulis dalam secarik kertas tanpa nama. Tidak berapa lama ia pun datang.
Aira keluar dari mobil dan segera menuju ke ruang kelas, disini aku telah duduk dan tersenyum kearahnya didepan pintu kelas. Ia terus berjalan mendekati bangkunya yang bersebelahah dengan bangku ku.
"Hai Aira, selamat pagi. Kamu datang sedikit terlambat hari ini, biasanya kamu lebih duluan datang dari pada aku." tanyaku padanya, untuk berbasa-basi agar kegugupanku menghilang.
"Iya, tadi aku terlambat bangun tidur." jawabnya dengan nada datar seperti biasa.
"Lihatlah laci mejamu, para penggemar mu sepertinya semakin hari semakin menggila dan bertambah banyak. Ada beberapa surat dan juga ada hadiah mungkin, aku juga melihat ada coklat."
Aira meletakan tas nya diatas meja dan mengambil semua surat dan hadiah didalam laci itu. Lalu berjalan mendekati tong sampah di sudut paling belakang kelas, khusus tong sampah kering.
Sungguh, tiada ku sangka ia malah membuang semuanya. Di sana ada surat dariku juga, wajahku hambar melihat suratku juga ikut dibuang.
"Hei Aira apa yang kau lakukan? jangan dibuang, itukan sayang coklatnya dibeli loh, sini buat aku saja! biar aku makan semua coklatnya." ucap Wanda.
"Untuk apa mengambil hadiah orang lain, hadiah itu bukan untukmu, jika kamu suka coklat aku bisa memberikanmu coklat berapapun. Untuk apa memakan coklat pemberian orang lain." ketus Andi yang baru jadian 3 hari yang lalu dengan Wanda.
__ADS_1
Mereka berdebat, belum usai mereka berdebat pemuda sombong telah muncul menghancurkan suasana hatiku pagi ini.
"Waw..." prak prak prak Rido bertepuk tangan sambil menaikkan kakinya keatas meja dengan wajah mengejek.
"Kutu buku, kutu buku, dasar kutu buku! Apa kamu sudah bercermin pagi ini? Aku kira kamu harus bercermin biar kamu sadar diri. Jangan sok cantik deh! Kamu seharusnya bersyukur masih ada orang bodoh yang mau mengirimi kamu surat dan memberi hadiah, hahahahah." ucapnya sambil tertawa.
Aira hanya diam mendengarkan Rido menghinanya dan melanjutkan membuang semuanya kedalam tong sampah. Aku sungguh kesal mendengar pemuda sombong itu!
Pemuda egois yang sedari tadi mendengar didepan pintu, kini masuk kedalam kelas dengan diam dan duduk di bangkunya. Lalu berbantal tangan, tidur menelungkupkan kepalanya kedalam meja. "Ah dasar cewek desa bodoh ini! kenapa dia diam saja ditindas sama si Rido brengsek ini." ucapnya pelan, tapi aku mendengarnya jelas.
"Aduh malah dibuang semua, kan sayang mubazir." Wanda masih tidak terima hadiah-hadiah itu dibuang oleh Aira.
"Ya sudah, aku belikan kamu coklat ,es krim, bakso ,sate deh atau apapun yang kamu mau dan jangan minta atau terima hadiah dari orang lain!" Andi berkata ketus.
"Karena sampulnya berwarna pink." jawabnya pendek. Aku sungguh tidak mengerti akan jawabannya, "Maksudnya?" Aku bertanya kembali padanya.
"Ya,jelas. Kalau pink itu surat cintalah! Kalau berwarna warni begini, terus kertasnya wangi dan lipatnya begini. Itu sudah pasti surat cinta, aku tidak akan membalas mereka satupun. Bukan ingin menolak atau menerima mereka, tapi aku masih sekolah dan masih SMP lagi. Mungkin nanti jika aku tamat SMA baru aku balas." jawabnya membuatku tersenyum, berarti aku banyak kesempatan.
Berarti dia tidak akan pacaran sampai tamat Sekolah Menengah Atas, pikirku. "Tapi benar tu kata Wanda, mubazir juga, mereka sudah memberi setulus hati loh, mungkin jika menerima hadiah itu mereka akan sangat senang, mereka merasa dihargai walau tidak dibalas suratnya." Aku mencoba menyela ucapannya, sekalian aku ingin tahu hadiah apa yang ia inginkan
"Tapi, jika aku terima hadiah mereka, mereka akan memberikan aku surat dan hadiah lagi, lagian aku bukan penikmat makanan manis juga seperti coklat itu. Sudahlah, jangan membahas hadiah mereka, aku mau membaca buku ini dulu." balasnya.
__ADS_1
Aku hanya bisa diam menatap wajahnya yang asik membaca buku. Aku ingin sekali mengatakan perasaanku padanya, aku kawatir pemuda-pemuda disekolah ini menjadi nekat, apakah mereka tulus menyukai gadisku? atau hanya ingin memanfaatkan kepintaran gadisku.
Ya, gadisku cukup terkenal karena pintarnya, bukan cantiknya. Hanya aku yang melihatnya cantik seperti bidadari dari surga. Yang lain, jangan pernah melihat gadisku. Aku tidak sudi berbagi.
___
Keesokan paginya.
Pagi ini aku telat masuk kedalam kelas, bukan karena aku lalai ataupun telat bangun. Sebenarnya aku sudah bangun pagi sekali, aku telah menyusun kata-kata yang bagus untuk gadisku, aku bahkan bercermin entah berapa kali. Hari ini gadisku ulang tahun.
Aku tidak tau apa yang ia suka, aku tidak tau hadiah apa yang bisa membuatnya senang. Jadi, aku membelikan dia boneka. Biasanya, wanita suka boneka atau coklat kan? karena dia tidak suka yang manis, saat itu ia berkata. Aku berpikir untuk memberikannya hadiah boneka.
Aku membeli boneka kelinci, menurutku itu sangat lucu, walaupun itu banyak orang bilang logo Playboy, tapi itu tidak benar. Aku tidak playboy. Aku sungguh tidak sabar, mudah-mudahan dia suka, aku sangat berharap.
Aku dengan cepat sampai hari ini, aku turun di gerbang sekolah. Sopir dan 2 bodyguard ku menunggu di tempat parkiran, kadang mereka menunggu di kafe dekat sekolah. Aku masuk kedalam sekolah.
Diperjalanan aku dihadang oleh pemuda sombong itu dengan segerombolan teman-temannya. "Aku ingatkan kau, menjauhlah dari Una, jangan pernah mencoba menggodanya!" ia mengancam ku." Aku sungguh muak mendengarnya. "Kalau kamu suka ambil, aku tidak pernah suka dengannya sedikitpun."
"Sombongnya kau!" Ia langsung mendorongku, hadiah yang ku pegang terjatuh. Ia mengambil dan membukanya, ia menertawakan hadiahku, lalu membuang boneka itu. Aku sangat marah.
Bukan aku takut, ia bersama dengan teman-temannya lebih dari 15 orang, sedangkan aku hanya satu orang. Aku tidak ingin membalas pemuda sombong itu lagi, aku hanya diam melihat bonekaku.
__ADS_1
Ia mengambil tas dan mengobrak-abrik tasku, tapi untung ia tidak mengambil buku yang baru ku beli, buku itu memang belum sempat aku bungkus. Untung saja.
Gerombolan mereka akirnya pergi setelah menggangguku, aku merapikan tas dan pakaianku. Aku hanya bisa tersenyum mendapati sifat mereka, buat apa merasa jagoan, kalau hanya berani rame-rame dan tidak bisa bertanggung jawab.