(Masih Revisi) Danau Hijau Buatan Kakek

(Masih Revisi) Danau Hijau Buatan Kakek
Berjumpa Paman Yangki


__ADS_3

"Bagaimana kabar yang lain? aku tidak pernah mendengar kabar yang lain setelah si kembar meninggal. Saat itu aku harus keluar negri," tanya Hasan.


"Sekarang cuma tersisa aku, Syafrial, dan Yoshri."


"Apakah Yoshri masih sibuk di pekerjaan nya, mengotak-atik laboratorium?" Hasan bertanya kembali.


"Itu lah kesukaan dia dari dulu, dia terlalu terobsesi, tidak sadar waktu terkadang."


"Itu semua gara-gara kau tua bangka, kalau bukan kau yang memaksa dia dari dulu, dia tidak akan terobsesi begini. Huh!" maki Hasan.


Kakek Ari hanya terkekeh mendengar Hasan.


"Kalau Syafrial gimana?" Hasan bertanya kembali.


"Tua bangka itu, masih saja gila mengejar dunia dan bermain perempuan, entah berapa banyak istrinya sekarang. Yang dipakainya saja 3 orang setahuku, bahkan yang paling terakhir ia kenalkan denganku masih muda, mungkin istrinya sama besar dengan putrimu Wanda."


"Dasar tua bangka, sudah bau tanah. Hahahahaha. Gila!" Hasan tertawa terbahak-bahak sampai kumis nya yang tersusun rapi berwarna putih itu juga ikut bergoyang-goyang.


"Mungkin hanya kita berdua yang setia," ucap Kakek Ari dengan wajah serius.


"Mungkin... tapi sebenarnya mereka semua juga kesepian seperti kita, mereka melampiaskan dengan kesibukan, sedangkan kita tidak bisa melampiaskannya, karena terlalu indah untuk di lupakan, ataupun di gantikan dengan pelampiasan bukan?" tutur Hasan.


Percakapan mereka terhenti saat kedatangan Humaira.


"Kakek, semua masakan sudah siap di hidangkan, ayo kita ke ruang makan," ajak Humaira.


Mereka semua berkumpul di meja makan, yang paling terakhir bergabung adalah Alex, Ronald, dan Agung. Mereka sudah terlihat sedikit dekat sekarang, walaupun masih terlihat sedikit canggung.


Mereka makan dengan lahap sampai semua makanan habis, dan menyisakan piring kotor. Para pria kembali dengan aktivitas nya masing-masing, sekarang Aira, Wanda dan Humaira sedang bersih-bersih di dapur bersama Bi Mona.


Setelah rapi, mereka bertiga duduk di ruang TV, duduk bersantai disana, sambil menonton dan menikmati cemilan.


"Ma, Bi Wanda, Apakah setelah kalian tamat SMA gak jumpa paman Yangki lagi? saat aku tanya Kakek dan Papa, mereka mengalihkan pembicaraan."


"Aku sangat penasaran dengan paman Yangki, ingin rasanya berjumpa," Humaira berkata.


"Kami tidak pernah bertemu lagi," jawab Wanda.


"Oh, bukankah kalian semua sangat dekat dengan paman ya? apakah tidak mendengar kabar apapun?"


"Jika bertanya yang lebih kenal tentang paman Yangki, yang lebih jelas tanya mama mu aja, Nak," balas Wanda.


Humaira menatap dengan tatapan memohon ke arah Aira. Ia sangat ingin bertemu dengan orang yang bernama Yangki, bahkan gerbang ke 5 danau hijau buatan saja kusus di kenang untuknya. Bukankah ia begitu penting?


"Baiklah, besok mama akan mengajakmu bertemu dengannya."


___

__ADS_1


Keesokan harinya, Aira mengajak Humaira bertamu ke rumah keluarga besar Admaja. Ia langsung di sambut hangat oleh Selly, dan Yuhen.


"Hai Humaira, hai Tante, silahkan masuk."


"Bagaimana kabarmu Ra," sapa Yuhen.


"Alhamdulillah, aku baik kak. Bagaimana juga dengan kabar kakak?"


"Ya begitulah, masih seperti biasa. Ini putrimu dengan Arnel?"


"Iya kak."


"Cantik sepertimu."


Wah, genit juga ya papa nya Selly. Wajar aja kalau papa suka marah-marah kalau lihat mama diam-diam pergi ke sini sendirian, kakak nya aja godain mama begini, bagaimana dengan godaan Paman Yangki? pasti lebih lagi nih! Humaira bermonolog dalam hati.


"Kakak bisa aja, bagaimana dengan kabar istri kakak? aku tidak pernah berjumpa dengannya sejak kita bertemu."


"Oh, dia baik. Dia sedang di luar negri."


___


Selly membawa minuman dingin untuk mereka dan menghidangkannya, kemudian duduk di samping Humaira.


"Apa kamu ingin berjumpa Alex juga?" tanya Selly.


Wajah Yuhen, Selly berubah saat mendengar jawaban Humaira.


"Kamu yakin? emang kamu kenal sama pamanku? tanya Selly sinis.


"Belum lah, makanya pengen kenalan sama paman Yangki," balas Humaira dengan senyum riang.


"Oh, begitu ya. Baiklah, habiskan lah minumannya dulu. Paman akan ajak kamu bertemu paman Yangki." jelas Yuhen.


"Baiklah Paman," Humaira berseru ria.


Beberapa saat kemudian, Yuhen mengajak mereka kebelakang rumah, ia membuka sebuah gerbang kecil, lantas di gerbang itu ada jalan kecil beralas batu-batu kecil, di sana di penuhi dengan mawar-mawar merah dan putih.


Humaira teringat, bunga mawar merah dan putih yang sangat mirip dengan mawar-mawar yang ada di kolam pribadi milik papa nya, rencananya kolam itu akan menjadi salah satu tempat pariwisata di gerbang ke 5 danau hijau buatan.


Ia melihat sekeliling, air yang mengalir, dan begitu banyak tumbuhan lain, tempat itu begitu terawat. Begitu indah, gumam Humaira.


Kemudian ia sampai di sebuah rumah kaca, di sana begitu banyak lukisan-lukisan, begitu banyak hadiah-hadiah, dan begitu banyak surat-surat yang di tempel.


"Kemarilah, paman akan mengajakmu melihat rumah kaca Paman Yangki dulu, sebelum bertemu dengannya," ajak Yuhen.


Humaira dan lainnya mengikuti Yuhen, setelah memasuki rumah kaca itu, Aira dan Selly hanya duduk di bangku dekat bunga rose, mereka tidak ikut berjalan melihat-lihat rumah kaca, karena mereka sering berkunjung kemari.

__ADS_1


Berbeda dengan Humaira, ia sangat antusias. Ia berjalan kesana kemari memutari rumah kaca itu, ia berdecak kagum.


"Indah, sungguh indah paman," serunya.


"Apa kamu ingin membaca surat-surat ini," tanya Yuhen.


Humaira mendekati tumpukan surat-surat yang tersusun rapi itu, begitu banyak surat cinta, bahkan belum di buka sama sekali. Ada beberapa yang di buka, itu sangat lucu, begitu banyak hadiah dari penggemarnya.


"Wah, Paman Yangki pria yang keren ya, banyak dapat surat cinta."


Humaira membaca beberapa surat, ia tertawa terbahak-bahak, orang zaman dulu kalau menulis cinta harus pakai pantun dan puisi. Bahkan pantunnya sangat lucu.


"Ini surat kusus," tunjuk Yuhen.


Humaira membuka dan melihat surat, surat itu hanya tertuju kepada mama nya. Humaira membaca surat itu, tanpa terasa air matanya mengalir.


"Apakah Paman Yangki begitu sangat mencintai Mamaku, Paman?"


Yuhen mengangguk.


"Apakah Paman Yangki tidak berani mengutarakan cintanya, sehingga akirnya Mamaku dengan Papaku bersama?"


Yuhen lantas tersenyum, dan menghela nafas panjang yang sangat dalam. Seketika ada benda berat yang menghantam dadanya, sehingga ia merasa berat dalam mengambil nafas.


"Ia telah mengutarakannya, Nak."


"Lalu, Mamaku menolak karena mencintai Papaku?


"Mungkin, bisa jadi iya, bisa jadi enggak."


"Kok begitu sih paman?"


"Kenyataannya, Aira tidak menolak dan tidak menerimanya juga."


Kedua alis Humaira terpaut, menyiratkan keheranan.


"Jadi, intinya Paman Yangki di gantung Mamaku, terus ditinggal nikah? kejam juga Mamaku!"


'Heheheheh', Yuhen terkekeh. "Enggak kejam kok, kalau penasaran, ayo kita berjumpa Paman Yangki." ajak Yuhen.


Mereka keluar dari rumah kaca, kemudian menuju ketempat dimana Yangki berada, seluruh tubuh Humaira bergetar, kakinya merasa lemah untuk menopang tubuhnya.


"Paman, apa semua ini?" lirih Humaira.


Aira memeluk Humaira yang tiba-tiba meneteskan air matanya.


"Tenanglah sayang, dengarkan Mama dan Paman ya, kami akan memberitahukan semuanya kepadamu.

__ADS_1


__ADS_2