(Masih Revisi) Danau Hijau Buatan Kakek

(Masih Revisi) Danau Hijau Buatan Kakek
Keguguran


__ADS_3

Nelma di bawa ke rumah sakit. Malang yang menghadang, musibah yang tak bisa ia elakkan. Ia keguguran. Sebenarnya bisa dipertahankan dengan meminum obat penguat rahim, namun Ari meminta di gugurkan.


Ia membuat alasan pada Dokter. Nelma sungguh sangat kecewa. Cintanya pun mulai ternodai.


Nelma yang lembut, patuh dan akan selalu mendatanginya saat akan bekerja dan pulang bekerja, akan selalu datang di panggil walau dia sedang memeluk wanita lain dihadapannya, kini menjadi wanita acuh, pendiam dengan pandangan kosong.


“Apa ada yang kau inginkan?” tanya Ari saat makan malam bersama Nelma.


“Tidak ada,” jawab Nelma. Ia hanya fokus makan, tak melihat wajah Ari yang selama ini selalu ia pandangi dengan mencuri-curi.


Ari membuang nafas, “Kalau ada sesuatu yang kau inginkan, katakan saja.”


“Ya,” jawab Nelma datar. Bukan dia yang seperti biasa.


Biasanya dia akan menjawab ramah dengan senyuman. Kini, senyuman itu jarang Ari lihat sejak keguguran itu.


“Aku akan ke Luar Kota dua minggu ini.” tutur Ari, ia masih menatap respon Nelma.


Nihil, wanita itu masih berwajah biasa saja. “Ya,” jawabnya lagi dengan datar.

__ADS_1


Ari menggerakkan giginya, kesal. Nelma tak merespon apapun, biasanya wanita itu akan menunjukkan wajah sedihnya. Kali ini tidak. Ari berdiri, mengulangi perkataannya.


“Aku akan ke luar kota selama dua minggu ini.”


“Ya.” sahut Nelma dengan wajah yang masih datar.


Ari mendesah.


Nelma benar-benar tak peduli, mau seminggu bahkan sebulan. Hatinya lelah, ia terlanjur kecewa dengan perlakuan Ari selama ini. Palingan pria itu bersenang-senang dengan wanita manapun di sana. Untuk apa ia masih menaruh cinta pada pria yang tak ada rasa untuknya.


Untuk apa tinggal di istana, tubuh di hiasi perhiasan dan pakaian bagus, jika hati tak bahagia. Nelma hanya menginginkan balasan cinta dari suaminya, sangat sederhana.


Akhir-akhir ini pikiran Ari bercabang, ia merasa terganggu dengan sikap Nelma. Wanita yang memandangnya penuh cinta berubah menjadi wanita yang tak menaruh perasaan apapun padanya. Tatapannya tak lagi hangat.


“Rasyid, apa saja yang dilakukan Nelma di rumah?” Ari menelfon adiknya.


Untuk pertama kalinya Ari mengucapkan nama wanita yang ia nikahi itu kembali setelah menikahinya, membuat Rasyid pun terkejut. “Kakak ipar hanya menghabiskan waktu tiduran di kamar, Kak.”


“Hanya itu?”

__ADS_1


“Iya, kadang-kadang ia duduk di taman bunga mawar.” jelas Rasyid.


“Bunga mawar?” tanya Ari. Ia berpikir sejenak, di rumahnya tak ada taman bunga mawar.


“Kakak ipar menanamnya beberapa saat lalu di... di perbatasan antara tanah kita dengan kandang kerbau Pak Sulaiman.”


“Apa? Kenapa dia menanamnya di sana? Bodoh! Kenapa kau biarkan!” Nada suara Ari meninggi.


“Kakak Ipar terlihat masih sangat sedih Kak. Aku tak enak hati melarangnya. Mungkin dengan menanam bunga itu bisa menghiburnya.”


Ari menghela nafas panjang.


“Ya, tapi tak sejauh itu juga. Ia bisa menanamnya dekat rumah.”


“Baiklah, Kak. Aku akan mengatakan pada Kakak Ipar.” jawab Rasyid.


Ari memijat kepalanya. Ya, dia memang tak menyukai jenis bunga di halaman atau pun taman kecil di dekat rumahnya. Tetapi jika Nelma menanamnya di perbatasan dengan kandang kerbau Pak Sulaiman, bukankah itu jauh, setidaknya wanita itu harus mengayuh sepeda. Yang membuatnya lebih khawatir, Pak Sulaiman seorang peternak yang kaya raya, memiliki 3 orang istri, ia mata keranjang.


...***...

__ADS_1


__ADS_2