(Masih Revisi) Danau Hijau Buatan Kakek

(Masih Revisi) Danau Hijau Buatan Kakek
Datang Bulan


__ADS_3

Beberapa hari ini Yangki selalu diam-diam memperhatikan setiap inci wajah dan kebiasaan Aira, walaupun biasanya ia memang mencuri-curi pandang. Tapi, kali ini ia lebih agresif melihat dari ujung sampai kakinya, begitu mempesona setiap detik pikirnya.


Setiap pulang sekolah ia menghabiskan waktunya belajar dan melukis. Beberapa hari ini, ia lebih fokus melukis semua yang ia perhatikan tentang Aira, mata indah yang disembunyikan di sebalik kacamata yang selalu ia pakai.


Melukis jari jemarinya yang lentik, melukis saat ia fokus membaca, melukis wajah cantik saat tersenyum indah kepadanya. Tapi entah kenapa, ia bukan hanya melukis Aira saja, tanpa sengaja tangannya melukis wajah Arnel dan Rido.


Ia sendiri sampai kesal kenapa tangannya harus melukis wajah dua orang yang membuatnya jengkel itu, mungkin terlalu jengkel setiap hari harus bermasalah dengan mereka.


Terkadang Yangki menambahkan coretan dan garis-garis seram diwajah dan layar belakang wajah mereka, bukannya terlihat seram tapi malah terlihat lucu. Ia akhirnya tertawa terbahak-bahak melihat lukisannya sendiri.


"Ah, tanganku! kenapa sih harus wajah mereka? bukan cuma disekolah dirumah juga mereka mengganggu waktu ku untuk melukis wajah imut Aira."


"Lihat saja, aku akan membuat wajah kalian yang menyebalkan itu jelek, agar kalian tidak sombong lagi. Lihat ini hidungmu menjadi besarkan? ahahahahaha," Yangki berkata dalam hati sambil terkekeh.


"Lihat matamu, ku beri ini! bibirmu jadi dower aja deh, ha! pipinya aku kasih bulat-bulat merah aja deh, biar kek cewek! habisnya kau rusuh sih! Hahahaha," Yangki berucap sambil tertawa.


Begitu pula dengan Tuan Muda Rido, akhir-akhir ini ia mencoba mengganggu Aira dan Yangki, tapi sering tidak berhasil karena mereka menghabiskan waktu di perpustakaan.


Bahkan mereka memakan bekalnya disana sambil membaca buku, di perpustakaan asal bisa menjaga kebersihan dan tidak ribut bisa diizinkan masuk kedalam, tapi jika membuat ribut akan dihukum.


Di depan pintu masuk perpustakaan, ada Pak Hamzah dan Bu Yen yang berjaga disana, mereka sangat galak dan tidak memandang bulu saat memberi hukuman.


Mata mereka tak akan berkedip walaupun siswa minta maaf dan minta sangsi ringan, mereka tetap kokoh pendirian, akan memberikan hukum sesuai peraturan yang tertulis di gerbang masuk perpustakaan.


Akhirnya Rido mengurungkan niatnya mengganggu mereka, bahkan sekarang untuk mengganggu Yangki pulang sekolah juga tidak bisa, ia dijaga ketat oleh dua bodyguard nya setelah kejadian pengeroyokan nya saat itu.


Sekarang ia membuntuti Una, ia selalu mendapat penolakan saat mengajak Una, bahkan mendapat makian dari bibir mungil Una tersebut. Ia tidak bisa marah kepada Una walaupun perkataan itu kasar.

__ADS_1


Jika yang berkata saat itu adalah orang lain, mungkin ia akan memberi hukuman atau memberi pelajaran seperti mengerjainya atau memalak uang jajan mereka. Padahal ia mempunyai banyak uang, mungkin inilah yang disebut dengan cinta, tidak berdaya di hadapannya.


Sedangkan Arnel tidak tau lagi mengatasi rasa jengkelnya, melihat dua sejoli menempel setiap waktu. Bahkan Yangki akhir-akhir ini semakin berani mendekati Aira dengan terang-terangan seolah menantangnya.


Ia juga kesal kepada Aira, bagaimana bisa cewek desa itu begitu senang dan tersenyum saat bersama cowok sampah itu pikirnya. Ia berusaha menghindari perselisihan dengan Yangki beberapa saat ini, agar terlihat baik di depan Aira pikirnya


Apalagi sekarang mereka juga suka menghabiskan waktu di perpustakaan, penjaganya yang seram seperti harimau yang akan menerkam, saat melihat gerombolannya mendekati perpustakaan membuatnya merasa ciut, apalagi pasangan guru penjaga perpustakaan itu bukan orang biasa.


Mereka salah satu anak pelayan keluarga Damrah, mereka juga diminta memata-matai perilaku Arnel disekolah. Sehingga ia sangat menjaga sikap saat bertemu mereka.


Tapi saat jam pulang sekolah, perkelahian tidak bisa dihindari. Walaupun beberapa hari ini sekolah menjadi damai sentosa tanpa kabar perkelahian mereka setiap saat.


Bel pulang berbunyi,


Sebelum pulang, mereka akan digilir keluar dengan beberapa pertanyaan. Siapa yang bisa jawab, itulah yang lebih dahulu keluar dari kelas.


Mereka berbicara sebentar dan membeli minuman dikantin disebelah halaman sekolah itu, mereka kembali duduk. Aira memegangi perutnya dan gelisah duduk.


"Kamu kenapa Ra?"


"Gak apa-apa kok, aku lagi sakit perut aja sih."


"Kalau begitu, ayo kita ke UKS," ajak Yangki.


Aira menolak ajakan Yangki, ia duduk dan meminum minumannya, ia masih memegangi perutnya dengan keringat mengalir dikeningnya. Yangki mengelap keringat itu dengan tisu yang ia ambil dari dalam tas nya, ia sangat kawatir sekali saat ini.


Tuan Muda Rido lebih dahulu keluar dari Arnel, ia melihat Aira seperti kesakitan memegangi perutnya. Ia berpikir kalau Yangki memberikan Aira minuman tidak bersih yang membuat ia sakit perut.

__ADS_1


Saat ia melihat Arnel keluar dari dalam kelas, ia berkata kepada Arnel bahwa Yangki telah membuat Aira sakit perut dengan memberikan air yang tidak bersih. Sontak Arnel langsung marah dan segera menuju ketempat mereka berada.


Rido juga ikut menyusulnya, Arnel langsung memelototi dan berdecak pinggang melihat mereka. Ia menarik tangan Aira pelan, tapi Aira tidak mau jalan sedikit pun.


"Ayo pulang, atau kita ke UKS?"


"A...aku...."


"Kenapa?!," tanya Arnel ketus.


Arnel tidak menunggu lama jawaban Aira, ia memaksa Aira berdiri dengan menarik tangannya. Rido dan Yangki terbelalak melihat noda darah dibangku halaman sekolah yang berwarna putih itu. Mereka melihat ke arah rok Aira dengan serentak.


"Kau kasih minum apa dia? dia sampai berdarah begitu!" tanya Rido melotot.


Yangki gugup ketakutan, bagaimana mungkin bisa sampai pendarahan begitu minum air mineral, sedangkan ia juga meminum air yang sama pikirnya.


Arnel terkejut mendapati pertanyaan Rido, ia juga melihat ke arah bangku dan memutar tubuh Aira, ia melihat rok belakang Aira bernoda darah. Ia sangat marah, langsung memberikan pukulan kepada Yangki.


Yangki tidak melawan ataupun menghindari nya, ia bahkan lebih merasa terpukul karena memberikan Aira minuman yang membuat ia sakit perut. Bukan pukulan Arnel yang membuat ia merasa sakit, tapi kelalaian nya yang tidak bisa menjaga Aira.


Aira segera melerai mereka sambil berteriak.


"Aku tidak apa-apa, aku baik-baik saja. Aku... aku hanya..."


"Aku hanya lagi datang bulan!" teriaknya sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya


Teriakannya itu membuat tiga pemuda itu menoleh keheranan padanya.

__ADS_1


__ADS_2