
Ronal dan Agung telah sibuk seharian mempelajari arsip-arsip perusahaan, dan mengenal nama-nama orang-orang penting di perusahaan, keunggulan dan kekurangan mereka. Mereka bekerja dengan serius hingga jam pulang.
Didepan bangunan perusahaan ARYANDO GROUPS, Arnel duduk didalam mobil menunggu bersama sopirnya. Ia telah berjanji menjemput Agung dan Ronald hari ini, sopirnya bernama Hendra, ia tamatan SMK jurusan otomotif, umurnya 30 tahunan, ia baru menikah, ia anak Pak Tanto.
Keluarga Damrah terbiasa mempekerjakan orang-orang kepercayaan mereka turun temurun, seperti Pak Tanto dan anaknya Hendra. Pak Tanto memiliki tiga orang anak, anak pertama menjadi sekretaris Agung sekarang, anak yang kedua menjadi dokter disalah satu rumah sakit keluarga Damrah.
Dan anak bungsunya menjadi sopir pribadi Arnel sekarang, karena sangat malas bersekolah dari dulu, hingga ia tidak melanjutkan kuliah dan menjadi sopir pribadi Arnel, sedangkan Pak Tanto telah meninggal dunia beberapa tahun yang lalu.
Tak lama, mereka sampai di depan mobil dan mereka memasukinya, Agung dan Arnel duduk dibelakang kemudi, sedangkan Ronald duduk disamping sopir.
"Bagaimana pekerjaan kalian hari ini?"
"Semuanya berjalan lancar paman," jawab Ronald.
"Hampir semuanya lancar pa, tapi aku sedikit bingung beberapa arsip ini, aku tanya kakak Hendrik (anak sulung Pak Tanto) dia sedikit ragu menjawabnya," jelas Agung sambil memperlihatkan beberapa arsip kepada Arnel.
Arnel mulai membaca dan menghela nafas kasar, ia juga selama ini menggantung permasalahan yang satu ini.
"Yang ini biar papa saja yang menyelesaikan nya bersama Rido, kalian tidak usah membaca dan mempelajari ini."
"Baiklah kalau begitu pa."
Mereka sampai di rumah keluarga Damrah, Agung dan Rido segera memasuki kamar mereka, membersihkan diri dan segera menuju meja makan untuk makan masakan Bi Susi dan bi Mona.
Bi Susi sudah sangat tua, hampir setua kakek Ari. Ia tidak bekerja lagi dalam memasak atau pun membersihkan rumah, ia hanya diminta oleh Ari dan Arnel untuk mengatur dan mengajari para pelayan baru.
Selain Bi Susi, Bi Mona juga cukup lama bekerja di keluarga Damrah. Sejak Humaira lahir, kurang lebih sudah 17 tahun ia bekerja menjadi pelayan bagian dapur dan pelayan pribadi Nona Muda Humaira.
Setelah makan dengan lahap, Agung segera menemui kakek Ari dikebun belakang rumah. Mungkin sekarang, kakek itu sedang bermain dengan ikan-ikan peliharaannya. Sedangkan Ronald ingin bermain game di dalam kamar dengan laptopnya.
__ADS_1
Diperjalanan ia tertabrak Humaira yang baru saja pulang sekolah. Humaira sangat marah dan memukul lengannya dengan kuat, ia memelototi dan mengacungkan jari tengah ke arah Ronald, lalu berlari keatas menaiki tangga menuju kamarnya.
Ronald hanya menggeleng tidak percaya dengan tingkah Humaira, ia begitu tidak sopan kepada dirinya, apalagi jika berdua begitu. Humaira menjadi lembut dan penurut jika berada didepan keluarga, sedangkan kalau berdua dengannya saja, jangankan jari tengah, memaki-maki nya saja Humaira bersedia.
"Dasar gadis remaja, gitu aja langsung jari tengah, bukannya minta maaf. Kalau aku sama Agung tadi, pasti dia manis dan bilang maaf. Kalau bukan adik temanku, sudah ku jadikan mantanku yang kesekian, sampai nangis-nangis," Ronald berkata dalam hati.
Humaira menggosok keningnya yang sedikit ngilu karena berbenturan dengan Ronald tadi, ia merasa sangat letih dan lelah, pulang sore dengan perut sangat lapar, bertemu dengan orang yang membuatnya jengkel membuat suasana hatinya menjadi buruk.
Ia berendam di dalam bathtub dengan sabun cair yang sangat wangi dan menenangkan saraf-saraf saat menciumnya. Ia menghela nafas kasar mengingat Ronald laki-laki yang menjengkelkan itu, dan sekarang harus tinggal dirumahnya.
•••Falshback Off•••
9 tahun yang lalu...
Pemuda tampan datang pertama kalinya kenegara kelahiran mama dan papanya bersama keluarganya. Selama ini dia sangat sibuk belajar. Jadi, setiap orang tuanya kenegara ini dia sering ditinggal sendiri disana demi sekolahnya.
Remaja tampan ini bernama Ronald, karna itulah dia kurang mengetahui tentang makanan dan tata cara negara ini, sehingga dia selalu menurut dan sering dikerjai oleh Agung. Perkenalan pendek Agung dan Ronal tidak berlangsung lama, mereka segera akrab. Akan tetapi tidak dengan Humaira dari awal kenalan sampai Ronald kembali keluar negri dia begitu sangat marah.
Sore itu...
Tanpa sengaja, bola yang ditendang oleh Ronal mengenai kepala Humaira saat bermain bola dengan Agung dihalaman rumah. Humaira menangis sejadi-jadinya sampai malam. Bukan hanya itu, pagi hari nya Ronal juga membuat Humaira menangis meronta-ronta.
"Ron, kamu penasaran gak sama makanan fenomenal dinegara ini?"
"Ayo Ikut aku kedapur! kamu bisa mencicipinya sekarang, aku sudah menyiapkannya," ajak Agung.
Agung memang berniat menjahili Ronald dan meminta bibi memasak makanan dengan alasan biar Ronald mencicipi makanan rasa baru ciri khas negara ini. Akirnya mereka sampai didapur, disana ada Humaira yang sedang duduk menyusun puzzle dengan segelas susu hangat yang baru saja dibuat sang Bibi.
Agung mengeluarkan semua makanan yang dia siapkan, dan mempersilahkan Ronal mencicipinya.
__ADS_1
"Ini gulai jengkol, ini goreng petai, ini rasa original (alias mentah)." ucap Agung dengan senyum jahil.
Tidak disangka pilihan pertama Ronal jatuh pada petai mentah, dia langsung menggigit dan mengunyah. Setelah itu berteriak setengah gila dan mengambil segelas susu diatas meja.
"Ah, pahitnya. Makanan apa ini? aromanya juga berbau."
Humaira menatap tajam dan penuh marah melihat gelas susunya yang kosong diminum Ronald, lalu menangis sejadi-jadinya. Sejak saat itu dia tidak menyukai Ronald.
•••Flashback On•••
Sejak saat itu, Humaira tidak menyukai Ronald bahkan memusuhi nya hingga sekarang.
Humaira menyelesaikan mandinya dan segera memakai baju santai, ia segera keluar dari kamarnya menemui mama dan bi Mona di dapur, ia sangat lapar sekali.
Dilain sisi, Rido baru saja keluar dari rumah Admaja. Ia melajukan mobilnya kerumah keluarga Damrah, sesampai disana ia segera pergi ke kamar tamu dan membersihkan diri, istrinya segera menyusul ia ke dalam kamar.
Selesai mandi, ia duduk di sofa dengan wajah sendu. Dewi istrinya dengan segera mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil, ia memeluk suaminya itu dari belakang. Ia tahu betul, jika suaminya berwajah sendu begitu pasti ia berkunjung dari rumah Admaja.
Di meja makan, Humaira makan dengan lahapnya. Sekarang ia di temani sang mama yang juga sedang menikmati jus tomat sambil membaca cerita-cerita lucu yang dibawakan oleh Dewi kemarin.
Dewi sangat tahu kalau Aira suka membaca buku apapun, seperti cerita, berita atau pun pelajaran.
"Ma, Apa benar paman mau balik keluar negri lusa? dan kak Ronald tinggal Disni sama kita?"
"Iya."
"Kenapa harus tinggal sama kita sih ma? kan bisa tinggal dirumah keluarga Wijaya? atau beli apartemen atau nge kost gitu!"
"Apa salahnya tinggal disini sayang? bukankah di luar negri bang Agung juga tinggal sama mereka? kenapa dia tidak tinggal dirumah kita juga?"
__ADS_1
"Tapi ma....."
"Sudah, sudah, mama gak mau denger alasan bilang Ronald gak baik, jelas-jelas baik begitu anaknya, dan dia anak semata wayang paman Rido," jelas Aira memotong pembicaraan Humaira yang tidak ingin ia denger sambungannya.