
"Terimakasih kau telah mengingatkan aku, semua orang berhak menyukai siapapun, kapan pun, bahkan tak ada syarat untuk menyukai seseorang. Karena rasa suka tumbuh dari dalam hati tanpa kita rencanakan."
"Aku sangat menikmati rasa suka ku ini, menikmatinya selama aku bernafas, aku tidak pernah menyesali perasaanku ini, walaupun akhirnya aku tidak berjodoh dengannya, aku hanya ingin selalu berada disampingnya membuat dia tersenyum itu sudah membuatku puas."
"Kau hanya perlu menikmati rasa sukamu, bukan memaksakan kehendaknya! dan kau harus menyadarinya juga, terkadang cinta datang kepada orang yang tidak tepat, maka ada bijaknya menghargai walaupun tidak memilikinya."
"Sama seperti dirimu yang menyukai Una, seharusnya kau berusaha lebih baik agar dia bahagia bersamamu, bukan menggangu ku dan seolah aku merebutnya darimu. Jelas-jelas aku tidak pernah tertarik kepadanya sedikitpun, bahkan kau tau aku sangat menyukai Aira."
Setelah berbicara seperti itu, Yangki segera pergi ke mobilnya, karena dua bodyguard nya telah datang menghampirinya yang melihat Rido mendekati Tuan nya. Begitu pula dengan Rido pergi ke mobilnya dengan kesal karena merasa malu akan ucapan Yangki.
Setelah kepergian Tuan Muda Yangki, Tuan Muda Rido berjalan menuju parkiran sambil mengumpat dalam hati, berharap akan membalas perkataan Yangki padanya lain kali. Bahkan ia sampai memarahi sopirnya tanpa jelas kesalahannya, padahal sopirnya telah menunggunya sedari tadi, tapi sopir hanya diam saja, sangat mengerti watak Tuan Muda nya itu.
Sekarang, ia menyuruh sang supir untuk mengikuti Yangki pelan-pelan dan jangan sampai ketahuan, karena ia mendengar informasi kalau rumah Una dan Yangki bersebelahan, mereka bertetangga.
Sopir Tuan Muda Yangki menyadari kalau mereka sedang diikuti, sehingga sopir dan dua bodyguard Yangki kawatir, akhirnya mereka mengalihkan mobil mereka ketempat keramaian, menggunakan jalan yang berbelit-belit, sehingga mobil yang mengikutinya menghilang.
"Tuan Muda, sepertinya ada mobil yang mengikuti kita," ucap Sang Sopir.
"Mungkin paman salah, coba kita pelan-pelan dulu, apa mereka juga memelankan laju mobilnya juga? mungkin mereka satu arah dengan kita."
"Baik lah Tuan Muda."
"Sepertinya memang diikuti, sepertinya itu mobil Rido si bocah tengik Tuan Muda, dia mau cari masalah apa lagi tuh!," sungut salah seorang bodyguard.
Yangki melihat mobil itu, ia menyadari kalau Rido mungkin kesal dengan pembicaraannya tadi, dan sengaja mengikuti nya untuk mencari masalah, akhirnya ia meminta sopir ketempat keramaian.
"Kalau begitu kita putar jalan ketempat keramaian, lalu memutar ketempat jalan-jalan pelosok dan jalan pintas, setelah mereka hilang baru kita kembali ke arah jalan pulang."
"Baiklah Tuan Muda."
__ADS_1
Setelah mobil Tuan Muda Rido menghilang, sopir Yangki segera melaju dengan cepat kearah jalan pulang, akhirnya Yangki sampai di rumahnya dengan selamat tanpa bisa diikuti oleh Rido.
Sedangkan Rido di jalan buntu ini terhenti sedang memaki-maki sopirnya, mereka kehilangan jejak dan sampai dijalan buntu yang susah berputar, bahkan sempit untuk mundur karena orang-orang semakin ramai keluar, melihat mobil mewah datang pertama kalinya di pemukiman mereka.
"Ah! paman kenapa sih bodoh sekali! ikuti mereka aja gak becus!"
"Udah bertahun-tahun jadi sopir masih aja kalah dari sopir cowok sok keren itu!"
"Cepatan kita mundur! dan pergi dari tempat aneh ini!, mereka kampungan sekali! keluar seperti lebah mengerubungi sarangnya!"
"Baik Tuan Muda."
Akhirnya Rido keluar dari jalan sempit itu, mereka kembali kejalan besar dan kembali kerumah keluarga besar Wijaya.
Di lain sisi, Arnel masih memegangi dan menarik tangan Aira, walaupun tidak sekuat saat dia menarik Aira dihadapan Yangki tadi, tapi pegangan tangan itu masih terasa erat dan kuat.
Ia memegangi sampai tiba di mobil, Aira merasa sangat canggung tangan nya dipegang selama perjalanan ke tempat parkir, tidak biasanya dia akan berjalan beriringan dengan tuan muda ini, apalagi berpegangan tangan.
Saat sampai di depan mobil, Arnel melepaskan tangan Aira dan masuk kedalam mobil, Aira pun mengikutinya. Selama diperjalanan Arnel hanya diam dengan muka kusutnya.
"Huh! aku kesal sekali dengan cowok sampah itu, dan cewek desa bodoh ini!, kenapa dia bisa sebodoh ini! dan tidak bisa menjaga tubuh nya yang jelek ini agar tidak disentuh laki-laki, apalagi laki-laki sampah seperti Yangki itu!," gumam Arnel dalam hati.
Begitupula dengan Aira memperhatikan tuan muda itu diam-diam, mereka berdua hanya saling diam hingga sampai di rumah keluarga Damrah, bahkan Pak Tanto sopir pribadi mereka juga diam saja saat melihat wajah kusut Tuan Muda nya.
"*Apa Tuan Muda masih marah sama Rido atau sama Yangki ya? aku heran sih kenapa sampai marah begitu nya?"
"Aku benar-benar gak mengerti sama tuan Muda manja yang egois ini, sebentar-sebentar marah, sebentar baik sama aku*," gumam Aira dalam hati.
Mereka turun dari mobil tanpa berkata sepatah kata pun untuk menyapa para pelayan yang menyapa mereka, tidak seperti biasanya Arnel akan menjawab sapaan dari Bi Susi, walaupun dengan pelayan yang lain dia tidak merespon.
__ADS_1
Sedangkan Aira selalu membalas sapaan semua pelayan, karena melamun dia mengabaikan semua sapaan dan berjalan beriringan dengan Tuan Muda Arnel menaiki tangga menuju kamar masing-masing.
Arnel mengganti bajunya, dan duduk disudut kasur king miliknya itu, ia mengusap wajah kesalnya itu dengan tangannya sambil mendengus kesal.
Ia merebahkan tangannya dan bertumpu bantal dengan kedua tangannya sebagai bantal kepalanya, kedua kakinya masih terjuntai kebawah lantai, pikirannya menerawang entah kemana, sambil menghembuskan nafas kasar beberapa kali.
Ia tidak habis pikir, lagi dan lagi Yangki dan Aira tidak mengindahkan semua perkataan nya agar tidak dekat, bahkan jengkel dengan Rido si mulut kasar itu. Jika bukan karena papanya menyuruh dia berteman dan berdamai dengan Rido, dia tidak akan pernah menahan amarahnya.
Selama ini, dia sudah banyak menahan amarah kepada Rido, tapi hari ini dia benar-benar kesal saat ia memerintahkan Aira dengan kata kasar, ia tidak mengerti kenapa perasaan nya begitu kesal.
Ia memandangi langit-langit kamarnya sambil berpikir keras, ada apa dengan hati dan pikirannya, dia sangat emosi saat melihat Yangki dan Aira bersama, ia sangat emosi saat siapapun menggangu Aira, tapi ia senang menggaggu Aira dengan sengaja.
Hari ini, ia sengaja tidak menggangu dan memerintah Aira karena malu dengan mimpi aneh saat itu, tapi akhirnya ia juga tersulut emosi.
"Ada apa dengan ku?"
"Aku sungguh tidak mengerti, apakah penyakit seperti ini tidak bisa disembuhkan? apakah penyakit 'puber kata papa' saat itu seperti ini?"
"Menjadi gila memikirkan lawan jenis, dan ingin diperhatikan lawan jenis? ingin selalu dekat lawan jenis dan tidak suka lawan jenis didekati lelaki lain? apakah seperti ini?"
Dan kenapa lawan jenis yang membuat aku puber harus cewek desa bodoh itu! kenapa tidak wanita lain? kan banyak gadis-gadis lain yang menyukaiku? mengirimiku surat cinta dan memberi hadiah?"
"Aaaaaahhh.... ada apa denganku? kenapa harus cewek desa itu! aku harus sembuh dari penyakit puber ini! aku harus bilang sama papa!"
"Tunggu! kalau aku bilang papa, nanti papa tau aku mimpiin jorok Aira? aaahh... "
"Aku gak boleh kasih tau papa! aku bisa malu, atau mungkin papa akan marahin aku!"
Arnel terus berkecambuk dalam pikirannya, sampai ia dikejutkan dengan ketukan pintu sang bibi yang menanyakan ia ingin makan siang dengan makanan apa yang ia sukai.
__ADS_1
Begitu pula dengan Aira mengganti bajunya dan menuruni tangga menuju meja makan, dimeja makan ia menikmati es jeruk dingin sambil menunggu makanan di panaskan sang bibi.
Ia masih memikirkan Tuan Muda yang begitu mudah berubah-ubah, kadang marah-marah gak jelas, kadang baik. Ia juga tersenyum saat mengingat wajah tampan yang tadi berbicara dengannya di bangku halaman sekolah, siapa lagi kalau bukan Tuan Muda Yangki yang tampan dan baik hati.