(Masih Revisi) Danau Hijau Buatan Kakek

(Masih Revisi) Danau Hijau Buatan Kakek
Itu Tidak Bahaya


__ADS_3

"Saat Pubertas, tidak ada salahnya dengan mimpi, itu normal. Apalagi bermimpi dengan gadis pujaan, apakah putra papa sedang jatuh cinta kepada seorang gadis?"


Yangki tersenyum mengingat perkataan papa nya saat itu, ia sangat malu. Ia hanya diam dan segera mandi membersihkan diri.


Selama diperjalanan pulang, ia hanya tersenyum terus menerus sampai mobil berhenti didepan rumahnya. Ia turun dan bersalaman dengan mamanya, memeluk dan mencium wanita dewasa yang cantik itu.


Ia menaiki tangga menuju kamarnya, mengganti pakaian santai dan makan. Setelah makan, ia kembali keruangan pribadinya. Ia melukis disana hingga sore.


Sedangkan Arnel dan Aira saling menundukkan pandangannya, mereka segera menuju kamar masing-masing. Mereka sibuk dikamar masing-masing hingga sore hari, entah apa saja yang mereka lakukan dikamar mereka.


Malam ini Ari tidak lembur, hingga ia bisa bersantai dari tadi sore. Malam ini semua berkumpul makan malam dimeja makan.


"Bagaimana pelajaran kalian disekolah?"


"Baik paman, tidak ada masalah," jawab Aira.


Arnel hanya diam, tidak bicara sepatah katapun sampai makanannya habis. Walaupun Ari telah bertanya beberapakali, hanya Aira yang menjawab pertanyaan itu.


Setelah menghabiskan makanannya, ia segera masuk kedalam kamar. Ari merasa aneh dan mungkin ada masalah dengan putranya, pikirnya.


"Apa Arnel buat ulah atau bertengkar disekolah?" tanya Ari kepada Aira saat mereka tinggal berdua dimeja makan.


"Tidak paman," jawab Aira singkat.


"Mereka berdua terlihat aneh," batin Ari.


Tidak lama, mereka menyelesaikan makanannya. Aira menuju kamarnya, sedangkan Ari juga menuju kamar putranya Arnel.


"Apa kamu sudah tidur?"


Arnel yang sedang menelungkup hanya diam saja, dan menggerakkan kakinya. Seolah memberi tahu Ari untuk mendekat kepadanya.


Ari mendekat dan mengelus kepala putranya.


"Ada masalah disekolah? ada yang membuat putra papa marah?"


Hanya kata 'Hm...' yang terucap dari bibirnya. Ari terus mengelus dan bertanya kepadanya sampai ia memutar badan dan duduk menghadap papanya.


"Pa, waktu itu papa bilang kalau orang Pubertas itu bahaya? tadi guru ku menjelaskan kalau setiap laki-laki dan perempuan semua akan mengalami pubertas."


"Iya bahaya, jika tidak menyikapinya dengan baik."


"Sikap seperti apa pa? apa memikirkan seorang gadis? atau memimpikan nya? apa itu bahaya? atau jengkel melihatnya dengan orang lain? atau hanya ingin menjadi laki-laki paling di kagumi olehnya juga bahaya pa?"


Ari tersenyum simpul dan mengelus pundak anaknya.


"Tidak, itu tidak bahaya."


"Lalu bahaya itu seperti apa pa? apa saat wanita mengeluarkan darah? atau saat memegang tangannya? atau memeluknya pa?"

__ADS_1


Ari mengerutkan keningnya menatap wajah putra nya yang sedang bingung.


"Berbahaya itu, saat rasa penasaran mereka melebihi ilmu mereka, sifat egois mereka mengalahkan rasa menghargai mereka, rasa suka kepada lawan jenis yang berlebihan, tidak mampu mengatur emosi yang berubah-ubah secara berlebihan."


"Saat pubertas semua remaja menyukai lawan jenis, ingin menjadi manusia paling terbaik dan populer. Ingin menjadi yang pertama dan yang bisa di andalkan oleh lawan jenis yang disukai, dan bersifat ceroboh karena ingin menemukan jati diri sendiri."


"Terkadang ada yang menyakiti hati perempuan dengan bermain-main perasaan dengan mereka, menipu, memakai obatan terlarang, mabuk-mabukan dan kelakuan yang salah, itu yang berbahaya," jelas Ari.


Arnel mengangguk-anggukan kepalanya mendengar penjelasan papanya.


"Apa putra papa menyukai seorang gadis?"


"Tidak."


"Apa pernah bermimpi dengan seorang gadis?"


Arnel terdiam, pipi dan telinganya memerah. ia salah tingkah dan sangat malu dengan pertanyaan itu. Ari tersenyum simpul melihat reaksi putranya.


"Apa gadis itu cantik?"


"Jelek."


"Jelek? tapi ia bisa dimimpikan putraku, apa dia menyebalkan?


"Iya, dia sangat menyebalkan. Gadis itu sangat suka tersenyum kepada teman lelaki disebelah tempat duduknya, sedangkan kepada ku dia sangat sulit tersenyum."


"Mungkin gadis itu belum melihat ketampanan anak papa, mungkin dia masih buta wajah. Mungkin putra papa harus bersifat manis lagi kepadanya, dan jangan menyakitinya."


"Iya pa," jawab Arnel.


"Pa, jika seorang gadis mengeluarkan darah dan dia selalu bersama dengan laki-laki berpelukan atau berpegangan tangan, apakah bisa hamil juga?"


"Mengeluarkan darah?" tanya Ari.


Ari berpikir keras dengan pertanyaan putranya, ia sampai salah mengira dengan malam pertama yang berdarah.


"Iya pa, tadi siang pulang sekolah Aira mengeluarkan darah. Kata pak guru itu normal, ia menstruasi. Kata pak guru jika berpacaran atau menikah, seorang wanita yang telah berdarah dan seorang laki-laki yang telah mimpi basah bertemu bisa hamil."


Ari tersedak air ludahnya sendiri karena tertawa.


"Gadis itu sudah besar rupanya," batinnya


"Menikah dan berpacaran yang tidak baik bisa hamil, tapi jika hanya bersama tidak bisa hamil."


"Tapi pa, orang pacaran itu pegangan tangan dan pelukan. Terus, kalau dicium bisa hamil. Jadi, harus tanggung jawab sama wanitanya."


Ari memijat dahinya sambil tersenyum, bagaimana menjelaskan pikirnya. Jika dijelaskan secara detail, kawatir putranya dewasa sebelum waktunya.


"Kalau hanya pegangan tangan dan berpelukan sahabat gak bisa hamil, kalau berpacaran dan menikah baru bisa hamil. Jadi, gak boleh pacaran dulu sampai tamat sekolah."

__ADS_1


"Oh... tentu saja pa, aku gak tertarik kok dengan pacaran, gadis-gadis disekolah jelek semua."


"Apakah yang paling cantik Aira? jadi semua gadis jelek semua?" goda Ari.


Arnel salah tingkah, telinga dan pipinya memerah.


"Mana mungkin gadis desa itu paling cantik, dia yang paling jelek pa," elak Arnel.


Ari terkekeh mengelus kepala putranya dan pergi keluar meninggalkan putranya yang sedang malu.


"Hehehe... ya sudah, walaupun Aira tidak cantik, kamu harus menjaga dia ya. Jangan sampai dia digoda laki-laki lain."


Arnel segera menutup pintu kamarnya setelah kepergian papanya, membaringkan tubuhnya dan masuk kedalam selimut tebal yang lembut, ia masih tersenyum malu saat mengingat mimpi dengan gadis desa itu.


Di rumah Wijaya,


"Ma, apa papa malam ini lembur?"


"Iya, mungkin tengah malam pulangnya, ada apa sayang?"


"Hm... mama tau gak dengan mimpi basah? atau Pubertas? tanya Rido malu-malu.


"Pubertas itu perubahan hormon yang ada dalam tubuh kita, semua bentuk tubuh dan fisik dan juga perilaku kita berubah. Jika bisa menguasai jati diri sendiri dengan baik akan menjadi laki-laki dewasa yang sukses, tapi jika tidak menjaga diri dengan baik akan menjadi laki-laki dewasa yang pemalas."


"Tapi ma, kata guru disekolah bukan gitu."


"Lalu seperti apa?"


"Katanya, menyukai lawan jenis dan suka memimpikan lawan jenis."


"Iya, seperti yang mama bilang. Pubertas itu perubahan semua bentuk tubuh dan sifat, salah satu sifat seperti lebih suka berdandan, dan gampang menyukai lawan jenis."


"Apakah putra mama sedang menyukai seorang gadis?"


Rido tersenyum malu.


"Jika putra mama menyukai nya, berbuat baik dan manis lah. Jangan memaksakan kehendak kepadanya, dalam menyukai seseorang tidak musti orang itu juga menyukai kembali. Karena hati tidak bisa dipaksa."


"Iya ma, kalau mimpi dengan gadis, terus ngompol ma? apakah itu juga menyakiti wanita itu?"


Ia tersenyum dan mengelus rambut putranya.


"Tidak, itu tidak menyakitinya. Mimpi itu hanya bunga tidur, karena pubertas membuat wanita yang disukai selalu terpikir setiap saat sehingga terbawa mimpi."


"Intinya jangan menyakiti perempuan, dan jangan menyentuh perempuan, kalau sudah mimpi begitu, kalau menyentuh perempuan bisa hamil loh," ucap Wulan sambil tertawa.


"Beneran ma?" tanya Rido antusias.


Wulan hanya mengangguk sambil tertawa memperlihatkan gigi putihnya. Bagaimana mungkin hamil jika hanya menyentuh, pikirnya. Ia hanya menjahili anaknya yang nakal itu.

__ADS_1


"Dan jangan suka mendorong atau menggangu wanita, kalau tidak.... kamu bisa jatuh cinta kepadanya sampai tergila-gila," sambung Wulan sambil tertawa.


Rido bergidik ngeri membayangkan gadis-gadis yang ia dorong dan ia palak uang jajannya, ia membayangkan ia mengejar dan mengemis cinta kepada mereka. Bulu kuduknya sampai merinding saat membayangkan itu.


__ADS_2