
Bab 2 Bertengkar
“Rum, tak bisakah kau sedikit mengerti?” Surya melihat telapak tangannya yang ditepis oleh Rumi.
“Tidak! Aku ingin kita bercerai!” jawabnya tegas. “atau ... kau memang suka aku bermain dengan pria lain di atas pernikahan kita?” Rumi menyibakkan rambut blonde berwarna coklat miliknya. Memperlihatkan di sekitar leher dan belahan dadanya noda-noda merah bekas ciuman.
Surya menggertakkan giginya, rahangnya sampai bergerak walau mulutnya terkunci rapat. Matanya yang tadi teduh dan penuh kasih sayang melihat Rumi, berganti jadi kemarahan.
Plak! Satu tamparan keras mendarat di pipi Rumi yang mulus.
“Kau! Beraninya kau menamparku!” Ia meraih guci pajangan yang tak jauh dari posisinya untuk membalas Surya, lalu melemparkan guci itu ke tubuh Surya sampai pecah berderai.
Ken dan Kenzha mendengar suara ribut, keluar dari kamar mereka masing-masing. Namun, mereka dipeluk dan telinganya di tutupi oleh pelayan rumah agar tak mendengar pertengkaran majikan mereka.
Prank! Sekali lagi, Rumi melempar guci pajangan lain ke tubuh Surya. “Ceraikan aku! Aku tak sudi hidup bersamamu, dasar imp*ten!” hina Rumi.
Tubuh Surya bergetar hebat menahan amarah dan luka di bahunya, jas yang masih ia pakai mulai bernoda merah terkena darahnya.
“Baiklah, jika kau ingin begitu. Aku tak bisa menahan orang yang tak menginginkan aku lagi, seberapapun kuatnya aku menahan, aku akan kalah. Terlalu pecundang 'kan, kalau aku masih berpura-pura tidak tahu jika istriku berselingkuh dengan pria lain di belakangku. Sungguh bodoh aku membiarkan saja dan masih memaafkannya, masih berharap dia berubah dan kembali mencintaiku....” Suara Surya terdengar pelan, tapi jelas.
“Jangan memojokkanku! Itu semua karena kau! Kau tidak memuaskanku! Aku ini wanita normal, aku butuh! Tidak seperti kau, dasar imp*ten!”
“Cukup Rum, cukup! Hentikan! Mulai hari ini, kau ku ceraikan!”
“Bagus! Cepat urus juga surat perceraian kita dan harta untukku! Oh, ya, aku akan membawa putriku pergi dan kau urus putramu!”
__ADS_1
“Aku menyayangi dan mencintai Kenzha, Rum, dan ... Ken putramu, tidak bisakah kau lebih menyayangi dan mencintainya juga?”
“Tidak!” Rumi berlalu pergi masuk ke dalam kamarnya, meninggalkan Surya yang terduduk lemas dengan tubuh bergetar. Ia tatap tangan yang menampar istrinya tadi.
Tidak pernah sekalipun selama ini ia berkata kasar apalagi menampar istrinya. Dia sangat mencintai Rumi, menerima wanita itu apa adanya. Dadanya terasa sangat sakit, dia tahu istrinya itu telah berselingkuh selama setahun ini dengan seseorang yang dikenalnya di sebuah cafe, saat berpesta teh bersama teman-teman sosialitanya.
Istrinya itu merasakan tubuh berondong yang dikenalkan temannya, hingga dia mabuk hasrat dan selalu menginginkan lebih, dia jadi membanding-bandingkan dengan Surya yang hanya main sebentar, lalu tertidur, meninggalkan dia yang masih belum puas. Sering Rumi melakukan pelepasan sendiri menggunakan tangan dan barang bantu sebelumnya. Oleh karena itu, sejak bertemu berondong itu, dia menjadi seperti ini.
“Ya Tuhan, apakah ini jalan yang terbaik, aku menerimanya, aku mencintainya, aku memaafkannya. Akan tetapi, dia selalu menolak dan menjauhiku, tidak pernah berniat berubah selama setahun ini....” lirih Surya dengan menutup matanya, ia sandarkan tubuhnya di sofa dengan satu tangan tertopang di kening.
Perlahan ia menghapus air mata yang tak sengaja keluar sendiri di pipinya, ia mengambil hp dari kantong celananya.
“Jay, tolong urus surat perceraianku dengan Rumi, lalu surat wasiat juga. Tolong buat, semua hartaku untuk Ken seorang, perusahaan, rumah, tanah, perhiasan, dan lainnya, akan jatuh pada Ken Adipati Surya. Semua harta itu akan di kelola olehmu sampai Ken berumur 25 tahun atau menikah.” Surya memerintahkan asisten pribadinya dari panggilan telepon.
“Baik, Tuan. Akan saya urus segera dua perintah Anda,” jawab Jay, asisten pribadi Surya dari sebrang sana.
“Putriku, ayo, kita pergi dari sini!” Rumi mengajak Kenzha dengan membelainya lembut.
“Tapi Ma-”
“Ssst! Tak ada tapi-tapi. Untuk apa kita tinggal di rumah ini, ayo pergi sama Mama!” Rumi mengambil koper dan memasukkan pakaian Kenzha ke dalam koper.
“Maaa!”
“Patuh Kenzha!” Rumi memelototi Kenzha. “Apa kau tidak ingat, apa yang sudah Mama katakan padamu? Hah?”
__ADS_1
Kenzha hanya menunduk. Kemudian dengan patuh berganti baju untuk pergi. Setelah selesai mengemasi pakaian Kenzha, mereka berdua pun turun ke lantai bawah, dimana Surya masih bersender sambil memejamkan mata di sofa, darah di dadanya tampak telah mengering. Pria itu tak mengobatinya, ia membiarkannya saja, merasakan rasa sakit yang datang entah dari mana, karena utamanya, hatinya lah yang terasa sangat-sangat sakit dibandingkan bahunya yang terkena guci pajangan.
“Mama!” Ken berlari turun, ia sebenarnya sejak tadi mendengar walaupun pelayan menutupi telinganya. Dia tahu ibunya akan pergi bersama kakak perempuannya.
“Mama mau pergi? Mama mau kemana?” tanya Ken, matanya mulai mengeluarkan air mata. Dia terus berlari dan memeluk punggung Rumi. Anak laki-laki berumur 11 tahun itu setinggi punggung Rumi.
“Ck, lepaskan!” Rumi melepaskan pelukan Ken dan mendorongnya. “Kau tinggallah dengan Papamu yang payah itu. Kalian berdua sama-sama payah!” Setelah berkata seperti itu, dia menarik tangan Kenzha.
“Ayo, Putriku tersayang, kita pergi!”
“Ma!” Ken berteriak dan hendak mengejar. Akan tetapi, Surya memeluk putranya itu dengan sangat erat sambil menangis terisak. Kenzha menoleh ke belakang dengan deraian air mata juga. Ia tak tega melihat ayah dan adik laki-lakinya menangis seperti itu.
“Hentikan tangisanmu yang tidak berguna itu Kenzha! Mereka itu tidak penting!” ucap Rumi dan terus menyeret Kenzha yang masih menangis.
Di luar pagar rumah elit Surya, Rumi dan Kenzha berdiri, menunggu jemputan dari seseorang yang ditelpon oleh Rumi. Tak lama, sebuah mobil marcedes hitam berhenti di depan mereka berdua. Kemudian, naiklah Rumi dan Kenzha ke dalam mobil itu, lalu mobil melaju pergi dari sana.
Di dalam rumah.
Ken menangis terisak-isak bersama Surya. “Jangan menangis lagi Putraku, uhuk! Uhuk!” Surya mengelus lembut rambut Ken, karena terlalu sedih menangis, membuat Surya terbatuk-batuk, ditambah lagi luka di tubuhnya semakin nyeri.
“Putraku, Papa sangat menyayangimu!” Surya memeluk Ken masih erat, lalu tiba-tiba pingsan.
Merasakan tubuh Papanya yang semakin memberat, seolah bertopang pada tubuh kecilnya, Ken mulai menghentikan tangisannya.
“Pa!” Ken memanggil Surya dan melepaskan pelukan, tampak mata ayahnya tertutup. “Papaaaaaa!” teriaknya. “tolooooooong! Tolong Papa! Bibi, Paman, tolong Papa!” Ken memanggil-manggil siapapun.
__ADS_1
Mendengar teriakan Ken, dua pelayan berlari ke arahnya. “Ada apa Tuan Mu-?” tanya salah salah satu diantara mereka, tapi ucapannya segera terhenti saat melihat badan Surya berdarah dengan menutup mata.