(Masih Revisi) Danau Hijau Buatan Kakek

(Masih Revisi) Danau Hijau Buatan Kakek
Menghukum Aira


__ADS_3

"Lucu sekali cewek desa itu, apa dia sebodoh itu? mau-maunya aja aku bodohin," Arnel cekikan memandang dari jauh.


Tuan Muda Arnel masih memandangi Nona Muda Aira yang sedang mencuci sepatu dihalaman samping rumah, ia duduk di kursi taman yang tidak jauh dari Nona Muda Aira mencuci sepatu. Ia tersenyum-senyum sendiri, terkadang cekikan dan mengetuk-ngetuk meja didepannya yang terbuat dari kayu itu.


"Lihatlah, kau sekarang sudah berani mengomel dibelakang ku ya? dasar cewek desa, beraninya kau!"


"Apa sekarang keberanian mu itu karena cowok sampah itu, huh?" tuding Arnel dalam hati.


Tuan Muda Arnel masih memperhatikan Nona Muda Aira secara diam-diam, begitu pula dengan Aira masih sibuk mencuci tumpukan sepatu yang sangat banyak. Sepatu itu tidaklah kotor, bahkan tidak pernah dipakai, tetapi harus dicuci. Ia hanya mengikuti keinginan Tuan Muda Arnel sambil mulut berkomat-kamit mencaci-maki tuan muda nya itu dengan suara sangat pelan.


Ia memukul-mukul sepatu itu, ingin rasanya mengucek muka tuan muda itu sekarang. Tapi keberanian itu tidak pernah ada, jangankan mengucek wajah, menjawab atau menolak perintahnya saja tidak berani.


Tidak lama setelah itu, sebuah mobil mewah berhenti di perkarangan rumah keluarga besar Damrah. Dari mobil itu turunlah seorang pemuda remaja yang berpenampilan rapi dan tentu juga sudah gagah dan tampan, siapa lagi kalau bukan Tuan Muda Rido Arlan Wijaya.


Ia diminta datang oleh Ari Damrah dan orangtua nya untuk menjemput Arnel ke acara berfoto keluarga untuk mempromosikan produk terbaru dari kolaborasi perusahaan keluarga mereka.


Ia diminta oleh pelayan untuk menunggu di ruang tamu agar pelayan bisa memanggil Tuan Muda Arnel. Tapi ia tidak mendengar, ia berjalan-jalan disekitar rumah dan langkahnya terhenti dihalaman samping yang melihat Nona Muda Aira mencuci sepatu sangat banyak. Sedangkan Tuan Muda Arnel tersenyum memperhatikan dari jauh.


"Yo,!! Kau seperti seorang pemuda pengintip gadis!" ucap Rido.


Tuan Muda Arnel terkejut sampai tubuhnya terlompat sendiri dari duduknya, hampir saja jantungnya juga ikut melompat saking terkejutnya, mungkin juga malu karena tepergok senyuman-senyum sendiri.


"Kau?! mau apa kau kesini?" tanya Arnel kesal.


"Santai bro, aku kesini diminta oleh paman Ari Damrah untuk pergi bersamamu di acara produk baru kolaborasi perusahaan kita," jelas Rido.


"Kenapa aku harus percaya padamu?"

__ADS_1


"Terserahlah, jika kau tak percaya! yang jelas aku kesini karena permintaan paman, jika tidak aku tidak Sudi berbicara denganmu sekarang!"


"Huh! kenapa harus kau? papa ku bisa saja menyuruh Pak Tanto atau pun Sekretaris Zack menjemput ku."


"Ah! terserah kau lah! tapi kenyataannya mereka semua sekarang sedang sibuk, itu makanya aku yang diminta dengan sopirku menjemput mu!" jelas Rido dengan ketus.


Rido duduk diujung bangku taman yang diduduki oleh Tuan Muda Arnel itu, menghela nafas dan mengarahkan pandangannya melihat Nona Muda Aira yang sedang mencuci sepatu.


Tuan Muda Arnel menghela nafas kasar, berniat mengusir Tuan Muda Rido yang menatap Nona Muda Aira, tapi niatnya tidak terjadi karena suara pelayan memanggilnya.


"Tuan Muda, oh Tuan Muda Rido sudah menunggu disini?"


" Ada apa Bi?"


"Tuan Muda Rido menjemput Tuan Muda ke acara pemotretan untuk promosi produk terbaru Tuan Besar."


Akirnya Tuan Muda Arnel pun pergi keatas menuju kamarnya, mandi dan tentu saja berhias dengan pakaian rapi dan lebih gagah dari Tuan Muda Rido. Sedangkan Tuan Muda Rido masih memperhatikan Nona Muda Aira mencuci sepatu sambil memikirkan cara mengganggunya.


"Apa yang kau lakukan? kau membuat bajuku kotor!"


"Maaf, aku gak sengaja Tuan Muda. Kenapa Tuan Muda bisa sampai kesini?"


"Kenapa aku musti menjawab pertanyaanmu?"


"Apa kau tau berapa harga jas yang aku pakai ini? kau merusaknya!" ucap Rido setengah berteriak menghardik.


"Maaf Tuan Muda aku akan membersihkan nya."

__ADS_1


"Huh! tidak usah! yang ada jas ku tambah kotor!"


"Lepaskan tanganmu! nanti jas ku tambah kotor! ucapnya sambil menepis tangan Nona Muda Aira.


Tanpa sengaja disekitar mereka berdiri banyak tumpahan air sabun, membuat kaki Aira terpeleset karena licin. Ia kembali jatuh kedalam pelukan Tuan Muda Rido memegang leher tuan muda Aira dengan pergelangan tangan agar jari-jari tangannya yang bersabun tidak menyentuh jas atau pun kulit lehernya.


Tuan Muda Rido juga reflek menangkap tubuh gadis remaja yang jatuh padanya. Dan saat itu mereka terhenti karena dapat sorakan dari Tuan Muda Arnel yang berjalan mendekat ke arah mereka.


Tuan Muda Arnel yang telah selesai berpakaian dengan rapi segera turun dan pergi ke halaman samping, karena kawatir Tuan Muda Rido akan kurang ajar kepada Nona Aira. Dan dugaannya benar, ia melihat tangan Nona Muda Aira dileher Tuan Muda Rido, dan tangan Tuan Muda Rido ada dipinggang Nona Muda Aira. Membuat ia sontak berteriak.


"Heiii!! apa yang kau lakukan!" tanya Arnel sambil menepis tangan Tuan Muda Rido dari pinggang Nona Muda Aira.


Dia sangat marah sampai mendorong tuan Muda Rido membuat baju mereka berdua kotor. Tuan Muda Rido yang mendapati dirinya didorong tentu saja balas mendorong, sehingga saling dorong mendorong terjadi membuat baju yang sudah di siapkan itu menjadi kotor.


Perkelahian mereka segera dihentikan oleh pelayan taman, mereka segera di damaikan karena dapat perintah untuk segera datang ke acara. Tuan Muda Arnel mengganti kembali pakaiannya dan meminjamkan pakaian kepada Tuan Muda Rido sebagai pertanggung jawaban telah mengotori pakaiannya di acara penting perusaahan.


"Kau selesaikan sepatu ini dan selesaikan tugas-tugas ku!" ucap Arnel sebelum meninggalkan Aira.


Mereka berdua diantar oleh sopir pribadi Tuan Muda Rido karena pak Tanto sopir pribadi Tuan Muda Arnel sedang sibuk ditugaskan yang lain oleh Ari Damrah. Mereka berdua duduk dibelakang seperti orang bisu, hanya diam selama perjalanan.


Mereka larut dalam pikiran masing-masing, mungkin memikirkan bagaimana nanti berfoto disana, atau pertanyaan kenapa mereka bisa setelat ini. Tapi, pikiran mereka sangat berbeda.


"Cih, kesel banget rasanya aku harus satu mobil dengan brengsek ini! memakai baju kesayangku lagi!"


"Uh, dan sekarang apa yang dilakukan sibodoh cewek desa itu ya? setelah bersih-bersih pastilah mengerjakan tugasku dan baca buku pasti, dasar kutu buku!" Arnel bergumam dalam hati sambil tersenyum malu mengingat gadis desa itu.


"Sebenarnya aku jijik pakai baju dia! tapi harus bagaimana lagi? kalau kembali pulang akan terlambat. Tapi aku punya kabar baru, besok disekolah kalian lihat saja! apa yang aku lakukan! tunggu saja!" Rido bergumam dalam hati sambil tersenyum simpul membayangkannya.

__ADS_1


Mereka terus larut dalam pikiran mereka masing-masing, sampai mereka berhenti didepan gedung yang sangat tinggi dan megah. Mereka disambut staf perusahaan dan disusul oleh Sekretaris Zack dan sekretaris Arman Wijaya.


Mereka melakukan pemotretan dengan lancar, setelah itu mereka melakukan makan bersama direstoran mewah bintang lima dengan penuh canda dan tawa. Tentu saja tidak dengan dua pemuda itu yang memang tidak bisa baik dan akrab satu sama lain, hanya berpura-pura tersenyum.


__ADS_2