
"Apa kamu sangat cemburu Na? kalau kamu cemburu mending kita pergi, jangan ikuti mereka lagi deh! ujar Wanda.
"Cemburu sih, tapi rasa senangku lebih tinggi melihat mereka tersenyum bahagia seperti itu," jawab Una.
"Kamu Naif!"
Una hanya tersenyum simpul mendengar Wanda mengatakannya Naif.
"Aku menyukai Yangki sejak kecil, aku berjuang dari dulu, aku tidak pernah melihat dia begitu senang dengan orang lain, kecuali bersama orangtuanya, saudara laki-laki nya Yuhen, dan Aira."
"Semua keinginan nya selalu di turuti oleh saudara laki-laki nya dan orang tuanya, kamu tau kan keluarga Admaja gak kalah hebat sama keluarga Damrah?"
"Iya aku tau Na, jika keluarga Damrah keluarga nomor satu di negara kita, Admaja keluarga nomor dua setidak-tidaknya, kalau dibanding uang mungkin mereka sama, tapi keluarga Damrah kekuasaannya menaklukan semua orang lebih kuat," jawab Wanda.
"Iya, itu lah sebabnya aku baru kali ini melihat Yangki mendapatkan lawan yang tangguh seperti Arnel, aku dulu waktu kita SMP masih berpikir Yangki mendekati Aira karena ia merasa tersaingi oleh Arnel, begitu pula Arnel."
__ADS_1
"Tapi... seperti nya aku salah! semakin hari aku melihat mereka berdua sungguh-sungguh menyukai Aira, mereka bersaing dan mereka sama-sama kuat."
"Aku pikir Yangki akan menjadi pemenang, karena dia lembut, perhatian, dan selalu menjaga Aira, aku saat itu yakin Aira akan jatuh hati pada Yangki. Namun akhir-akhir ini aku melihat perubahan yang banyak dari Tuan Muda egois yang manja itu, apa kamu tau Nda?"
"Iya Na, aku juga gak nyangka kalau Tuan Muda Arnel akan berubah banyak, padahal waktu itu aku lihat dia kasar dan suka marah-marah pada Aira, mengatai Aira pembantu, mempunyai banyak pacar bahkan pacarku Andi pernah bercerita kalau dulu Aira sering di bully sama dia."
"Bahkan Andi pernah di suruh melempar bola ke makanan Aira, murid-murid di sekolah dasar di larang berteman dengan Aira satu orang pun, uang belanja nya juga di ambil, makanya sampe bawa bekal. Bahkan ia sampai membawa bekal waktu SMP karena kebiasaan," sambung Wanda.
"Iya, saat aku lihat dia bawa bekal aku ketawa merasa lucu aja, udah besar masih bawa bekal," ucap Una.
'Ahahahah' Wanda tertawa terbahak-bahak.
"Dan setelah itu kamu juga bawa bekal kan?" ejek Wanda.
Una hanya membalasnya dengan tersenyum.
__ADS_1
Di beberapa meja dari meja Aira dan Yangki, Arnel dan teman-teman nya duduk sambil memesan mie telur rebus dan es teh bersama teman-temannya, ia beberapakali masih melirik ke arah meja Aira dan Yangki.
Apa begitu senangnya makan sambil siapin kerupuk ke mulut begitu? aku juga bisa siapin kamu makanan? kamu mau makan apa? jangankan kerupuk, apapun yang kamu mau, akan aku suapain! gerutu Arnel dalam hati.
"Enak gak mie nya boss? katanya sih enak di sini? kalau gak enak kita pesan makan dari restoran aja deh nanti," tanya salah seorang teman Arnel.
"Enak kok, gak usah makan milih-milih deh! ngerepotin satpam nanti nganter ke dalam, karena orang luar mana bisa nganter sampai kedalam, cuma bisa dititip di pagar sekolah," jawab Arnel cool.
Tumben nih! si boss gak banyak unek-unek, batin beberapa teman-teman Arnel.
"Boss benar, maaf kami lupa tadi. Kami kawatir aja kalau boss gak suka, soalnya tadi yang mengajukan ide ini kita," sambung salah seorang yang lainnya lagi.
"Enak kok, kalau gak enak gak aku makan kan?"
"Eh iya, iya boss."
__ADS_1
"Ya udah, cepat makan nanti keburu bel berbunyi," ucap Arnel.