
"Aku penasaran bagaimana kamu bisa menikah dengan Wanda, apa kamu tidak ingin berbagi cerita bahagia dengan ku?" goda Arnel memecah suasana.
"Seperti yang kamu tahu Nel, aku di pecat dari perusahaan Rido, aku luntang lantung kesana kemari, mencoba mengais rezeki kemanapun dan dimana pun."
"Maaf," lirih Arnel.
"Saat itu, aku merasa duniaku hancur, Ibu ku sakit dan aku butuh biaya untuknya, sedangkan aku pengangguran saat itu, aku saat itu sangat membenci kalian."
Arnel terdiam, ia menyadari betapa jahatnya ia saat itu. Jika ia tau Ibu Andi sakit saat itu, mungkin dia tidak akan setega itu. Tapi semuanya sudah terjadi, nasi telah menjadi bubur.
"Huft!" Andi menghembuskan nafas panjang dengan kasar.
"Waktu itu, satu-satunya orang yang mendatangi dan mengulurkan tangannya kepadaku hanyalah Yuhen, ia membawaku kerumahnya, ia membayar biaya rumah sakit ibuku. Walaupun akhirnya Ibuku meninggal."
"Hidupku benar-benar hancur rasanya, Ibuku lah orang satu-satunya yang ku punya, aku berjuang mendapatkan nilai dan beasiswa disekolah, mencari kerja dan bekerja dengan rajin itu untuk beliau."
"Beliau sudah tiada, Wanda pergi meninggalkan ku karena ia mendengar Aku dengan Aira, aku dipecat dari pekerjaan. Teman yang biasanya akrab denganku hanyalah kalian berdua dan Yangki, tapi semuanya meninggalkan aku sendiri."
"Karena kasihan, Keluarga Mama dan Papa Yuhen mengangkat aku menjadi anaknya, menganggap aku pengganti Yangki."
Beberapa saat Arnel dan Andi terdiam.
"Setelah aku di angkat menjadi anaknya, Yuhen membawaku keluar negri, ia mengajakku masuk kedalam perusahaan kecil yang ia dirikan di sana, aku sekolah sambil kerja disana."
"Ia sangat tau aku masih sangat mencintai Wanda, jadi dia mencari informasi tentang Wanda, berjumpa dengannya dan menceritakan semuanya, akirnya aku dan Wanda berjumpa untuk pertama kalinya setelah lama berpisah."
"Aku sangat bahagia saat itu, beban di jiwaku hilang semua. Ia memeluk ku dengan tangisan yang begitu pilu, selama ini dia begitu merindukan aku juga."
"Tidak lama aku mendengar Yuhen pulang ke negara kita kembali, dan saat itu ia memintaku melamar Wanda kepada ayah Hasan. Saat itu aku berpikir Yuhen pulang ada sesuatu yang mendadak atau ingin memberikanku kejutan kembali seperti dia mempertemukan ku dengan Wanda."
"Ia benar memberikanku kejutan, tapi kejutan yang membuat aku terkejut sampai susah bernapas."
"Aira dan Wanda, mereka saudara. Ingin rasanya saat itu aku berteriak kuat, bagaimana bisa? bahkan selama ini Wanda tidak pernah bercerita padaku begitupula dengan Aira, yang aku tau selama ini adalah Wanda berteman sangat akrab dengan Una, mereka baru berteman dengan Aira."
"Dan lagi, aku mendengar Yuhen berencana akan menikahi Aira, dan Aira akan bercerai denganmu."
"Aku sungguh tidak habis pikir dengan sifat mu saat itu! aku sangat kecewa."
"Apakah kamu tau? saat itu, aku bahkan setuju Aira menikah dengan Yuhen. Setidaknya Yuhen bisa melindungi Aira seperti Yangki mencinta Aira.
__ADS_1
Arnel menahan sesak di dada nya, ia tahu. Ia telah bersalah selama itu kepada Aira, ia mencinta Aira, tapi menunjukkan cintanya dengan salah, menyakitinya karena rasa cemburu yang berlebihan.
Arnel menghela nafas nya beberapa kali.
"Maaf, aku memulai luka yang telah lama kita tutupi beberapa tahun ini. Tapi itulah perasaanku selama ini, dan itulah kenapa aku bisa bertemu Wanda dan bisa menjadi bagian keluarga Admaja," terang Andi.
"Maaf, aku telah memberimu luka. Aku telah menyakiti semuanya, aku terlalu egois selama ini, aku terlalu menganggap diriku tinggi, terlalu menyepelekan semua."
"Terlalu percaya diri kalau aku lebih baik dari siapapun, namun kenyataannya aku bukan apa-apa," lirih Arnel, lantas air mata mengalir di ujung matanya.
Andi memeluk Arnel, mereka larut dalam kesedihan masa lalu.
"Sebenernya masih banyak yang belum kita ketahui, aku bahkan sangat penasaran kenapa ayah mertuaku dengan papa mu selama ini seolah bersembunyi dan tidak ingin bertemu, bahkan hari ini adalah hari pertama kita berjumpa sekeluarga," ungkap Andi.
"Iya, papa selama ini tidak pernah menceritakan nya kepadaku. Aku mengetahui Wanda saudara Aira beberapa hari lalu, itupun aku mengetahui nya dari Humaira putriku. Mungkin juga Agung dan Ronald baru mengetahuinya malam ini."
"Apakah Selly itu anak Yuhen?" tanya Arnel.
"Hm, iya."
"Anaknya cantik, baik dan ramah, pintar juga sama sepeti pamannya Yangki."
"Apakah Yuhen punya anak laki-laki?" Arnel bertanya.
"Tidak, Selly anak satu-satunya," balas Andi.
"Dia sangat dekat denganmu ya? bahkan dia memanggilmu juga dengan Ayah?"
"Hehehe, iya. Dia lebih sering dengan kami, ia sering merasa sedih jika di rumah. Aku bahkan sangat kasihan kepadanya."
"Kenapa?"
Andi gelagapan, " Ah tidak apa-apa, tadi aku cuma ngigau," jawabnya.
"Oh begitu, kalau begitu mari kita keluar. Mungkin Aira dan Wanda telah selesai. Mari kita ke meja makan," ajak Arnel.
Di taman belakang, Hasan dan Ari bermain catur di sana.
"Bagaimana kabarmu selama ini? ku pikir kau sekarang sudah mengerti apa itu artinya kehilangan? aku ingin menertawakan mu dengan kuat rasanya," ucap Hasan.
__ADS_1
"Huh! jika kau ingin menertawakan ku, tertawa saja, aku tidak butuh simpatimu," balas Ari.
"Hahahahaha," Hasan tertawa lantang.
"Aku senang melihat kau sekarang."
"Senang karena aku menderita? atau senang karena kau rindu aku."
"Kau narsis juga Kakek Tua," sindir Hasan.
"Aku pikir bukan narsis, tapi percaya diri."
Hasan menghela nafas panjang.
"Aku merindukan masa-masa kita dulu saat bersama papa. Saat kita bermain bersama dengan yang lainnya dan berjuang bersama," tutur Hasan.
"Semua itu menjadi kenangan indah untuk kita simpan di dalam hati, Bagaimana keadaan istrimu?"
"Bisakah aku bertemu dengannya? Aku ingin minta maaf padanya."
"Baiklah, kita akan bertemu kembali nanti, aku berharap istri ku bersedia memaafkan dan mau bertemu denganmu saudaraku."
Ari terenyuh saat mendengar Hasan memanggilnya kembali dengan 'Saudaraku', ia langsung berhambur memeluk Hasan.
"Apa kau sedang menangis Kakek tua?" ejek Hasan. lantas ia pun mengelap air matanya yang mengalir.
"Apa kau tidak sadar, kau juga menangis tua bangka," balas Ari.
Mereka akirnya terkekeh dalam tangis.
"Aku hanya berharap, kisah kita tidak terjadi lagi pada anak-anak, aku ingin terbaik untuk mereka semua."
"Apakah itu sebabnya selama ini kau menyembunyikan Wanda? kau menggantikan namamu dan nama belakangnya."
"Aku tidak mengganti, kau cuma kurang jeli, Bukankah aku menyebut namaku Hasan Nurdin D, dan D itu nama papa kita, Damrah."
"Kau memang licik pak tua."
"Jika aku tidak licik, tentu aku tidak akan bisa mengelabuimu, dan aku bisa membawa berita-berita penting untukmu selama kita merintis perusahaan Damrah Group dulu kan?"
__ADS_1
Ari lantas tersenyum simpul, mengingat seberapa licik dan kejamnya mereka dulu.