
Pesona mu yang ku puja...
Tak kan bisa aku lupa...
Belaian mu yang ku rasa...
Membuat aku terlena...
Begitulah bunyi nada dering handphone Arnel berbunyi diruangannya yang tertinggal sedari tadi, karena ia lupa membawa saat rapat.
Setelah rapat, ia masuk ke dalam ruangannya, memeriksa pesan atau pun panggilan di handphone nya tersebut, di sana tertera beberapa kali panggilan tidak terjawab dari Rido, akhirnya ia menelpon Rido.
"Hallo bro."
"Udah sampe mana?"
"Masih di pesawat, kan biasanya kau tau kalau aku sampai esok pagi!" jawab Rido ketus.
"Kirain dah sampe, kali aja kau pakai pesawat super," ledek Arnel sambil terkekeh.
"Sebenarnya ada yang mau aku omongin sama kau, tapi kau jangan banyak pikiran yang tidak-tidak setelah ini, ok!."
Arnel diam sejenak, lalu menjawab 'ok'.
"Tadi... aku cerita sama Aira, kalau aku bertemu dengan Yuhen saat berkunjung kerumahnya Yangki."
"Kau! kenapa harus kau beri tahu dia!"
"Untuk apa di tutupi? lambat laun dia juga akan tau, mungkin Yuhen akan mendatanginya, atau ia akan bertemu Yuhen dengan sendiri di rumah Admaja," jelas Rido.
"Atau kau masih berpura-pura tidak tahu kalau Aira hampir tiap tahun dan waktu-waktu tertentu berkunjung kerumahnya Admaja," sambung Rido.
Arnel menghela nafas panjang, ia selama ini memang berpura-pura tidak tahu kalau Aira diam-diam pergi ke rumah Yangki, selama ini dia diam saja, karena tidak ingin membuat Aira merasa di kekang dan ia masih menunggu Aira terbuka kepadanya untuk berkata jujur.
"Hei! apa kau masih dengar? kenapa kau diam saja?" tanya Rido memaki nya.
__ADS_1
"Kau benar, aku memang berpura-pura. Berharap ia akan bebas menemui nya dan suatu hari ia akan berkata jujur pada ku, jika ia ingin menemui Yangki tanpa harus diam-diam dibelakang ku."
Rido menghela nafas kasar disebrang sana, ia bisa mengerti kenapa Aira diam-diam pergi ke rumah Yangki karena terjadi beberapa masalah dengan Arnel saat menyebut nama Yangki, mereka akan ribut dan bertengkar.
Ia paham, Arnel sangat cemburu dengan Yangki, begitu pula ia dahulu juga cemburu kepada Yangki.
"Aku punya saran untukmu, jika kau mau mendengarkan nya!"
"Apa? katakanlah!"
"Semua yang kau lakukan telah benar, untuk berpura-pura tidak tahu selama ini. Tapi, akan lebih baik kamu bertanya kepadanya secara halus dan pelan, jangan memancing keributan. Mungkin seperti kau bertanya 'Adakah yang ingin kau katakan? atau adakah rahasia yang menjanggal, maka katakanlah', setidaknya begitu, menurutku."
"Tanya dan lakukan dengan manis, jangan bertanya dengan egoismu!" jelas Rido.
"Baiklah, jangan kawatir. Aku bukanlah Arnel bocah SMA dan berandalan kuliah lagi, aku sudah dewasa tentu saja bisa menggoda istriku, bukan seperti kau yang tidak bisa menggoda." ejek nya kepada Rido.
"Sialan, sekali kedip istriku langsung terpesona, dan sangat bergairah," gerutu nya di sebrang sana.
'Hahahaha...' Arnel terkekeh.
"Ya sudah kalau begitu godalah istrimu dengan kedipan, agar dia bergairah. Aku ada yang perlu dikerjakan," ucap Arnel lalu mematikan panggilan telepon nya bersama Rido.
Ia masuk ke dalam rumah yang disambut oleh putri cantik nya Humaira, dan sapaan malam dari Ronald, sedangkan Agung sedang asik bermain catur dengan kakek Ari.
Ia langsung menuju meja makan, di sana telah duduk Aira yang sedang duduk termenung. Ia mengelus rambut Aira lalu mencium keningnya. Aira tersadar dari lamunannya, ia segera bersalaman dengan Arnel dan mencium punggung tangannya.
Ia membukakan jas dan dasi Arnel, meletakan nya di baju kotor.
"Apa Mau mandi dulu atau makan?" tanya Aira.
"Makan saja dulu sayang, aku lapar." jawab nya.
Arnel mencuci wajah dan tangannya di westafel, mengeringkan wajahnya yang basah dengan tisu. Ia duduk dan menikmati makanan yang telah di hidangkan Aira, sekali-kali ia melirik Aira yang menemaninya makan dengan melamun.
Arnel sebenernya tidak menyukai sifat Aira yang seperti ini, jika ia telah berkunjung dari rumah Yangki. Ia yakin, hari ini pasti Aira pergi ke rumah Admaja menemui Yuhen.
__ADS_1
Huh, dasar kawan bodoh. Untuk apa dia menceritakan nya pada istri ku? akhirnya aku harus melihat muka murung saat aku lelah pulang dari bekerja.
"Bagaimana hari ini sayang, lancar kan tadi perjalanannya ke bandara?" tanya Arnel membuyarkan lamunan Aira.
"Iya sayang," jawab nya.
Setelah beberapa menit, ia selesai makan dan duduk istirahat sejenak, ia mengajak Aira ke kamar untuk menyiapkan air hangat. Ia ingin mandi karena merasa badannya lengket.
Sesampai di kamar, Arnel duduk di sofa. Sedangkan Aira langsung menyiapkan air hangat di bathup.
Arnel menghela nafas panjang, memikirkan yang di katakan Rido tadi. Lebih baik aku bertanya, karena dengan watak Aira yang pendiam dan penurut dari dahulu, ia tidak akan memulai berbicara jika tidak di pancing, pikirnya.
"Air nya sudah siap," ucap Aira sambil berjalan menuju lemari pakaian.
Ia memilih baju kaos dan celana boxer, lalu meletakkan nya di atas kasur.
"Ayo sayang mandi, jangan melihat handphone lagi. Nanti air nya keburu dingin."
Arnel meletakan handphone nya, membuka baju kemeja yang juga dibantu oleh Aira. Lalu, ia berdiri dan membuka celana panjangnya, sekarang ia hanya memakai ****** ***** saja.
Ia memegang wajah Aira, menatapnya lekat. Tatapan itu terjadi beberapa detik, membuat Aira salah tingkah dan mendorong tubuhnya dengan handuk kearah dadanya.
"Sayang, mandi sana," ucap Aira mendorong dada Arnel dengan handuk.
Arnel menghela nafas nya, lalu memegangi ke dua pipi istrinya itu. Menatapnya lama.
"Sayang, apakah ada yang ingin kamu katakan padaku, aku merasa hari ini kamu terlihat murung," ucap Arnel.
Aira terdiam cukup lama menatap Arnel, kemudian ia menundukkan pandangannya. Setelah melihat Aira menundukkan pandangan itu, Arnel melepaskan tangannya yang memegangi pipi itu.
"Jika kamu tidak ingin bercerita dengan ku tidak apa-apa sayang, tapi jika kau ingin mengatakannya, maka katakan lah," jelas Arnel lalu berjalan ke kamar mandi.
Arnel masuk ke dalam kamar mandi, berendam cukup lama di bathup yang berisi air hangat itu, ia memejamkan matanya, menghirup aromatherapy dari sabun yang harum dan menenangkan itu.
Ia terus berpikir keras, dan menenangkan pikirannya. Ia harus lebih tenang tidak boleh egois, pikirnya.
__ADS_1
Aira terdiam dan terduduk menyenderkan kepala belangkangnya di sandaran sofa empuk yang di duduki suami nya tadi. Ia beberapakali bernafas panjang dan menghembuskan nafasnya dengan kasar.
Ia berfikir keras, bagaimana mungkin selama ini, ia tidak jujur bepergian ke rumah Yangki, sudah saat nya ia berkata jujur, walaupun akhirnya ia akan di marahi suaminya, pikirnya.