
Sebelum aku tidur, aku berpesan agar pengawalku bisa melacak kebenaran tentang Aira yang diceritakan Rido padaku. "Ia telah dijodohkan dengan Arnel sejak kecil, apa kau masih yakin untuk mengejar cintanya? yang pasti bukan milikmu."
"Untuk apa aku harus percaya padamu!"
"Hahahahaha... kau boleh tidak percaya padaku, tapi kenyataannya aku telah pergi ke rumah Ari Damrah, dan ia lah yang memberitahukan kepada saya," ucap pemuda egois itu padaku.
Aku memijat kepalaku, sambil memejamkan mataku. Berharap nyeri diwajahku bisa hilang dan sembuh. Setelah banyak berpikir seharian ditambah memar ditubuhku, akhirnya aku tertidur dengan nyenyak.
Setelah aku terbangun dan membersihkan diri, aku akirnya menerima informasi dari pengawalku. "Bagaimana dengan informasi yang aku minta kepada paman? Apakah Paman sudah mendapatkan infonya?"
"Iya, kami sudah mengetahuinya Tuan Muda."
"Benarkah? coba ceritakan padaku paman!" pintaku penasaran. "Nona Muda Aira tinggal dirumahnya keluarga Damrah karena kedua orangtuanya meninggal dunia sejak ia kecil. Orang tua Nona Muda Aira kawin lari, jadi tidak diketahui keluarga mereka. Hanya Ari Damrah lah yang diketahui satu-satunya teman dekat orang tuanya. Jadi Damrah menjadi keluarganya satu-satunya sekarang."
"Oh, jadi begitu. Lalu kenapa mereka bisa dijodohkan?" tanyaku sangat penasaran. Aku berpikir kenapa tidak diadopsi saja, biar mereka adik kakak, kenapa harus dijodohkan! apakah ada rahasia politik disana, Pikirku.
"Maaf Tuan Muda, jika masalah itu kami belum tau pasti. Tapi, kita semua belum mendengar pengumuman kalau mereka dijodohkan ataupun dipertunangkan."
"Baiklah kalau begitu. Terimakasih paman, aku mau tidur dulu, silahkan lanjutkan kembali aktivitas nya lagi." Aku terdiam dan terus berpikir. " Ah! kenapa aku harus pusing, mereka kan belum menikah! Kita semua masih kecil, masih banyak waktu. Lagian aku dan Aira berteman, jadi tidak masalah kan kalau berbicara atau bertemu." Aku terus-terusan bermonolog dengan hatiku.
____
Keesokan nya disekolah, aku masih melamun memikirkan tentang perjodohan Arnel dan Aira. Mengingat kembali ancaman Rido dan juga Arnel secara bersamaan. Yang satu meminta menjauhi Una yang sama sekali tidak pernah kusukai.
__ADS_1
Yang satunya lagi memintaku menjauhi Aira yang sangat aku cintai. Aku sungguh merasa dilema.
"Mungkin lebih baik aku menjauhi semuanya, mungkin aku harus menghabiskan waktuku membaca di perpustakaan dan olahraga bersama teman-teman." Aku berkata pada hatiku sendiri, tanpa ku sadari kalau gadisku telah mengajakku bicara beberapa kali, tapi aku terlalu fokus dengan pikiranku hingga aku tak mendengarnya.
Ia menatapi aku lama, aku membalasnya dengan tersenyum hangat. Lalu aku diam dan sibuk menatap kedepan, aku tau mungkin dia sekarang sedang berpikir aku berprilaku aneh hari ini.
Aku menjauhi Aira gadis pujaanku, sampai jam pulang berbunyi, aku melihat Rido si pemuda sombong itu meletakkan tumpukan buku yang banyak di atas meja gadisku. Aku mendengar beberapa orang mencemooh dan menghina gadisku.
"Hei kutu buku! kau tuli ya? kerjakan buku ini! besok harus selesai, kalau tidak kau tau akibatnya!" ancam si pemuda sombong itu.
Perkataan itu membuat Pemuda Egois jengkel sekali, dia langsung berdiri dan membela Aira, gadisku. "Apa maksudmu menyuruh dia menyelesaikan tugasmu?!" tanya pemuda egois itu berdiri dari duduknya dengan tatapan tajam.
"Maksud ku? tentu saja menyuruhnya agar tugasku selesai!" jawab Pemuda Sombong itu santai sambil tersenyum sinis. Arnel berjalan mendekati meja Aira dan membanting semua buku yang berada diatas meja itu, lalu memarahi Aira, gadisku.
Rido memungut semua buku-bukunya yang telah dibuang oleh Arnel, ia terkekeh sambil berujar yang membuat emosi Arnel menggebu. "Aku heran apa hak mu membuang buku ku? yang aku suruh dia bukan kau!" ucapnya. "Kau tidak punya hak untuk menyuruhnya!" balasnya. "Lalu kau punya hak?"
Rido bertanya kembali. "Tentu saja!" jawab Arnel. "Oh aku penasaran, hak seperti apa? apa dia pacarmu? atau tunanganmu?" sindir Rido. "Bukan urusanmu!" ketus Arnel.
"Tentu saja urusanku, karena tadi kau bilang mempunyai hak. Jadi, aku ingin tau hak apa yang kau miliki sehingga bisa melarangku menyuruhnya dan kau membuang buku ku."
"Kau bisa menyuruh orang lain yang kau suka untuk diperintah, tentunya selain dia!"
"Ahahahahaha.... kenapa harus selain dia? aku suka menyuruh dia, karena jawaban dari latihan dia pasti benar, dia pintar dan tulisannya rapi, itu lebih baik dari pada yang lain."
__ADS_1
"Aku bilang selain dia!" ucap Arnel dengan hawa ingin memukul sampai babak belur.
"Kenapa? kau bisa suruh dia kenapa aku tidak!" tanya Rido pada Arnel. "Karena dia!....." jawab Arnel sedikit tersendat.
"Dia..? pacarmu...? tunanganmu...?" tanya Rido antusias sambil memicingkan pandangan nya ke arah ku yang diam memandangi perdebatan itu. "Huh! dia pembantuku! hanya aku yang bisa memerintahkan nya, dan kau tidak punya hak!" ucap Arnel, membuatku ingin menghajar mulutnya.
"Waduh sayang sekali dong, aku kira tunanganmu. Kalau pembantu, siapapun bisa menyuruh dia dong? ahahahahaha" jawab Rido terkekeh.
Aku bisa melihat Aira merasa sedih mendengar jawaban Arnel. Aku yang mendengarkan kata "pembantuku" langsung merasa kesal berjalan mendekati Aira dan menarik tangannya pergi keluar kelas. Aku kecewa sekali mendengar bahwa Arnel hanya menganggap Aira hanya pembantu.
Sejak semalam aku berfikir keras, agar bisa mencoba menjauhi Aira, bahkan tadi aku menghabiskan waktu bermain voli dengan teman-teman agar bisa menjauh. Tapi sekarang aku bertekad untuk selalu bersama Aira, dengan melihat perlakuan Arnel selama ini, aku merasa perjodohan ini adalah tindakan egois keluarga.
"Apa? dia hanya menganggap Aira pembantu? dia mengelak? mengatakan kalau Aira bukan tunangannya?"
"Dia benar-benar keterlaluan! dia menyuruh Aira mengerjakan tugasnya karena ia menganggap pembantu! mulai saat ini aku tidak akan mengalah, walaupun papamu menjodohkan kau dengan Aira."
"Aku sangat yakin, ini hanya ke egoisan papamu yang menyekolahkannya, aku akan selalu berada di sisi Aira mulai sekarang walaupun kau melarang," aku bermonolog dengan hatiku.
Langkahku terhenti dihadang oleh Arnel, ia marah dan memukulku. Tapi aku mengelak dan menangkisnya hingga terjadi perkelahian di dalam kelas itu. "Lepaskan tangan dia!" hardik Arnel kepadaku. Aku diam saja, dan terus mencoba berjalan sambil menarik tangan Aira.
"Kau tuli? lepaskan tangan sampahmu itu darinya!" Ia berteriak kembali. "Kalau aku tidak mau, kenapa?!" balasku. "Kau!" Ia berteriak dan memukulku. "hehehehehe." Aku terkekeh.
"Kau masih berani tertawa? lepaskan tanganmu!" Ia berkata kembali, menatapku tajam yang terkekeh padanya. "Apa hakmu? dia bukan pacar atau tunanganmu! jadi tidak ada hak kau untuk melarangku memegang tangannya, dan lagian ini masih di sekolah! bukan di jam pembantu, pembantu itu kerja dan patuh kalau dirumahmu." terangku padanya.
__ADS_1
Arnel sangat marah lalu memukulku kembali, aku akhirnya juga terpancing emosi dan berkelahi. Kelas menjadi ricuh, teman-teman yang menonton perdebatan dari tadi banyak yang lebih memilih pergi dari pada kena getahnya dan sebagian pergi ke kantor untuk menemui guru agar melerai kami.