(Masih Revisi) Danau Hijau Buatan Kakek

(Masih Revisi) Danau Hijau Buatan Kakek
Pusaramu


__ADS_3

Humaira terduduk lemah.


“Aku sangat penasaran denganmu, bukan seperti ini yang aku inginkan, bukan pusaramu yang ingin ku jumpai, Paman...” ucap Humaira lirih. Tak terasa air matanya mengalir.


Rasa penasaran yang begitu sangat besar, membuatnya begitu terluka saat mengetahui semua ini. Ia menatap wajah semua orang yang terlihat lebih sendu darinya.


“Aku yang hanya mengenal Paman Yangki dalam sebatas cerita saja, begitu sedih. Apalagi Mama, Papa, dan semua orang yang kenal dekat dengannya.” lirih Humaira dalam hati.


Aira memeluk erat Humaira. Rindu yang dalam untuk seseorang yang pernah membuat hari-hari nya bahagia, membuatnya nyaman dan merasa aman di dekatnya. Rindu yang paling menyakitkan, rindu yang tiada obatnya, mungkin hanya do'a yang bisa dihadiahkan untuknya di sana.


Yuhen mengelus kepala Humaira setelah Aira melepaskan pelukannya dari tubuh putrinya.


“Jangan bersedih cantik, Paman Yangki bisa sedih melihat kamu yang bersedih. Kemarilah!” ajak Yuhen.


Ia memberikan sebuah gelang giok cantik berwarna hijau. “Ini untukmu, Sayang.” ucap Yuhen tersenyum manis.

__ADS_1


“Untukku, Paman?” tanya Humaira.


“Iya, ini dari Paman Yangki. Dulu, sebelum meninggal, Ia berpesan, jika nanti Mamamu melahirkan seorang putri, Paman harus memberikan gelang ini pada anaknya. Namun Paman selama ini di Luar Negri, jadi sedikit terlambat memberikannya padamu. Tak apa-apa kan, Sayang?”


“Makasih, Paman.” Humaira berhambur, memeluk Yuhen. Air matanya mengalir deras.


Jika seandainya, Rasa penasaran dan rindu pada orang yang sangat ingin Ia jumpai itu bisa dipenuhi, mungkin Ia akan berhamburan dan memeluk lebih erat dari memeluk Yuhen, dan akan meraung keras.


“Paman, begitu tulus dan ikhlas engkau mencintai Mama, bahkan kau juga mengingat untukku yang tak akan pernah kau jumpai, wajar Papa cemburu padamu Paman. Bahkan, aku pun juga akan jatuh hati padamu.” ucap Humaira dalam hati, menatap sedih ke pusara.


Humaira, Aira, Yuhen berjalan menjauh dan meninggalkan pusara.


Mereka kembali duduk bersama di taman, di temani oleh Alex dan Selly. Serta Andi dan Wanda. Mereka bersenda gurau menikmati cemilan dan minuman yang dihidangkan oleh pelayan.


Ya, setidaknya, rasa sedih di hati Humaira terasa menghilang dengan senyuman tegar dari semua orang yang berada disini.

__ADS_1


“Ini kue apa? Lembut sekali.” tanya Humaira saat brownies itu lumer di mulutnya.


“Ini namanya brownies salju.” jawab Yuhen.


Semua wajah kembali terlihat tegang, saat Humaira berucap, “Aku sangat menyukainya, terasa lembut dan menenangkan, terasa manis dan menggembirakan, ***** dimulut namun rasa tak pernah hilang.”


Kata-kata Humaira mengingatkan semua orang kepada Yangki. Brownies salju adalah kue yang paling disukai olehnya, saat ia bersantai, apalagi saat melukis, ia selalu meminta brownies salju.


‘Lembut dan menenangkan, manis dan menggembirakan, tiada tapi tak pernah hilang.’ Itu adalah ucapan Yangki saat memandangi setiap lukisan yang telah selesai Ia lukis.


Lembut dan menenangkan, itu adalah kenangan saat Ia menatap wajah cantik Aira yang baik hati dan penurut, manis dan menggembirakan, itu adalah saat Ia berada di sisi Aira, Ia akan selalu gembira dan selalu tersenyum, bahkan dengan hanya mengingat Aira saja, dia telah bahagia.


Tiada tak pernah hilang, baginya, Maupun Aira menjadi miliknya ataupun tidak, cintanya tak akan pernah hilang untuk Aira.


“Syukurlah, kamu menyukainya.” ucap Yuhen mengelus kepala Humaira.

__ADS_1


**


__ADS_2