(Masih Revisi) Danau Hijau Buatan Kakek

(Masih Revisi) Danau Hijau Buatan Kakek
Pemandangan Aneh


__ADS_3

Kebersamaan dua keluarga besar Ari Damrah dan Arman Wijaya berlangsung cukup lama, mereka bersenda gurau direstoran mewah ini, hingga waktu magrib berkumandang. Setelah magrib keluarga besar Arman Wijaya kembali pulang kerumahnya.


"Bro, bajumu besok aku kembalikan ya, setelah dicuci pelayanku," ucap Tuan Muda Rido kepada Tuan Muda Arnel.


"Oh, ok," jawab Tuan Muda Arnel.


"Siapa yang bakalan mau terima baju yang bekas kamu pakai? yang ada aku bakalan buang baju itu, huh!" gumam Tuan Muda Arnel dalam hati.


Begitu pula dengan Sekretaris Zack dan Ari Damrah mereka kembali kekantor, membersihkan diri disana dan melanjutkan pekerjaannya yang masih banyak, ia akan bertemu beberapa orang penting lagi. Sedangkan Tuan Muda Arnel kembali pulang diantar oleh sopir pribadi nya Pak Tanto.


Sebelum ia pulang, Ari Damrah berpesan padanya membawakan beberapa makanan kesukaan Nona Muda Aira, Ari Damrah telah memesan dan membungkusnya untuk dibawa pulang oleh Tuan Muda Arnel.


"Bawakan makan ini untuk Aira! dia suka dengan kepiting pedas ini!" pinta Ari Damrah.


"Kenapa harus aku yang bawakan pa? dia bisa suruh pelayan masak atau minta belikan pelayan," jawab Tuan Muda Arnel.


"Apa salahnya kamu bawakan dia makanan, dia sudah banyak membuatkan latihan mu kan?"


"Darimana papa tau kalau aku suruh dia bikin tugas? apa cewek desa itu ngadu ke papa ya? awas aja dia!" gumam Tuan Muda Arnel dalam hati.


"Tidak kok pa, mana ada! aku cuma nanya-nanya aja, kan dia juara satu terus dan aku biasanya juara dua, jadi wajar nanya dia kan pa?" jawab Tuan Muda Arnel mengelak.


"Oh begitu, baguslah kalau begitu," ucap Ari Damrah tersenyum simpul.


Sedangkan dirumah, Nona Muda Aira yang selesai mencuci sepatu yang sangat banyak itu kelelahan, bersandar dikursi meja makan sambil menunggu makanan dihidangkan Bi Susi, ia sangat lapar karena pulang sekolah langsung disuruh mencuci sepatu dan ia belum makan.


Ia makan dengan lahap, gadis mungil berkacamata itu begitu banyak makan siang menjelang sore ini. Biasanya ia makan satu piring, sekarang ia makan nasi dua piring ditambah satu mangkuk salad buah, sampai sendawanya begitu keras berbunyi keluar.


Selesai makan, ia meletakan piring kotor didapur. Ia menaiki tangga menuju ke atas kamarnya, rasa ngantuk mulai menjalar dibola matanya setelah makan kekenyangan. Ia beberapakali menguap sepanjang perjalanan menuju ke kamar.

__ADS_1


Ia membuka pintu kamar dan hendak merebahkan tubuhnya diatas kasur, mungkin tidur hingga waktu ashar datang. Tapi matanya tertuju ke tong sampah disudut kamar, ia melihat buku yang sangat berkesan dalam hatinya itu terbuang disana.


Ia segera berjalan kesana dan mengambil buku itu, ia menyimpan buku itu dengan sangat rapi dan berhati-hati agar Tuan Muda Arnel tidak bisa menemukannya. Jika ia sampai menemukannya bukan hanya buku yang akan dibuang, mungkin dia juga akan dihukum.


Tuan Muda Arnel telah memberikan dia banyak buku, walaupun bukunya bagus dan lebih banyak dari pada buku yang diberikan Tuan Muda Yangki. Tapi nilai harganya berbeda, buku dari Yangki memberikan kesan yang mendalam untuknya.


Setelah menyimpan buku, ia merapikan kamar, membuka bajunya dan mulai merebahkan tubuhnya di kasurnya yang bermotif bunga rose. Tidak lama merebahkan tubuhnya ia pun tertidur lelap hingga Tuan Muda Arnel membangunkannya.


Di dalam mobil dengan wajah murka, Tuan Muda Arnel menarik-narik kresek pembungkus makanan yang ia bawa pulang. Ia merasa malu harus menenteng makanan untuk cewek desa itu didepan Tuan Muda Rido yang tersenyum sinis kepadanya.


Saat ia sampai di dalam rumah, azan magrib berkumandang. Ia segera menaiki tangga naik menuju kamar nya, ia segera membersihkan dirinya dan mengantarkan makanan yang ia bawa kedalam kamar Nona Muda Aira.


Ia sangat kesal melihat Nona Muda Aira tertidur lelap, padahal waktu magrib sangat dilarang untuk tidur. Ia membangunkan dengan menarik selimut Nona Muda Aira yang akhirnya membuat ia malu sendiri.


"Dasar cewek desa! dia tidur enak, magrib-magrib begini?!" gumam Tuan Muda Arnel dalam hati.


Matanya terbelalak melihat pemandangan aneh yang tidak pernah ia lihat selama ini, ia segera membalikan badannya, meletakan makanan itu diatas meja dan segera berlari keluar dari kamar Nona Muda Aira dengan jantung berdebar-debar.


Ia segera menutup pintu kamar Nona Muda Aira dan memegang dadanya yang terasa Aneh, ia segera menuruni anak tangga dan memanggil Bi Susi pelayan pribadi mereka.


"Bi! bi Susi!!" teriaknya.


"Iya Tuan Muda, ada apa? ada yang bisa bibi bantu?" tanya sang bibi.


"Anu..."


"Anu apa Tuan Muda?" bibi kurang mengerti."


"Itu... coba bibi bangunkan cewek desa itu! tidur magrib-magrib begini, dasar dia cewek pemalas."

__ADS_1


"Oh begitu, baik Tuan Muda bibi segera membangunkan. Mungkin Nona muda kecapekan, biasanya ia tidak pernah tidur sampai jam segini."


"Hm?! ya sudah bi, bangunkan saja!"


"Diatas meja itu ada makanan yang dikirim papa untuk dia, katanya kepiting pedas kesukaan dia."


"Dan bilang sama pak Tanto untuk jemput aku jam 10 malam nanti, aku mau main ketempat temanku digerbang kedua. Aku pergi dulu bi, temanku sudah menunggu diluar."


Tuan Muda Arnel keluar menemui temannya yang sudah menunggu di teras. Selama perjalanan menuju rumah temannya yang tinggal di perumahan elit digerbang kedua danau hijau itu, ia selalu teringat pemandangan aneh dikamar Nona Muda Aira.


"Sial, mataku dan pikiranku bisa-bisanya hanya memikirkan tubuh cewek desa itu!"


"Huh! dasar cewek desa gak bisa jaga diri! kenapa sih dia tidur cuma pakai pakaian pendek begitu? dan pakaian aneh apa yang dia pakai sependek itu?"


"Jika itu singlet seharusnya panjang? tapi, tadi pusatnya kelihatan dan... ahhhhh..... kenapa aku malah lihat dada nya dia sih!" gumam Tuan Muda Arnel sambil mengacak-acak rambutnya.


"Oh, mungkin pakaian pendek yang aneh itu untuk menutupi dada nya yang besar seperti dada bi Susi?"


"Tapi..., Bi Susi dada nya besar karena ia menyusui anak nya! dan kenapa dada cewek desa itu sejak masuk SMP menjadi besar begitu? biasanya dada nya seperti dada ku?" pikir Tuan Muda Arnel dalam hati.


Pikiran Tuan Muda Arnel melayang ke sana kemari memikirkan pemandangan aneh tadi, mungkin dia yang terlalu bodoh atau memang karena kurang pendidikan tentang tubuh wanita karena ia besar dengan papanya. Sedangkan pelayan perempuan termasuk bi Susi hanya sekedar menyiapkan keperluan makanan dan pakaian, sedangkan bagian pendidikannya diserahkan kepada pria dingin yang bernama Zack.


Ia masih melamun sampai ia dikejutkan oleh temannya karena sudah sampai dirumah temannya, sedangkan Bi Susi segera naik keatas kamar Nona Muda Aira setelah Tuan Muda Arnel menyuruhnya membangunkan Nona Muda itu.


Ia membuka pintu kamar Nona Muda itu, ia melihat selimutnya setengah terbuka sampai kaki, Nona Muda itu hanya tidur menggunakan bra dan ****** ***** saja. Ia mengedarkan pandangannya dan melihat kotak makanan diatas meja belajar Nona muda itu.


"Oh, Tuan Muda sudah besar sekarang, itu alasannya ia menyuruh membangunkan Nona Muda karena ia malu."


"Tapi...., kenapa Nona Muda tidur tanpa baju begini ya? apa pendingin ruangan rusak ya?" gumam bi Susi dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2