
Bi Susi menaikan selimut yang terbuka itu kembali menutupi tubuh Nona Muda Aira, agar saat ia terbangun tidak merasa malu karena biasanya ia tidak pernah tidur seperti ini. Bi Susi menggoyangkan lengan Nona Muda Aira secara perlahan agar ia terbangun.
"Non... ayo bangun sudah magrib, sudah waktunya bangun."
"Non..." ucap sang bibi terus menggoyangkan lengan Nona Muda itu.
Akhirnya setelah beberapa kali dibangunkan, ia mulai menggoyangkan tangan dan kakinya, mengernyitkan matanya lalu mengucek nya, menggeliat ke kanan dan ke kiri lalu perlahan duduk dan menggerakkan tubuhnya kekiri dan ke kanan.
Ia baru tersadar dan segera menarik selimut menutupi dadanya, sang bibi hanya tersenyum kecil melihat Nona Muda itu malu. Ia segera pergi dan membawa bingkisan makanan yang ada diatas meja untuk dipanaskan didapur.
"Bibi, kok aku gak pakai baju?"
"Bibi juga gak tau Non, bibi baru masuk soalnya sudah magrib, oh iya tadi ini makanan dari Tuan Muda Arnel apa bibi panasin dulu ya?"
"Eh iya aku lupa, kan awalnya aku mau mandi, karena kekenyangan aku jadi ngantuk, niat tiduran setengah jam malah tidur sampe magrib..hehehehe," cekikan Aira dalam hati.
"Emang apa itu bi? tumben bawa makanan? jangan-jangan bukan makanan lagi?"
"Tuan Muda Arnel kan reseh, jangan-jangan sesuatu mau ngerjain aku, kan tadi dia juga udah marah-marah saat mau pergi sama Rido," gumam Aira dalam hati.
"Hehehe... ini kepiting pedas, Tuan Besar Ari Damrah yang meminta Tuan Muda membawa pulang untuk Nona," ucap sang bibi.
"Maksudnya tadi Tuan Muda masuk ke kamarku?"
"Anu... tidak Non, tadi bibi yang meletakkan. Tadi tuan Muda menitipkan sama bibi," dusta sang bibi.
"Bisa malu besar nanti Nona muda atau pun Tuan Muda kalau aku kasih tau hehehe," gumam sang bibi dalam hati.
__ADS_1
"Oh begitu, baiklah Bi. Sekarang aku mau mandi dulu deh, bibi panaskan saja dulu. Nanti aku selesai mandi langsung makan."
Nona Muda Aira pun segera mandi, setelah mandi ia segera turun menuju ruang makan yang telah tersedia kepiting pedas panas dengan beberapa sayur dan sepiring nasi. Ia makan dengan lahap, setelah makan dengan lahap ia meletakkan piring kotor didapur dan kembali menuju ke kamar untuk memeriksa tugas-tugas disekolah besok dan menyiapkan mata pelajaran esok hari.
Sedangkan di rumah lain, di rumah keluarga Admaja. Mami dan papi Yangki sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing, begitu pula dengan Yangki sedang berbicara dengan pelayan pribadi nya dan dua bodyguard nya dihalaman belakang rumah dekat kolam ikan.
"Bagaimana informasi yang aku minta sama paman? apa paman semua sudah dapat info nya?"
"Iya, kami sudah mengetahui nya Tuan Muda."
"Apa benar? coba ceritakan padaku paman!" pintanya kepada salah seorang pelayan yang ada disana.
"Nona Muda Aira memang tinggal dirumahnya keluarga Damrah, orang tuanya telah meninggal dunia semenjak ia kelas IV SD, orang tuanya teman dekat dengan Ari Damrah. Keluarga Nona Muda Aira tidak diketahui karena mereka kabarnya kawin lari, jadi keluarga satu-satunya yang dianggap cuma Tuan Besar Ari Damrah karena cuma ia teman orang tua dia satu-satunya."
"Oh, jadi begitu. Lalu mereka kenapa bisa dijodohkan?"
"Baiklah kalau begitu, terimakasih banyak paman. Aku mau tidur dulu, silahkan semua paman kembali melanjutkan aktivitasnya," ucap Tuan Muda Yangki sambil berlalu pergi menuju ke kamarnya.
Dikamarnya ia merebahkan tubuhnya terlentang dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya yang bertumpu dikeningnya, ia mengingat kembali beberapa kata-kata dari Tuan Muda Rido dan juga Nona Muda Aira.
"Ia telah dijodohkan dengan Arnel sejak kecil, apa kamu yakin? Untuk mengejar cintanya, Hah? yang pasti bukan milikmu? dan kau boleh tidak percaya kepadaku, tapi kenyataannya aku mengetahui semua ini karena aku diberitahu oleh paman Ari Damrah sendiri," ucap Tuan Muda Rido dikala itu yang masih terngiang di kepala Yangki.
"Hm... jadi aku harus menjauh dari nya? seperti Arnel melarangku berteman dengan Aira? memangnya salah jika berteman dengan calon tunangan orang?" pikir Yangki dalam hati.
Ia terus berpikir dan mengingat kata-kata Rido dan Arnel yang mengancam untuk menjauh dari Aira, sehingga ia teringat wajah sedih dan wajah bahagia dikala ulang tahunnya saat itu.
"Makasih Yangki, aku sangat senang. Tidak seorang pun yang ingat ulang tahunku dari dulu, kecuali mama dan papaku. Mereka telah lama meninggal dunia, aku sangat merindukan mereka, jadi izinkan aku memelukmu ya saat ini," ucap Aira saat itu terbayang oleh Yangki.
__ADS_1
Yangki lama terdiam memikirkan semuanya, tidak tahu sifat apa yang harus ia gunakan saat berteman dengan Nona Muda Aira, mendekatinya, menjauhinya atau menemaninya agar dia tidak merasa rindu pada orang tuanya.
"Ah, kenapa aku harus pusing?! mereka kan belum menikah, kita semua masih kecil. Lagian aku dan dia berteman jadi tidak ada masalah kalau aku berbicara dan dekat dengannya," ketus Yangki dalam hati.
Yangki terus berpikir dan bergumam dalam hati sampai ia tertidur sendiri.
Sedangkan di perumahan elit gerbang kedua danau hijau itu, Tuan Muda Arnel dan teman-teman nya sedang bermain dan belajar memetik senar gitar. Mereka tertawa riang dan sambil menikmati cemilan yang dihidangkan oleh pelayan keluarga temannya itu.
Walaupun Tuan Muda Arnel tertawa bersama teman-temannya tapi terkadang tiba-tiba pikirannya beralih ke pemandangan aneh yang ia lihat tadi dikamar Nona Muda Aira, ia ingin mengumpat otaknya sendiri yang tidak bisa diatur.
"Ah! apa aku bisa gila nanti ya? masa otakku mikir itu terus? padahal lagi rame gini kumpul kawan-kawan! yang benar aja otakku!!" gumam Arnel dalam hati.
"Eh boss, kok melamun! ayo ganti tangannya ke kunci G," ucap salah seorang teman Arnel.
Beberapa kali Arnel salah menggerakkan jari tanganya, ia menjadi tidak fokus karena memikirkan yang aneh ia lihat tadi, akhirnya ia memutuskan segera kembali. Ia kembali di antar oleh sopir temannya karena dia pulang jam 8 malam, padahal janji jam 10 malam untuk dijemput Pak Tanto.
"Makasih ya paman, sudah antar aku," ucap Arnel kepada sopir temannya.
"Tuan muda sudah pulang?, maaf paman pikir jam 10 untuk menjemput Tuan Muda," ucap Pak Tanto.
"Iya, gak apa-apa paman. Memang aku yang ingin pulang cepat. Aku mengantuk besok juga banyak tugas sekolah, aku juga diantar oleh sopir temanku."
Tuan Muda Arnel segera naik ke atas menuju kamarnya, sebelum sampai dikamarnya jantungnya berdetak kencang saat melihat pintu kamar Aira, walaupun pintu itu tertutup rapat tapi bayangan itu masih teringat jelas olehnya.
Ia bergegas berjalan masuk kedalam kamarnya, memegang dada nya. Ia cepat masuk ke kamar mandi membersihkan tubuhnya, membuka baju dan hanya pakai celana pendek lalu ia merebahkan tubuhnya di kasur.
Ia memaksa memejamkan mata nya, agar otaknya berhenti berpikir aneh hingga ia tertidur sangat lelap.
__ADS_1