
Kami akhirnya dilerai oleh guru, walaupun tadi Aira melerainya, tapi kami begitu tersulut emosi sampai Aira terdorong ke dinding, kami tetap saling pukul memukul. Kami dibawa ke kantor, bukan hanya Arnel dan aku, tapi juga Rido dan Aira.
"Apa kalian sekarang sudah menjadi jagoan?" tanya seorang guru. Kami semua hanya diam, tidak tau harus menjawab apa, atau mungkin terlalu takut, atau mungkin masih kesal ingin saling pukul.
"Jawab!" hardik guru. "Tidak guru, kami tidak berani," aku menjawab memberanikan diri.
"Kalian masih murid kelas satu tapi sudah sok jagoan, sangat disayangkan kalian adalah anak-anak dari orang terpandang di negara ini, mempunyai kepintaran yang bagus dan kalian seharusnya populer dengan prestasi, bukan dengan masalah begini," ceramah pendek sang guru.
"Maafkan kami guru, telah mengecewakan guru," ucap ku merasa bersalah. "Baiklah sekarang hukuman kalian membersihkan kantor ini, dan rangkum isi dari buku ini dari ini sampai ini, besok kumpulkan rangkumannya."
"Ini banyak sekali Bu guru," jawab Rido. "Baiklah kalau tidak mau, kalian bisa menggosok semua toilet disekolah ini." jawab Sang guru. "Maaf guru, kalau begitu kami akan memilih membersihkan kantor dan membuat rangkuman." sambung Arnel.
Sedangkan didalam kelas, sejak Arnel dan aku berkelahi dan mendengarkan Arnel mengatakan Aira pembantu, membuat teman-teman yang lain mulai menghina dan mencomoohnya.
"Aku tidak menyangka rupanya dia pembantu, aku mengira dia juga anak orang kaya, setiap pulang dan pergi ke sekolah turun dari mobil."
"Dan aku juga mengira, kalau tiga cowok keren disekolah ini menyukai dia, rupanya salah. Tuan Muda Rido menyukai Una sedangkan lain hanya menganggap dia pembantu." Itulah yang sekilas aku dengar dari mulut-mulut mereka yang mencemooh gadisku.
9
"Aku sudah bilang kan sama kalian semua dari kemarin-kemarin nya, kalau cewek kutu buku itu gak mungkin bisa memiliki hubungan dekat sama cowok-cowok keren disekolah ini. Lebih layak dan cantikan aku kemana-mana," ujar Eva ketua kelompok yang berjalan menuju gerbang sekolah.
"Ahahaha iya, cowok-cowok itu cuma memanfaatkan dia aja, memanfaatkan kepintarannya dalam belajar, dan memanfaatkan kebodohannya dalam menuruti semua keinginan orang, bodoh!" ucap salah satu cewek dikelompok itu.
"Ya iyalah, hehehehe. Karena dia pembantu, jadinya penurut begitu. Kalau dasarnya bebek, tetap aja bebek, gak akan berubah jadi angsa, sama kayak dia, kalo dasar pembantu tetap aja pembantu," ucap Eva terkekeh.
Bukan hanya kelompok Eva yang mulai bergosip, tapi juga beberapa kelompok mulai bergosip seperti kelompok cewek yang berjalan dipinggir jalan itu.
__ADS_1
"Aku kira dulu dia adalah cewek beruntung, pergi dan pulang sekolah naik mobil, rupanya dia cuma numpang mobil majikan,"
"Aku juga kira begitu, aku kira tiga cowok keren jatuh cinta sama dia. Apalagi Tuan Muda Yangki dari awal masuk sekolah perhatian banget sama dia, terus dia juga sering dibela sama Tuan Muda Arnel kalau dijahili Tuan Muda Rido, eeeeeehh! rupanya cuma pembantu, gak nyangka banget."
"Sama! aku juga guys, aku kira dia cewek beruntung dari keluarga kaya yang pintar, walau dandanan nya seperti itu. Rupanya, sama persis dengan dandanannya yang udik mencerminkan ia pembantu," sambung salah seorang cewek dikelompok itu.
Aku terlebih dahulu selesai, dan aku segera pergi keluar menemui Aira yang duduk di bangku halaman. Aku mendengar semua mulut-mulut tajam itu menggosipkan gadisku.
Aku berjalan mendekati Aira, duduk disampingnya dan tersenyum manis kearahnya. "Apa kamu baik-baik aja? maaf ya tadi aku emosi gak sengaja, kamu jadi terdorong deh, karena pukulan kami."
"Gak apa-apa kok, aku baik-baik aja. Gimana dengan kamu? lihatlah mukamu memar! masih aja jadi jagoan!" ucap Aira sambil memanyunkan bibirnya.
"Lucu nya dia seperti itu, pengen aku cubit pipinya," aku bergumam dalam hati. "Maaf ya, bukan mau sok jagoan. Aku merasa kesal sama Rido dan Arnel, apa musti harus membahas pembantu ataupun memerintahmu kasar seperti itu?"
"Aku gak apa-apa kok, aku menganggap mereka masih bocah aja sih, hehehe," jawab Aira cekikan. "Dasar ya," ucapku sambil mengelus rambut Aira.
"Iya, terimakasih ya Yangki. Kamu selalu baik sama aku, apa kamu gak takut nanti teman-teman jelekin kamu karena berteman sama pembantu?,"
"Ssssstttt" aku meletakkan telunjukku dibibir Aira. Aku lupa dan baru tersadar karena aku menyentuh bibir Aira dengan telunjukku, aku tersenyum malu dan menggaruk kepala belakangku yang tidak gatal karena canggung.
"Kamu jangan bilang begitu lagi ya, aku dari awal jumpa kamu sudah menganggap kamu temanku, aku tidak pernah memandang kamu pembantu ataupun apalah itu, jadi jangan bilang gitu lagi ya," ucapku menatap wajah wanita tercantik dihatiku setelah mamiku, walaupun yang lain berkata dia adalah cewek jelek sikutu buku.
"Dan aku heran sih, kenapa kamu mau aja disuruh sama Rido?" tanyaku kembali.
"Ya karena itu, karena aku pembantu. Beberapa minggu yang lalu ia berkunjung kerumah paman Ari Damrah, disana ia melihatku dan juga waktu itu ia juga melihatku mencuci banyak sepatu Tuan Muda Arnel, jadi dia mengancam akan mengatakan kepada semua teman-teman kalau aku tinggal serumah dengan Tuan Muda Arnel."
"Aku takut, karena selama ini Tuan Muda Arnel selalu melarangku agar tidak boleh satu orang pun tau aku tinggal dirumahnya dia, makanya selama ini aku lebih duluan keluar dari mobilnya saat masuk kedalam kelas, dan terakhir masuk dari mobilnya saat pulang sekolah."
__ADS_1
"Sebenarnya aku lebih ingin tidak semobil dengannya, dia pun juga tidak senang aku semobil dengannya, tapi paman dari dulu meminta kami semobil agar bisa berteman."
Benar perkiraan ku, semua ini hanya karena keegoisan papanya Arnel, mereka tidak pernah saling suka, mulai sekarang aku akan selalu disampingmu Aira. Aku berucap dalam hatiku sambil menatap Aira.
"Oh begitu ya, lain kali gak usah kerjakan lagi ya apa yang diperintahkan Rido." Aku berkata kepadanya.
"Iya, lagian semua juga udah tau aku pembantu. Tuan Muda Arnel sendiri yang mengatakannya," jawab Aira sambil tersenyum kecut.
Arnel berjalan bergegas mendekati Aira dan aku yang sedang duduk, ia segera menarik tangan Aira membawanya pergi dari sana.
"Hei! kamu bisa pelan gak sih! Jangan menarik tangannya seperti itu, dia itu cewek! itu menyakiti tangannya!." teriakku kesal melihat kelakuan Arnel.
"Huh! bukan urusanmu! dia pelayanku, kau tidak punya hak!" jawab Arnel sambil membawa Aira menuju parkiran mobil.
Rido berjalan mendekatiku sambil menertawakanku. "Hahaha kasihan sekali dirimu, menyukai seorang pembantu. Tapi sayangnya, pembantu itu telah dijodohkan dengan Tuan nya."
"Terimakasih kau telah mengingatkan aku, semua orang berhak menyukai siapapun, kapan pun, bahkan tak ada syarat untuk menyukai seseorang. Karena rasa suka tumbuh dari dalam hati tanpa kita rencanakan."
"Aku sangat menikmati rasa suka ku ini, menikmatinya selama aku bernafas, aku tidak pernah menyesali perasaanku ini, walaupun akhirnya aku tidak berjodoh dengannya, aku hanya ingin selalu berada disampingnya membuat dia tersenyum itu sudah membuatku puas."
"Kau hanya perlu menikmati rasa sukamu, bukan memaksakan kehendaknya! dan kau harus menyadarinya juga, terkadang cinta datang kepada orang yang tidak tepat, maka ada bijaknya menghargai walaupun tidak memilikinya."
"Sama seperti dirimu yang menyukai Una, seharusnya kau berusaha lebih baik agar dia bahagia bersamamu, bukan menggangu ku dan seolah aku merebutnya darimu. Jelas-jelas aku tidak pernah tertarik kepadanya sedikitpun, bahkan kau tau aku sangat menyukai Aira."
Ucapku kepada Rido, dan segera pergi ke mobilku, karena dua bodyguardku telah datang menghampiriku karena melihat Rido mendekatiku. Begitu pula dengan Rido pergi ke mobilnya.
**
__ADS_1