
"Oh, kau berani? akan ku pastikan satu helai rambutku rusak akan bisa menghancurkan semua keluargamu!" Ancam pemuda egois itu kepada pemuda sombong dan kawan-kawan nya. "Huh!, kau mengancam ku!" tanya pemuda sombong itu. "Tidak, tapi itu kenyataan nya. Kau bukan apa-apa!"
"Baiklah, aku hanya menghargai paman Ari Damrah yang sangat baik padaku, kalau tidak aku tidak akan pernah takut padamu, bahkan dengan ancamanmu itu!"
"Dan satu lagi aku kasih tau kamu, tadi pagi aku melihat dia membeli sesuatu dan bertulis kata-kata cinta untuk wanitamu. Aku memukul dan merusak hadiah itu, tapi entah bagaimana dia masih bisa punya hadiah lain."
"Apakah kau tahu? tadi dia memeluk wanitamu dibangku taman sekolah?" ucap Rido untuk memprovokasi Arnel. "Wanitaku? apa maksudmu! jangan asal bicara!" teriak Arnel si pemuda egois itu.
"Hahahaha." Ia tertawa dan pergi bersama teman-teman nya meninggalkan Aku dan Arnel Si Pemuda Egois. Ia masih berdiri melihatku yang berusaha berdiri dan merapikan bajuku yang berantakan.
"Terimakasih kau menolongku menghentikan mereka," ucapku memaksakan senyum sambil mengelus pipiku yang memar. "Huh! aku tidak menolongmu. Aku hanya tidak ingin kamu mati di depanku dan aku memang ingin menemuimu untuk bilang kau menjauhlah dari Aira!"
"Siapa kamu? pacarnya?" Aku terkekeh kecil mengejeknya. "Itu bukan urusan mu! dan jangan memamerkan hartamu, aku bisa membeli seluruh toko buku yang kau berikan padanya, kau bukan apa-apa dibandingkan aku!" Ia mengancam ku.
"Kau hanya memamerkan harta papamu. Cuih!" ejek ku. "Kau!" Ia mengangkat tangannya hendak memukulku, tiba-tiba tangannya terhenti dan ia segera di tangkap 2 orang bodyguardku.
"Ah, siapa kalian! lepaskan aku! aku bisa menghancurkan kalian!" ucapnya meronta-ronta. "Hei, apa yang kalian lakukan!" teriak Pak Tanto kepada Bodyguard ku, ia adalah sopir Arnel.
"Lepaskan Tuan Muda kami, atau kalian akan hancur! aku tau kalian adalah pengawal keluarga Admaja!" Sang sopir itu berkata kepada Bodyguardku.
"Dia telah memukul Tuan Muda Yangki sampai babak belur! dia harus bertanggung jawab!" jawab salah seorang bodyguardku. "Sudah, sudah paman. Bukan dia yang memukulku! aku tadi dikeroyok. Ia datang membantuku."
"Tapi tuan Muda, kami melihat dia mengayunkan kepalan tinju kearahmu," jawab salah seorang bodyguard. "Iya ,tapi dia belum memukulku. Tadi aku berdebat dengannya, mungkin itu membuatnya sedikit emosi."
__ADS_1
"Paman, maafkan bodyguard saya salah sangka, kami harus pulang dulu untuk mengobati luka saya," ucapku dengan hormat kepada sopir pribadi Arnel itu.
"Dan satu lagi tuan Arnel, jika kamu bisa melakukan apapun, dan aku bukan lah apa-apa dibandingkan dirimu. Maka seharusnya kamu tau, kenapa aku memberi hadiah untuk Aira!" Setelah berbicara seperti itu, aku dipapah oleh bodyguard menuju mobil. Begitupula dengan Arnel menuju kedalam mobil.
**
Aku dipapah masuk kedalam mobil oleh 2 bodyguardku, Pak Sopir yang sedari tadi menunggu di dalam mobil sangat terkejut melihatku mengalami banyak memar. "Kenapa dengan Tuan Muda? kenapa dia banyak memar seperti ini?" tanya sopir.
"Huh, anak Wijaya mengeroyok Tuan Muda, dan tadi juga anak Damrah ingin memukul Tuan muda, jika bukan anak Wijaya dan Damrah! Akan aku patahkan jari bocah itu walaupun Tuan Muda melarangku!," ketus salah seorang bodyguard. "Ah, cepat lah buka pintu mobil! Kita harus segera mengobati Tuan Muda Yangki."
Aku tidak ingin pergi ke rumah sakit sehingga sopir dan bodyguard membawaku untuk segera pulang. Beberapa puluhan menit akhirnya mobil yang dikendarai membawaku berhenti tepat didepan pagar rumahku.
Penjaga segera membukakan pagar sambil sedikit membungkukan kepala sebagai penghormatan kepada ku, Pak Sopir dan 2 bodyguard segera membawaku kedalam rumah. Mereka meminta Bibi Pelayan segera mengambil obat, mengobati beberapa memar diwajahku, dan sebagian tangan dan kakiku.
Ia sangat kawatir, duduk dan mengelus wajahku, ia bernama Nadira Admaja. "Kenapa anak saya bisa begini? apa saja yang kalian lakukan? kalian semua, aku suruh menjaga anakku!" hardik Mami kepada 2 bodyguard itu. "Udah mi, bukan salah mereka kok, aku yang ceroboh."
"Bagaimana Mami gak marah, Hah! Mami memperkerjakan mereka untuk menjaga kamu! Kemarin Mami juga lihat kamu berantakan, baju kamu kotor sekarang bukan hanya baju kamu kotor dan berantakan tapi kamu juga terluka, wajahmu penuh memar."
"Katakan pada Mami, siapa mereka? mami akan menghubungi keluarga mereka!"
"Sudah lah mi, lupakan saja! aku bisa kok selesaikan ini, ini masalah anak-anak sekolah bukan urusan orang tua juga, dan mereka juga bukan dari keluarga sembarangan."
"Siapa mereka? apa kalian melihat semua yang memukul anakku?" Mamiku menolehkan wajahnya, dan bertanya kepada 2 bodyguard itu.
__ADS_1
"Kami tidak melihat pengeroyokan itu Nyonya, tapi info yang kami ketahui mereka keluarga konglomerat semua, salah satunya anak Wijaya. Dan yang mengayunkan tangan serta menggertak Tuan Muda Yangki yang terakhir anak dari Damrah."
"Baiklah kalau begitu, mari kita makan dulu? mau mami suapin atau suap sendiri?" tanya Mamiku. "Tanganku gak sakit kok mi, jadi aku bisa suap sendiri," terangku pada Mami.
Setelah makan aku merebahkan tubuhku di kasurku yang empuk dengan seprai hitam putih seperti catur itu. Aku memegangi ujung bibir dan pipiku yang masih nyeri walaupun telah diolesi obat. Aku tidak menyangka akan dikeroyok seperti itu.
Aku mengingat kembali kejadian tadi pagi. "Apa yang kau inginkan?" tanyaku pada Rido yang menggaguku. "Aku cuma mau bilang, jauhi Una! Dia itu akan jadi kekasihku!"
"Baguslah kalau begitu, apalagi masalahmu sekarang denganku?" jawabku. "Tentu saja masalah, dia selalu mengejarmu, bagaimana kalo aku rusak wajahmu?!" ia berkata sambil menepuk-nepuk wajahku. "Hahahaha, jadi kau cemburu karena Una selalu ingin dekat denganku, kau harus tau aku tidak pernah suka dengannya, aku hanya tetangganya saja."
"Hajar dia!" Rido memukulku dan Dua orang temannya yang membantunya, aku tersungkur. Rido mengambil tasku, membuka kadoku dan melihat satu buah boneka kelinci yang kecil yang imut, dengan sebuah surat. Ia membaca surat itu, setelah itu dia tertawa terbahak-bahak. Rido kemudian juga melempar boneka itu kedalam parit, lalu ia merobek surat itu.
Pagi ini hadiah yg kusiapkan sudah tidak ada lagi, aku sedih sekali. Aku memutuskan rencana tidak sekolah pagi ini. Langkahku terhenti sejak mendengar seorang yang menyukai Aira mengatakan kalau iya tidak suka boneka.
Aku membeli buku yang tidak terlalu jauh dari sekolah. Aku memberikan hadiah kepada Aira setelah jam istirahat dan membungkusnya. Sepulang sekolah Rido juga mengancamku, walaupun perbuatannya cepat dihentikan oleh pengawalku, tetapi kata-katanya membuat ku selalu berpikir berkali-kali.
"Apa kau pikir, jika dia mendengarkan cintamu, ia akan menjadi kekasihmu? yang ada dia ilfil, karena hari dimana kamu mengatakan cinta akan menjadi kenangan." ucapnya kepadaku. Pertemanan aku dan Aira akan terganggu setelah itu.
____
Aku menghela nafas panjang setelah mengingat kejadian itu, untung bagiku, tidak memberikan boneka yang aku pikir Aira sangat suka, karena saat itu aku melihat Aira seolah menyukai boneka itu, ia menyentuh kaca jendela.
"Ah, rupanya aku salah. Aku kira dia suka, Aira kamu sungguh wanita yang sangat menarik membuatku selalu berusaha mendekatimu terus menerus." Aku bermonolog dengan hatiku.
__ADS_1