(Masih Revisi) Danau Hijau Buatan Kakek

(Masih Revisi) Danau Hijau Buatan Kakek
Bermimpi


__ADS_3

Aku menghabiskan waktuku setiap hari bersama Aira beberapa hari ini, aku tidak akan mengalah dari Arnel.


Kami ke Sekolah seperti biasa, belajar bersama, makan bekal bersama, membaca di perpustakaan, hingga bel pulang berbunyi,


Sebelum pulang, kami akan digilir keluar dengan beberapa pertanyaan. Siapa yang bisa jawab, itulah yang lebih dahulu keluar dari kelas.


Aku murid pertama yang menjawab dengan benar, dan disusul oleh Aira. Kami berdua duduk di halaman sekolah sambil menunggu Arnel keluar dari dalam kelas. Berbicara sebentar, kemudian aku membeli minuman dikantin disebelah halaman sekolah itu, aku kembali duduk disampingnya. Aira memegangi perutnya dan gelisah duduk.


"Kamu kenapa Ra?" tanyaku. "Gak apa-apa kok, aku lagi sakit perut aja sih." Jawabnya. "Kalau begitu, ayo kita ke UKS," ajakku.


Aira menolak ajakanku, aku duduk dan meminum minumanku, ia masih memegangi perutnya dengan keringat mengalir dikeningnya. Aku mengelap keringat itu dengan tisu yang aku ambil dari dalam tasku, aku sangat kawatir sekali saat ini.


Rido lebih dahulu keluar dari Arnel, ia melihat Aira seperti kesakitan memegangi perutnya. Ia berpikir kalau aku memberikan Aira minuman tidak bersih yang membuat ia sakit perut.


Saat ia melihat Arnel keluar dari dalam kelas, ia berkata kepada Arnel bahwa aku telah membuat Aira sakit perut dengan memberikan air yang tidak bersih. Sontak Arnel langsung marah dan segera menuju ketempat kami berada.


Rido juga ikut menyusulnya, Arnel langsung memelototi dan berdecak pinggang melihat kami. Kemudian ia langsung memukulku. Ia menarik tangan Aira pelan, tapi Aira tidak mau jalan sedikit pun.


"Ayo pulang, atau kita ke UKS?"


"A...aku...."


"Kenapa?!," tanya Arnel ketus.


Arnel tidak menunggu lama jawaban Aira, ia memaksa Aira berdiri dengan menarik tangannya. Rido dan aku terbelalak melihat noda darah dibangku halaman sekolah yang berwarna putih itu. Kami melihat ke arah rok Aira dengan serentak.


"Kau kasih minum apa dia? dia sampai berdarah begitu!" tanya Rido melotot.

__ADS_1


Aku gugup ketakutan, bagaimana mungkin bisa sampai pendarahan begitu minum air mineral, sedangkan aku juga meminum air yang sama dengannya.


Arnel terkejut mendapati pertanyaan Rido, ia juga melihat ke arah bangku dan memutar tubuh Aira, ia melihat rok belakang Aira bernoda darah. Ia sangat marah, langsung memberikan pukulan kepadaku.


Aku tidak melawan ataupun menghindari nya, aku bahkan lebih merasa terpukul karena memberikan Aira minuman yang membuat ia sakit perut. Bukan pukulan Arnel yang membuat aku merasa sakit, tapi kelalaianku yang tidak bisa menjaga Aira.


Aira segera melerai kami sambil berteriak. "Aku tidak apa-apa, aku baik-baik saja. Aku... aku hanya..."


"Aku hanya lagi datang bulan!" teriaknya sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Teriakannya itu membuat kami bertiga menoleh keheranan padanya.


"Datang bulan?" Kami serempak bertanya heran. Aira sangat bingung untuk menjawab, ia hanya diam masih menutupi wajahnya.


"Datang bulan itu apa? apa hubungannya bulan sama darah? jelas-jelas dia memberimu air kotor yang tidak sehat membuat perutmu sakit dan mengeluarkan darah!"


"Ayo kita kerumah sakit aja! kau gak usah bela dia! aku tau kau berbohong mengatakan datang bulan. Tidak ada hubungan bulan dengan darah!" tuding Arnel, sambil mengajak Aira.


"Lagi-lagi kalian, masih saja bertengkar setiap hari, ada apa lagi ini? masih mau jadi jagoan?" tanya salah seorang pak guru diruangan itu.


Kami semua hanya diam berdiri didepan beberapa guru itu, salah satunya wali kelas kami. Aira berdiri sambil meringis, memegangi perutnya. Membuat aku yang sudah memar karena pukulan sangat kawatir.


"Maaf guru, kami tidak bermaksud menjadi jagoan dengan bertengkar seperti ini. Tapi sungguh, aku tidak tau kenapa Aira sakit perut, sampai berdarah minum air mineral yang aku beli dikantin sekolah, padahal aku juga minum air yang sama," ucapku menjelaskan.


"Wah! jangan-jangan penjual kantin itu? menjual minuman beracun!" sambung Rido.


Bu Guru segera berdiri dan melihat Aira, ia melihat rok Aira berdarah dan berbisik. Entah apa yang mereka bisikkan, membuat kami yang berdiri disamping Aira begitu penasaran.


Setelah berbisik dan Aira mengangguk, Bu Guru mengambil sesuatu di tas nya, dan mengajak Aira ke dalam toilet bersamanya.

__ADS_1


Setelah beberapa saat, Aira keluar dengan pakaian ganti olahraga sekolah. Kami masih terdiam berdiri, melihat Bu guru memberikan Aira teh hangat.


Pak guru menyuruh kami duduk dan memberikan kami arahan.


"Begini murid-murid, karena kalian sudah remaja menuju dewasa dan kalian juga sudah melihat keadaan Aira barusan, bapak akan menjelaskan sedikit pelajaran tentang kalian."


"Pembelajaran ini sebenarnya akan kalian pelajari secara seluruh di kelas dua, tapi lebih baik bapak jelaskan kepada kalian sekarang secara garis besarnya."


Bapak Guru menjelaskan tentang Reproduksi, apa itu yang disebut datang bulan, pubertas, mimpi basah.. bla.. bla.. bla... sampai selesai.


Aku tersenyum malu, karena aku telah mengerti tentang mimpi basah, beberapa waktu lalu aku telah diajarkan oleh papaku, saat aku pertama kali mimpi basah, bersembunyi dipojok kamar karena malu.


Aku tersenyum malu diatas mobilku saat pulang. Pertama kali aku bertemu dengan Aira, aku langsung bermimpi panas dengan nya. Aku begitu menikmati saat mimpi itu berlangsung.


Memeluk, mencium seluruh tubuh Aira, padahal saat itu aku belum dekat dengannya. Sehingga membuat aku penasaran dan ingin mengenal Aira lebih dekat. Selama aku mendekati nya, aku menjadi suka dan bertambah suka.


Bahkan hampir satu kali dua bulan aku bermimpi mesum dengan Aira, padahal aku tidak pernah berpikir buruk tentangnya. Tapi selalu bermimpi indah bersama nya.


Saat pertama kali aku bermimpi, aku terkejut melihat tubuh wanita, padahal waktu itu aku tanpa sengaja hanya melihat belahan dada Aira saat merukuk mengambil pena yang jatuh di lantai.


Saat aku terbangun dari tidurku, aku sangat malu karena mengompol. Aku menggulung seprai dan menariknya dipojok kamar, menyelimuti tubuhku dengan seprai. Aku tidak mau kesekolah hari itu.


Akhirnya sang mama mendekatiku, dan meminta Sang Papa membujuk dan menjelaskan kepadaku. Sejak saat itu aku mulai mengerti tentang perasaanku, kenapa aku ingin dekat Aira terus menerus.


Saat aku ingin terlihat selalu tampan dan keren oleh Aira, aku merasa kesal saat ada orang lain yang mendekatinya. "Saat Pubertas, tidak ada salahnya dengan mimpi, itu normal. Apalagi bermimpi dengan gadis pujaan, apakah putra papa sedang jatuh cinta kepada seorang gadis?" tanya papa kepadaku. Dari situlah aku tau yang disebut dengan jatuh cinta.


Aku tersenyum mengingat perkataan papa padaku saat itu.

__ADS_1


__ADS_2