
Bab 6
Ken berjalan dengan kesal, membuka jas toxedo yang dipakainya, hingga menyisakan kemeja putih sebagai rompi di dalamnya, ia singsingkan lengan kemeja itu hingga pendek.
“Ken!”
“Ken!” Suara panggilan masih terdengar memanggil, dia tak peduli, lalu masuk ke dalam lift.
Persegi besi yang bisa membawanya ke lantai dasar itu ia tatap dengan tatapan kosong. Ting! Pintu lift pun terbuka, mengantarkan dirinya tepat di parkiran, dilantai dasar hotel mewah, bintang lima. Dia menghubungi ponsel seseorang yang baru ia dapatkan nomor barunya kembali tadi.
Terdengar suara nada hp berdering nyaring, lalu diselingi suara decakan kesal seseorang. “Huh!” Ken mendengus, kemudian memilih berjalan pergi.
“Ken!” Suara yang familiar terdengar di telinganya. “Kau mau kemana?” Ken berhenti sejenak dan menoleh.
“Mati!” jawab Ken pendek.
“Yooow, kau belum menghabiskan malam pertama, malah kini memilih ingin mati, apa burung elangmu tidak bisa memangsa? Uh, apa aku harus cari minyak lintah, agar gesit?” Baskara berkata dengan senyuman jenaka.
“Urus saja burung pipitmu! Tuh, sawah dia minta dibajak!” jawab Ken dengan ekspresi datar.
Baskara tersenyum kecil. “Tenang, aku baru saja membajaknya, terlalu banyak air. Aku juga ingin mencicipi padi ladang, kering gak becek, pasti lebih keset, hehehehe!” balas Baskara dengan terkekeh mesum.
Ken mengabaikannya dan berniat pergi dari sana. Jelas-jelas tadi dirinya mendengar suara decakan. “Hei, kau mau kemana? Aku jauh-jauh datang dari Indonesia menemuimu Bro, merayakan hari kebahagiaanmu!”
“Ck,” Ken mendecih.
“You have a problem? Tell me!” Baskara lebih mendekat dan menepuk pundak Ken, bertanya dengan wajah serius. Ken memutar bola matanya melihat ke arah wanita berdress merah yang masih berdiri dengan melipat tangan di sana.
“Dia bisa diatur My Bro!” Baskara mengibaskan tangannya, seketika itu juga, wanita itu langsung putar badan dan pergi dari sana.
“Bro, follow me!” Baskara melangkah ke arah mobil keren, Lamborghini Aventador biru. Ken pun mengikuti.
__ADS_1
“Adik manismu ini, akan menemani malam pertama yang indahmu sampai kau melayang!” Baskara mengedipkan matanya, langsung masuk ke dalam mobil yang juga diikuti Ken.
Baskara membawa mobil melaju ke sebuah club. Memesan private room untuk mereka berdua.
Baskara dan Ken duduk di sofa empuk yang tersedia di room itu. Pelayan mulai mengantar beberapa botol minuman dan gelas. Ken dan Baskara pun juga mulai membakar rokok.
“Dari malam dingin ini aku tersadar, mungkin aku datang hanya untuk merayumu, membuat kau lupa, esok langit akan terang dan terasa hangat. Ku hampiri kau, dengan mendung dan kerasnya kehidupan, bisikan yang semu, rintihan dalam sanubari. Waktu yang berputar tak mungkin kembali, mungkin kini kamu hanya sedih saja, terdengar berita, aku tahu ketidakceriaanmu!” Baskara bersyair.
“Kemari, duduklah di sisiku, ceritakan segala kegelisahanmu, biarkan angin malam menyambut dan memelukmu. Tak ada pesta, karpet merah, karena kulihat dipelupuk matamu, jelas betapa penderitaan itu memaksamu bungkam saja.” lanjutnya lagi bersyair sambil menatap Ken yang memasang wajah datar dan dingin.
“Diam!” ketus Ken menatap Baskara tajam, pemuda manis itu malah memberikan senyuman mautnya dengan sok polos.
“Perkataan norak seperti itu, seharusnya kau ucapkan pada mangsamu saja, untuk menyawer para buruanmu Tuan Muda Agasthya!” Ken menghirup rokoknya dalam. Lalu, meneguk alkohol.
“Hm, ya. Ken, jika kau seorang wanita. Aku pasti akan menikahimu!”
Wajah Ken langsung berubah suram, menatap Baskara ngeri. “Ahahaha! Aku berkata jika kau wanita Sayang, tapi sayangnya kau juga punya batang. Capek, main pedang-pedangan!”
“Wajar!” jawab Ken singkat.
Baskara masih saja terkekeh. Tak ada rasa takut sedikitpun baginya mengusili dan menjahili Ken, padahal dia tahu, Ken sekarang sedang terpuruk.
“Bro, aku tahu kau mendengar pernikahanku dengan Veronica tak lancar 'kan?”
“Hm!”
“Kau lebih beruntung, baru menikah sudah tahu, jadi kau tak merasa terpuruk dan terluka, sedangkan aku, aku begitu mencintai dirinya, percaya sepenuhnya, setahun kami menikah, malah pengkhianatan yang kudapat, bahkan dia memiliki rencana buruk dengan kekasih, yang dia katakan mantan kekasih rupanya masih menjalin hubungan dan berniat menguras hartaku.”
“Kau tahu Bro, selama ini aku sengaja menutupi kekayaanku, aku tak ingin dia merasa terbebani, aku ingin menunjukkan cinta tulusku yang murni dengan kehidupan sederhana, aku memilih pergi dan menghindar dari hiruk pikuknya kehidupan, ingin menghabiskan hari-hariku bersamanya, hingga ajal datang menjemput. Tapi, apa yang aku dapat?”
“Untuk apa semua kekayaan ini Bro?” Baskara mulai rewel, mulutnya tak henti berbicara sambil meneguk alkohol.
__ADS_1
Ken masih diam mendengarkan, seharusnya dia yang menangis, malah mendengar curhatan adik laki-laki yang sudah lama tak ia dengar kabarnya.
“Mulai sekarang, aku hanya akan bersenang-senang! Aku benci pernikahan! Aku benci wanita! Ayo, kita bermain dan bersenang-senang My Bro!” Sepertinya Baskara semakin teler. Dia menumpah ruahkan perasaanya yang ia balut dengan tingkah ceria dan hura-hura nya.
“Bas, aku juga benci wanita, benci pernikahan, benci hubungan!” balas Ken, meneguk minuman sampai habis.
Entah berapa botol.mereka habiskan, yang jelas Baskara sudah mabuk parah, dia teler dan bersandar di bahu Ken. Sedangkan Ken masih di posisi setengah sadar.
Ken mengambil ponsel Baskara, menekan nomor pengawal rahasia keluarga Agasthya. Tak lama seorang berbadan tegap masuk ke dalam room itu.
“A-an-tar ka-mi!” Ken bersusah payah berkata karena dia juga sudah mulai mabuk. Pengawal itu pun membopong tubuh Baskara dan Ken, lalu mengantar mereka berdua ke sebuah hotel yang dekat dari Club.
***
Keesokan pagi.
Terdengar berita kecelakaan mobil yang ditumpangi oleh Kenzha Adipati Surya bersama sang adik ipar Sabella Jalasena, tepat di saat Ken pergi dari sana. Masih sedikit pagar, Ken memijat kepalanya. Telepon sudah berdering berkali-kali, panggilan dari pihak keluarga istrinya dan Rumi.
Baskara mengantar Ken ke kediaman, dua peti mati dan polisi ada di sana.
Orang-orang berucap belasungkawa, ada juga yang memandang Ken sini, menuduh dia terkutuk dan lainnya. Ken tidak peduli, karena baginya dua wanita yang sudah mati itu pantas mati.
Ken mengemas barang-barang nya. “Kau mau kemana, Ken?”
“Pergi!”
“Apa? Tindakan tidak sopan dan tidak bermoral apa yang kau lakukan itu?” bentak Rumi.
“Apa mereka berdua bermoral?” Untuk pertama kalinya Ken membangkang, langsung menatap wajah ibunya tajam dan menantang. Membuat Rumi terkejut.
“Minggir! Aku sudah tahu semuanya! Aku sangat kecewa!” Ken menarik koper, yang berisi biji-bijian bibit bunga kesayangannya.
__ADS_1
Ken dan Baskara pun pulang ke Indonesia.