(Masih Revisi) Danau Hijau Buatan Kakek

(Masih Revisi) Danau Hijau Buatan Kakek
Selamat Ulangtahun Aira


__ADS_3

Pagi esoknya disekolah.


Aku segera menyambutnya dengan senyuman manis. "Bagaimana keadaanmu Ra? apa perutmu masih sakit?" tanyaku. "Sudah baikan kok, cuma sedikit nyeri aja," jawab nya.


"Oh iya Ra, aku bawa obat nih. Aku minta dibuatkan sama pelayan ku, tenang saja obatnya tidak pahit kok," ucapku sambil menyodorkan botol minum yang berisi obat kepada Aira.


"Makasih," Aira mengambil minuman itu dan tersenyum padaku. "Iya sama-sama Ra, tapi minumnya nanti aja setelah makan, kita makan di taman belakang ntar ya, aku minta Bibi membuatkan makanan lebih juga buat kamu," ajakku. "Ok." Ia kembali tersenyum padaku.


Pembelajaran berlangsung lancar sampai jam istirahat berbunyi, Aira dan aku berjalan ke taman belakang sekolah, memakan bekal kami disana dengan senda gurau. "Kamu cantik hari ini," ucapku keceplosan.


"Maksudnya gimana ya? apa lagi mengejek aku? tanya Aira. "Bu.. bukan kok, beneran kok kamu cantik," jawabku gugup.


Ya ampun, apa aku salah ucap ya? batinku, melihat Aira cukup lama terdiam. "Gak lah Ra, maksud aku, kamu tambah cantik hari ini," jawabku tersenyum manis. "Tuan Muda bisa aja, aku gak pernah cantik dari dulu." ucapnya.


"Loh kok panggil tuan muda sih? kan aku dah bilang! Jangan panggil aku tuan muda sama seperti yang lain! Kamu panggil nama aja sama aku, bukankah waktu itu kita sudah berjanji kalau kita berteman? kalau teman itu harus panggil nama aja!"


"Iya, iya maaf ya Yangki," jawab Aira tersenyum menggoda sambil berwajah sok imut dengan memanyunkan bibirnya kedepan.


Lucu dan tambah cantik aja dia semakin hari. Aku bergumam dalam hati. "Ok, ayo lanjutkan makanannya, nanti keburu bel masuk bunyi loh," jelasku kembali dari lamunanku menatap wajah gadis pujaanku.


Aira dan aku menghabiskan makanannya dengan saling mencuri-curi pandang satu sama lain. "Sini aku bukain, keras ya tutupnya?" Aku membuka tutup minuman Aira.


Aira minum air mineral dan minum obat nyeri yang aku bawakan untuknya. "Bagaimana rasanya? tidak pahit kan?"

__ADS_1


"Tidak, rasanya seperti teh hambar, tapi ada aroma kunyit, cengkeh dan kayu manis, makasih ya Yangki, kamu perhatian banget sama aku."


"Sama-sama, kita kan berteman. Jadi, harus saling perhatian," jelasku tersenyum manis kepada Aira. Aku melihat Pipi Aira merah sekarang, membuat aku salah tingkah. Aku merapikan dudukku, merapikan bajuku, bahkan sampai berpikir mungkin kancing celana atau bajuku lepas.


"Kamu kenapa Ra? pipi mu memerah tuh! apa perut mu sakit lagi?" tanyaku, setelah merapikan dudukku. Tidak ada yang salah denganku, pikirku. "Gak kok, aku gak apa-apa. Mungkin cuma kepedasan aja," jawabnya padaku.


"Oh, kalau begitu minum punyaku aja, ini manis dan dingin lagi," ucapku sambil memberikan minuman dingin. "Makasih ya."


"Makasih mulu, kita kan teman," ucapku sambil mengacak rambut Aira. "Hm... oh ya Ra, boleh aku bertanya sedikit pribadi gak?" tanyaku padanya.


Aira mengangguk sambil merapikan kotak makanannya. "Apakah setiap datang bulan selalu sakit? sejak kapan kamu datang bulan?" tanyaku gugup dan malu, sambil mengelus dahiku.


"Sejak kelas lima SD, saat itu aku takut banget. Aku sampe nangis, untung aja datangnya malam hari, dan bukan di sekolah. Jadi, bi Susi segera memberitahukan aku tentang menstruansi dan cara mengatasinya."


"Tapi, aku gak pernah minum obat. Bi Susi waktu itu membuatkan jamu pahit banget," sambung Aira. "Oh begitu, aku juga bertanya sama bibi kok, makanya tau. Kata bibi, 'biasanya, beberapa gadis tidak suka minum pahit'. Jadi, bibi buatkan kusus itu untuk mu."


"Bilang makasih ku sama bibi ya, bibi perhatian banget deh, sama kayak tuan muda nya." Aku tersipu malu, aku tersenyum saat mendapati Aira beberapa kali membuatku tergoda. Aku sangat senang saat bersama dengan Aira.


_____


Aku, Rido, dan Arnel ikut pemilihan OSIS saat kelas dua, tapi kami bertiga tidak terpilih karena sering bertengkar. Yang terpilih menjadi ketua OSIS adalah Andi.


Andi sekarang pacaran dengan Wanda, begitu pula dengan Rido masih mengejar Una, dan selalu mencari masalah denganku, selalu beralasan gara-gara aku ia ditolak oleh Una. Sedangkan Arnel ia mempunyai banyak sekali pacar, gonta ganti setiap hari.

__ADS_1


Dan aku, aku tidak pernah tertarik dengan wanita manapun, aku hanya terbuka pada Aira dan menjauhkan diri dari semua gadis disekolah ini. Tak terasa, waktu terus berlalu sampai kami kelas 3 dan mengikuti ujian kelulusan sekolah.


Kami semua mengikuti ujian dengan tertib beberapa hari, setelah ujian kami menerima pengumuman tentang hasil ujian dan kelulusan. Sebelum hasil kelulusan keluar kami berkumpul berkelompok.


Ada yang di halaman sekolah, di taman, di bangku-bangku sekolah, duduk di dalam kelas. Bahkan ada yang berdua-duaan memadu kasih rindu untuk perpisahan.


Dibelakang sekolah berdua-duan, ada yang nongkrong di kantin-kantin sekolah, dan ngerumpi diteras kelas, beberapa siswa bersandar di dinding sekolah sambil menggoda-goda beberapa siswi yang melewatinya.


Begitu pula denganku, aku mengajak Aira berbicara di taman sekolah, menanyakan perencanaan akan menyambung di SMA yang mana.


"Ra, rencana mau lanjut sekolah di SMA mana? kita sekolah di SMA XXX yuk, disana bagus ada pemandangan indah di belakang sekolahnya, pendidikannya disana juga bagus," ajakku.


"Kayaknya gak bisa deh, paman Ari Damrah udah suruh sekretaris nya buat daftarin aku sama Tuan Muda Arnel di SMA yang sudah dipilihkan mereka."


Beberapa saat aku terdiam. Sebelum aku melanjutkan bertanya kembali. "Ra, senang ya kita bisa tamat SMP, selamat ya nilai kamu paling tinggi," ucapku menjulurkan tanganku padanya.


"Iya, gak nyangka udah tiga tahun aja ya kita bersama, kamu juga selamat ya nilai kamu juga beda sedikit dari pada aku," jawab Aira dengan menyambut tanganku.


Aku memberi satu bingkisan kado untuk Aira, dengan senyum malu-malu. "Selamat ulang tahun ya Ra." Aira langsung memelukku. "Makasih Yangki." ucapnya.


Ia membuka kado, ia melihat beberapa ikat rambut dan satu mainan di dalam kotak kaca, di dalam kotak kacak ada satu tangkai bunga mawar merah. "Wah, cantik banget."


Kemudian aku memberikan satu buah kotak lagi, membuat Aira tercengang. "Ini satu lagi, hadiah untuk kelulusan kita," ucapku tersenyum manis.

__ADS_1


Aira membuka hadiah itu dengan semangat, di dalam kotak hadiah itu ada mainan tas dan satu buku diary berwarna pink. "Makasih Yangki," ucapnya kemudian memelukku lagi dengan gembira. Aku tersenyum dan membalas pelukannya dengan hangat.


__ADS_2