(Masih Revisi) Danau Hijau Buatan Kakek

(Masih Revisi) Danau Hijau Buatan Kakek
Malam Perpisahan


__ADS_3

Malam ini malam minggu, 3 hari lagi Aira dan Arnel akan pergi ke Luar negri.


Yangki telah selesai membersihkan diri, ia memakai pakaian yang sangat rapi, memakai wangi-wangian, bercermin beberapakali.


"Paman ayo kita pergi," ajaknya. Ia memasuki mobil yang telah di bukakan Sang Sopir. "Apakah kita akan pergi menemui Nona Aira dirumah keluarga Damrah Tuan Muda?" Sopir bertanya dengan melirik kaca di depan kemudi.


"Tentu saja paman, 3 hari lagi ia akan pergi. Aku tidak akan berjumpa lagi dengannya. Aku ingin menghabiskan waktuku bersamanya." Tersenyum senang.


Sopir melaju dengan hati-hati sambil sesekali melirik kebelakang. Malam ini hanya Sang Sopir yang di izinkan pergi, ia meninggalkan Bodyguard nya. Ia ingin menghabiskan waktu bersama gadis yang ia cintai.


Arnel telah memakai baju rapi, Rido telah menunggunya di ruang tamu. Mereka ingin berkumpul dengan teman-teman yang akan mereka tinggalkan selama mereka kuliah di Luar Negri.


"Apa kau ingin ikut dengan kami Aira?" ajak Rido. Ia membalas dengan senyuman. " Tidak, aku sudah berpamitan dengan Una dan Wanda kemarin, aku tidak ingin bertemu dengan yang lain."


Arnel hanya mendengus mendengarkan. Ia merangkul Rido dan pergi keluar bersamanya, ia tidak lagi diantar Pak Tanto. Ia ingin membawa mobil sendiri dan bersenang-senang untuk perpisahan bersama teman-temannya.


Setelah kepergian Yangki dan Rido, Yangki sampai di rumah keluarga Damrah. Ia mengetuk pintu, dan di bukakan oleh Bi Susi. "Aira ada di rumah Bi?" ia bertanya. "Ada, silahkan masuk Tuan Muda, Bibi akan panggilkan Nona Aira dulu." balas Sang Bibi.


"Non, ada Tuan Muda Yangki di bawah. Ia ingin bertemu dengan Nona," ucap Sang Bibi.


Mendengar nama Yangki yang datang, Aira dengan secepat mungkin bergegas mengganti baju, memakai bedak dan lipstik tipis, ia merapikan rambut dan penampilannya di depan cermin. Dadanya berdebar kencang, ia gugup saat ini. Tidak biasanya ia gugup.


Apakah karena ciuman kemarin? membuat aku gugup begini? Aira.


Ia berjalan menuruni anak tangga, tersenyum kaku. Yangki tidak kalah gugup juga, ia tersenyum secerah mentari pagi. "Apakah kamu sibuk Aira?"


Aira menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Maukah kamu jalan malam ini denganku? mungkin malam ini adalah malam perpisahan kita!" bertanya penuh harap. Aira mengangguk dan menjawab "Iya, mau."


"Dimana Paman Ari? aku akan minta izin kepadanya?" bertanya sambil mengedarkan pandangan ke beberapa sisi ruangan di rumah itu.


"Paman masih bekerja." jawab Aira. "Oh, kalau Arnel?"


"Dia sudah keluar duluan dengan Rido untuk berjumpa teman-teman."


"Kalau begitu aku akan minta izin pada Bibi dulu."


Yangki minta izin kepada Bi Susi, mereka pergi keluar. Ini untuk pertama kalinya Aira berjalan dengan seorang pria saat malam hari. Begitupula Yangki, walaupun ia pernah keluar dengan perempuan untuk melakukan pelajaran di sekolah dulu, berbeda dengan sekarang. Baginya, ini untuk pertama kalinya ia berjalan dengan perempuan sedemikian rapi. Mungkin ini disebut kencan, walau Aira belum memberi jawaban cintanya.


Yangki mengajaknya dinner di restoran yang unik, tidak terlalu mahal makanan disana. Tapi tempatnya cukup unik. "Bagaimana menurutmu tempat ini Aira?"


"Cantik dan segar."


"Tentu saja, aku akan kesana."


Ruangan mereka makan sekarang mungkin sudah di sewa oleh Yangki, buktinya tidak ada seorang pun yang datang. Mereka duduk di dalam ruangan kaca, riasan meja yang terdiri dari bunga dan lilin. "Aira aku punya sesuatu untukmu."


Yangki berdiri, mendekati Aira dan berlutut. Memasangkan cincin di jari manis Aira. "Aku mencintaimu Aira." mencium punggung tangan.


Aira menatap cincin itu dengan tersenyum lebar. "Bukankah di pasangkan cincin seperti ini, seolah kamu melamarku?"


Aku ingin menikah denganmu jika umurku panjang Aira, batin Yangki.


"Jika nanti kamu dan aku telah selesai kuliah, dan kita telah dewasa aku akan menikahimu. Sekarang aku hanya ingin memberitahumu, kalau aku berniat menikah denganmu."

__ADS_1


Percaya tidak percaya, kalimat itu mengalir begitu saja dari bibir Yangki dengan mulus karena perasaan cinta yang terlalu dalam untuk Aira. Sedangkan Aira malu-malu mendengarnya, ia belum pernah berpikir tentang menikah. Kemarin Ari menginginkan dia menikah dengan Arnel dan sekarang Yangki berniat menikahinya.


Padahal kita semua baru tamat SMA, kenapa semua memikirkan tentang menikah? Aira.


Setelah menikmati makan malam, mereka berjalan santai di taman kota. Berbincang-bincang banyak hal, Aira sering tersenyum lebar dan tertawa terpingkal-pingkal. Seketika ada rasa bahagia menyeruak di dada Yangki melihat Aira saat ini.


Tidak disangka, Arnel juga berada di taman kota. Ia mengepalkan tangannya, menggertakkan giginya beberapa kali.


Lihatlah! dia bisa tersenyum bahagia dengan sampah itu! Arnel.


"Ra, gak terasa sudah jam 9 malam aja. Kita harus segera pulang nih!" Yangki berkata lembut mengajak Aira pulang.


Mereka segera pulang, tidak ingin Aira di marahi jika pulang larut malam. Menghabiskan waktu kurang lebih 30 menit untuk sampai ke rumah kembali. Di depan gerbang telah berdiri Arnel dan Rido menunggu. Aira gemetar takut.


"Pergilah masuk Ra, gak apa-apa." Tersenyum hangat, mengedipkan mata. "Aku akan bicara dengan Arnel dulu."


Setelah Aira melangkah beberapa langkah, hampir mendekati pintu. Arnel langsung memukul Yangki. "Dasar laki-laki sampah, kau membawanya pergi diam-diam sampai larut malam!"


Yangki tidak menjawab, ia menyunggingkan senyum di bibirnya, dan menyentuh pipi yang baru saja dipukul Arnel. "Kau cemburu?" Dengan santai bertanya. Membuat Arnel semakin geram. Arnel kembali memukulnya, ia tidak menghindar, masih saja tersenyum dan terkekeh.


Malam ini adalah malam perpisahan baginya.


"Kau apakan dia?!" Mencengkram leher baju Yangki penuh emosi. "Aku tidak seperti kamu yang akan menyakiti dia pastinya." Menjawab sinis.


"Kau benar-benar minta di hajar ya!" kekeh Rido sinis. "Jangan salahkan aku berdiam diri saja melihat kau dipukuli, karena mulutmu tidak kau jaga!" Rido berkata sambil melipat tangannya di dada.


"Aku tidak butuh bantuanmu! kalian sama-sama bernyali tempe!"

__ADS_1


__ADS_2