
Aira mengernyitkan keningnya, berfikir kalau laki- laki didepannya benar- benar tidak punya rasa malu, hampir sama dengan Tuan Muda Arnel yang suka meminta barang wanita.
"Tidak banyak sih, apa tidak masalah berbagi makanan denganku?" tanya nya pada Yangki.
"Oh tidak masalah, kita kan teman? Kamu mau kan berteman denganku? Sekarang kita satu meja juga, jadi aku kira kita harus menjadi teman baik," jawab Yangki dengan senyuman termanis.
"Lihatlah laki-laki ini apa dia gak malu? Dia sangat tampan dan aku biasa saja. Apa dia juga mau membullyku seperti tuan muda ya? Jangan-jangan setelah ini dia berniat jahat?" gumam Aira dalam hati."
Arnel kesal bukan main sekarang, melihat dua remaja yang membuat dia jengkel terus menerus, tanpa sengaja dia menabrak tangan Rido yang malas-malasan tidur dengan tangan bertumpu di atas meja belajarnya, sebenernya Arnel hendak keluar kelas berbelanja kekantin, tapi dapat masalah baru dengan Rido.
Setelah menabrak tangan Rido dia hendak pergi seperti biasa yang dia lakukan di SD xxx dahulu. Tidak minta maaf karena merasa maharaja.
Beberapa langkah dari kursinya, kepalanya di lempar dengan kertas yang membulat seperti bola kasti, Arnel menoleh darimana asal kertas itu dengan tatapan mematikan, tapi yang ditatap juga mengeluarkan Aura mematikan.
"Apa maksud kau? Kau cari gara-gara denganku?" sewot Arnel.
"Aku?" jawab Rido dengan santai dan menunjuk dirinya sendiri.
"Iya siapa lagi? Apa ada iblis lain yang bisa terbang membawa kertas ke kepalaku?" ucapnya ketus.
"Oh mungkin benar, kau adalah iblisnya!" senyuman tersungging di wajahnya Rido mengejek Arnel.
"Kau!!" teriak Arnel.
Arnel menghampiri dan memukul Rido, tentu saja Rido membalasnya, mereka saling baku hantam dikelas. Murid lain berhamburan keluar kelas tidak ingin menjadi bagian perkelahian itu.
Aira yang menyaksikan tuan muda dipukul itu adalah hal pertama dalam hidupnya, dia segera berlari menghampiri dan melerai perkelahian itu. Tapi dua remaja itu tersulut emosi yang membara, mereka tidak menghiraukan nya. Aira tiba-tiba merangkul Rido dan memeluknya
"Jangan pukul Tuan mudah Arnel" pekik Aira.
"Pergi!" teriak Rido.
Rido mendorong tubuh Aira sampai dia terjatuh dan perutnya mengenai tepi meja belajar. Yangki yang melihat itu dengan cepat memukul Rido.
"Kau!” tunjuk Rido pada Yangki.
"Aku tidak membela dia," ucap Yangki sambil menunjuk Arnel.
"Dan tidak mencari masalah dengan mu.”
__ADS_1
"Tapi, kau mendorong wanita, aku tidak suka!" jawab Yangki, lalu memapah Aira yang memegang perutnya.
Rido ingin sekali menghajar Yangki dan Arnel tapi tidak bisa karna guru telah datang dan membawa mereka berempat ke kantor untuk memberikan penjelasan.
Pengurus Arnel dan Pengurus Rido datang karna panggilan dari pihak sekolah kalau mereka berkelahi. Yangki dan Aira diizinkan kembali masuk dan belajar dikelas karna mereka hanya melerai tidak terlibat perkelahian.
Akhirnya Rido dan Arnel membuat surat perjanjian dan mendapat hukuman mencabut semak dihalaman dan juga disuruh berlari keliling lapangan oleh wali kelas mereka guru olahraga Linda.
Bel pulang berbunyi..
Sebenernya hukuman Rido dan Arnel masih tersisa semak disekitar taman bunga kelas tiga, tapi dengan trik licik mereka memberi beberapa wanita kelas tiga uang belanja dan disuruh mencabut semak-semak itu.
Arnel sudah duduk duluan didalam mobil sambil meringis nyeri di bibirnya saat meminum teh es. "Aaaah! Mungkin akan sakit jika terkena makanan dan minum, atau air ya? Sungguh sial!” Arnel mengumpat.
Tidak lama kemudian Aira datang dan masuk pelan-pelan tanpa suara berharap dia seolah hilang dari pandangan tuan muda yang sepertinya ingin menelannya hidup-hidup.
"Jangan kau kira sok jadi pahlawan, lalu aku akan simpati padamu!" ucapan Arnel membuat Aira terkejut dan merasa malu kenapa dia melakukan hal seperti itu untuk tuan muda yang jahat ini.
"Maaf tuan muda, tadi aku hanya kawatir padamu. Saya tidak akan berani seperti itu lagi." balas Aira lirih.
•••
"Bi, bagaimanakah keadaan Arnel?" tanyanya.
"Sekarang tuan muda masih tidur Tuan, tadi saya sudah memberi obat dan mengompresnya."
"Dan Aira dimana?"
"Nona Muda sedang belajar tuan, di kamarnya."
Ari kembali ke kamarnya membuka baju dan membuangnya ke ember baju kotor, lalu berendam cukup lama menenangkan pikirannya.
"Apa aku selama ini terlalu memanjakan nya? atau aku belum pantas menjadi seorang ayah?" lirih Ari.
Setelah mandi Ari menemui Aira didalam kamarnya yang sedang membaca buku.
"Bagaimana tadi belajarnya dikelas?"
"Baik paman, SMP X sekolah yang terbaik murid-murid dan gurunya juga terbaik, saya senang sekolah disana paman."
__ADS_1
"Baguslah kalau begitu, apakah kamu tau kenapa Arnel bertengkar?"
"Itu hanya kesalah pahaman paman, Tuan Muda Arnel tidak sengaja menyenggol tangan seorang teman dikelas saat berdiri pergi ke kantin,"
"Sungguh?"
"Iya paman, akhir-akhir ini tuan muda sudah baik dan tidak jahil lagi, paman jangan kawatir."
"Baguslah kalau begitu, paman lega mendengar nya, kalau begitu lanjutkan lah belajarnya, Paman keluar dulu."
"Baiklah, Paman."
Malam ini Ari menemui Arnel dikamarnya, memeriksa keadaan putranya, bahkan malam ini dia menemani putra kesayangannya itu tidur bersama.
"Hoaammm... " Aira menguap dan masih malas-malasan di atas kasurnya, pagi ini embun pagi yang menjadi keindahan dipagi hari menempel di kaca jendela kamarnya. Ia mengeliatkan badannya dan perlahan duduk sambil memutar kepala dan pinggangnya.
Aira beranjak dari tempat tidurnya menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, setelah mandi dia memasang baju, menguncir tinggi rambutnya tinggi, berbedak dan memakai kaca mata. Dia menyusun alat-alat tulis kedalam tas nya lalu memakai sepatu.
Aira menuju keruang makan, disana telah duduk Tuan Ari dan Sekretaris Zack, Aira tersenyum kepada mereka dan mengucapkan selamat pagi.
Tidak lama kemudian Arnel juga keluar dari kamarnya dengan wajah cemberut. " Apakah tuan muda masih sakit, atau masih marah?" gumam Aira dalam hati.
Arnel duduk disamping ayahnya dan Zack dengan wajah cemberut seolah keinginan nya tidak dikabulkan.
"Apa Tuan Muda masih merasa tidak enak badan?" tanya Bi Susi sambil meletakkan segelas susu hangat dan semangkuk bubur kacau ijo.
Ari mengusap kepala anaknya yang sudah tumbuh remaja itu, "Baiklah nanti Papa akan menemui orang tua yang memukulmu, jadi sekarang habiskanlah buburnya."
Aira dan Arnel berpamitan dan bersalam dengan Ari setelah sarapan dan masuk kedalam mobil. Cuaca pagi ini memang sangat sejuk dan dingin karena semalam turun hujan lebat, jalan-jalan disekitar dipenuhi dengan embun.
Arnel memakai jaket dan berpangku tangan duduk didalam mobil sedangkan Aira masih mengisi teka teki (TTS) sampai mereka sampai didepan gerbang sekolah.
Seperti biasa Aira terlebih dahulu keluar dari mobil, sedangkan Arnel masih menunggu sampai beberapa jarak dengan Aira, didepan pintu kelas Yangki sedang berdiri memegang buku ditangan kirinya dan tangan kanannya didalam kantong celana nya.
"Hei, Aira. Aku sedang menunggu mu!" sapa seseorang. Siapa lagi kalau bukan Yangki.
Aira terus berjalan melewati Yangki dan masuk kedalam kelas, Yangki juga mengikuti nya dari belakang dan mereka duduk bersama.
Setelah beberapa saat. “Untuk apa menunggu ku?” tanya Aira.
__ADS_1