
Aira masih melamun disela-sela makannya, wajah tampan Yangki di halaman sekolah tadi siang telah menghipnotis nya, ia mulai terbayang bayang senyuman indah itu sejak tadi, bahkan serasa di dalam piring ada senyum indah itu, sehingga dia tersenyum menatap piring itu.
"Gak menyangka, rupanya Tuan Muda Yangki tampan juga, senyuman nya manis sekali, kok selama ini aku gak lihat ya?"
"Pantas saja, banyak gadis yang mengirimi dia hadiah dan surat cinta. hehehe," batinnya.
Arnel berdiri dari kasurnya, memakai baju dan bersiap menuju meja makan. Di sana ia melihat Aira sedang tersenyum ke arah piring dan bahkan bergumam-gumam pelan, entah apa yang ia gumam kan? yang jelas gumaman itu tidak bisa didengar oleh Tuan Muda Arnel.
Ia duduk disebrang Aira, memakan makanan nya dengan lahap tanpa sepatah katapun. Biasanya ia akan bersuara,setidaknya protes tentang makanan bi Susi.
Aira memandang nya sedikit heran, dan mencuri-curi pandang, setelah itu terkekeh tanpa suara.
"Coba lihat Tuan Muda Arnel, biasa aja! tidak tampan! senyumannya seram, dan apa yang membuat banyak perempuan menyukai dia? heran sama gadis-gadis itu, masih aja kirim surat dan hadiah."
"Kalau aku sih, jangankan hadiah sama surat cinta, kalau bukan karena anak paman Ari Damrah. Males banget! apalagi berteman sama dia, lihat aja! ia egois dan manja begitu! manisan Tuan Muda Yangki, lembut, perhatian, pintar dan tampan lagi. Heheheh," Aira bergumam dalam hati sambil terkekeh menutup mulutnya agar tidak terdengar Arnel.
Arnel hanya diam dan mencuri-curi pandang ke arah Aira yang sedari tadi tersenyum kearah piring, dan ia bergumam seperti orang gila yang berbicara dengan piring, seolah ia bisa mendengar makanan itu sedang mangajak nya berbicara.
__ADS_1
"Dia begitu senangnya ya, saat memikirkan sampah itu! lihatlah, sekarang dia sedang memikirkan dia! aku heran, kenapa cewek desa ini bodoh? ia dengan bodoh bersedia melakukan apa yang diperintahkan Rido, apa dia gak tau? kalau yang bisa menyuruh dia itu hanya aku! bukan orang lain," batinnya.
Arnel menghabiskan makanannya dengan segera, setelah makannya habis, ia segera keluar dan bermain bersama teman-teman nya. Entah kemana, mungkin untuk menghilangkan rasa jengkelnya yang sedari tadi.
Begitu pula dengab Aira, ia juga menghabiskan makanannya, meletakkan piring kotornya dan piring kotor Arnel ke dapur, ia segera ke dalam kamar. Menyelesaikan tugas-tugas sekolah dan membaca beberapa buku, hingga ia tertidur pulas.
Di lain sisi, Tuan Muda Rido murka kepada sopirnya karena kehilangan jejak Tuan Muda Yangki. Ia memaki-maki sang sopir tak henti-hentinya, hingga ia tiba dirumah keluarga besar Wijaya.
Ia turun dari mobil dan menuju ke atas kamarnya dengan wajah garang tak bersahabat, ia mengabaikan maminya yang telah menyambutnya. Ia masuk kedalam kamar, dan membanting tas nya ke sembarangan arah.
Ia terus memukul, meluapkan kekesalannya, ia masih mengingat ucapan Yangki tadi, sungguh ia sangat kesal, ditambah lagi dengan kehilangan jejaknya.
"Terkadang cinta datang kepada orang yang tidak tepat, maka ada bijaknya kau menghargainya, walaupun tidak memilikinya. Sama seperti dirimu yang menyukai Una, seharusnya kau berusaha menjadi lebih baik, agar dia bahagia bersamamu."
"Bukan menuduhku, apalagi menjadikan aku saingan cintamu! karena dipastikan, aku tidak pernah menyukainya sedikitpun! dan kau, kau sangat tau kalau aku menyukai Aira bukan?"
"Kau hanya perlu menikmati rasa sukamu itu! bukan memaksakan kehendak mu kepadanya, apalagi memaksa dengan melibatkan orang lain."
__ADS_1
"Apakah kau tau? setidaknya aku sangat puas melihat Aira bisa tersenyum kepadaku," ucapan Yangki saat itu yang terbayang-bayang oleh Rido.
Ia sangat kesal sekali, ia akan membalas penghinaan dan ejekan ini lain kali kepada Yangki pikirnya.
Di kediaman Admaja, Yangki yang telah mengganti pakaian sekolah dengan pakaian santainya, ia duduk diruangan pribadi miliknya, ia meminta pelayan mengantarkan makanan kesana.
Ruangan ini berada disebelah kamar miliknya, di dalam ruangan ini tersimpan banyak piala dan barang-barang kesayangan miliknya, ada juga beberapa lukisan dan alat-alat lukis.
Waktu kecil ia pernah juara satu lomba melukis, setelah besar ia tidak pernah mengikutinya lagi, tapi ia masih melukis di waktu luang. Mungkin karena perasaannya kurang nyaman hari ini, ia telah lama berada diruangan ini, bahkan sejak pulang sekolah hingga malam pun tiba.
Ia merenungi beberapa hal, tentang Rido dan Arnel dan tentang gadis manis yang ia sukai, ia melukis beberapa gambar bunga dan wajah Aira. tapi lukisan itu masih terlihat jauh dari wajah Aira.
Ia terus berusaha hingga malam pun tiba, tapi hasilnya masih belum sama, tidak terlihat manis seperti yang dipikirkan nya. Entah pikirannya yang tidak bagus, atau pikirannya terlalu berpikir Aira manis sehingga lukisan pun tidak bisa menandingi kemanisannya.
Menurutnya dengan melukis bunga dan wajah Aira, ia bisa membayangkan seolah bertemu dengan Aira suatu hari nanti jika ia tidak bersama Aira lagi, karena Aira telah tersimpan didalam hati dan pikirannya.
Ia membayangkan wajah polos dan manis Aira, sungguh penurut dan pintar pikirnya. Ia ingin selalu bersama Aira melihat senyuman menghiasi wajahnya, tidak akan membiarkan Arnel menyakitinya seperti Arnel mengatakan kalau Aira hanyalah seorang pembantu.
__ADS_1