(Masih Revisi) Danau Hijau Buatan Kakek

(Masih Revisi) Danau Hijau Buatan Kakek
Humaira Protes


__ADS_3

"Sudah, sudah... mama gak mau denger lagi, ok!"


Humaira akhirnya diam dan tidak membantah lagi, ia menghabiskan makanannya dan meminum air dingin di depannya. Lalu, ia mengupas beberapa buah apel dan mangga, ia memasukkannya di dalam mangkuk dan menyiramnya dengan yogurt.


Sebenernya ia masih tidak setuju kalau Ronald tinggal dirumah keluarga Damrah, dan kenapa tidak tinggal dirumah keluarga Wijaya pikirnya.


Tak lama, Agung dan kakek Ari keluar dari kebun belakang. Ia meminta Bi Mona memasak nasi goreng seafood, sedangkan untuk kakek Ari hanya teh hangat tanpa gula.


Setelah itu Agung segera masuk ke kamarnya, mandi untuk membersihkan dirinya.


"Woy, bukannya mandi lu! malah nge game!" seru Agung sambil melempar bantal ke arah Ronald.


"Sirik aja lu!"


Agung mandi dengan segera, setelah ia mandi dengan bersih, ia segera memakai baju dan melempar Ronald kembali dengan handuk. Membuat permainan Ronald terganggu, hingga jagoannya mati tertembak.


"Woy, lu iseng banget sih! mati nih jagoan gue!"


"Hahahaha... sukurin! makanya, pulang kerja tu mandi, bukannya nge-game! cepatan deh lu mandi, terus kita makan dibawah! ada kakek tu nunggu kita dimeja makan."


Akhirnya Ronald mandi, Agung masih bercermin dan menyisir rambutnya yang sedikit ikal itu.


Ia duduk di atas sofa, memeriksa isi pesan yang ada di dalam hp, dan juga melihat beberapa jaringan sosial media miliknya. Tidak lama, Ronald keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggang nya.


Ia masih berdiri didepan cermin, mengangkat lengannya, memamerkan otot lengan dan otot perut nya.


"Woy, gue masih normal. Gak usah pamer otot didepan gue, gak nafsu juga gue!"


"Siapa juga yang mau pamer sama lu, gue cuma mau lihat, dengan begini cewek-cewek bakalan kelepek-kelepek sama gue."


"Hadeeh... dasar Tanjidin. Itu mah, zaman anak remaja, kalau zaman sekarang cewek-cewek lebih suka duit bro," ejek Agung.

__ADS_1


"Emang gue gak berduit bro? duit banyak, berwajah tampan, body ok, pintar, apalagi bro?"


"Hadeeh... iya, iya deh. Lu sempurna bro, cepetan pake bajunya!, jangan lama kek cewek! kakek nungguin tuh dibawah!"


"Iya, iya... dasar Tanjidin. Bawel lu!"


Bi Mona menaiki tangga menuju kemari Agung, ia mengetuk pintu dan memberitahukan bahwa nasi goreng pesanan Tuan Muda nya telah masak dan telah dihidangkan di meja makan.


Tak lama setelah itu, mereka keluar dari kamar dan menuju meja makan. Mereka duduk diantara kakek Ari. Bi Mona telah meletakan teh panas tanpa gula untuk kakek Ari dan beberapa cemilan rendah gula Kusus untuknya.


Begitu pula nasi goreng seafood telur dadar ditambah ayam goreng untuk Tuan Muda Agung, dan nasi goreng seafood telur mata sapi tanpa tambahan sayur ataupun kerupuk untuk Tuan Muda Ronald.


Mereka makan dengan lahap karena memang sangat lapar, sejak pulang kerja mereka belum makan apapun.


"Bagaimana pekerjaan kalian hari ini?" tanya Aira sambil menutup buku cerita yang baru saja selesai ia baca.


"Lancar ma, aku juga dibantu sama kakak Hendrik, rasanya lebih mudah mengerti setelah dijelaskan olehnya."


Aira mengarahkan pandangannya ke arah Ronald setelah mendengar jawaban dari Agung. Ronald pun mengerti tatapan itu dan segera menjawabnya.


"Sukur lah kalau begitu, semoga kalian betah bekerja dan mendapat banyak pengalaman, jika ada yang kurang kalian mengerti, kalian bisa tanya ke mama."


Humaira sejak kedatangan Ronald merasa mood nya sangat buruk, ia segera menghabiskan buah yang ada di dalam mangkuk, ia berniat segera pergi dari meja makan.


"Setelah ini, kamu bersiap ya! kita mau belanja ke mall. Beli oleh-oleh sama Tante Dewi untuk dibawa keluar negri."


"Baiklah ma, sekarang aku siap-siap. Aku mau selesaikan tugas sekolah sedikit lagi, supaya nanti bisa puas bermain ma."


Humaira segera ke kamarnya, menyelesaikan beberapa tugas sekolah untuk esok hari, lalu mandi dan menghias diri. Ia memakai dress berwarna hitam yang panjangnya menggantung dibawah lutut hampir mengenai betisnya.


Lengan dress nya tertutup hampir mengenai siku yang bermotif seperti bunga yang bergelombang. Ia memakai sepatu pansus berwarna merah campuran hitam dengan tas kecil Selempang berwarna merah.

__ADS_1


Ia berhias dengan tipis dan natural, hanya sedikit bedak dan pelembab bibir, menyisir rambut lurusnya yang panjang dengan rapi dan menyelipkan jepitan rambut dirambut itu. Ia juga memakai perhiasan yang senada dengan bajunya.


Dewi dan Aira telah selesai berhias dan menunggu Humaira di teras, beberapa waktu Humaira datang menyusul mereka. Mereka bersiap pergi ke salah satu Mall terbesar dan terkenal di kota ini, perjalanan mereka tidak lama, hanya butuh waktu kurang lebih dengan kemacetan jalanan kota sekitar 30 menit dari rumah keluarga Damrah.


Sedangkan kakek Ari, Ronald dan Agung menghabiskan makanan mereka dengan lahap. Setelah makan, mereka melanjutkan berbincang-bincang sambil bermain catur di halaman samping yang ditemani beberapa cemilan dan minuman.


"Hati-hati ada kuda kakek dari depan lu tanjidin! nanti ben lu bisa lewat disikat kakek," ujar Agung sambil mencoel kepala Ronald.


"Ah! berisik lu tanjidin," jawab Ronald sambil mengibaskan tangan Agung dari kepalanya.


Di lain sisi, Arnel dan Rido setelah mandi mereka membawa beberapa cemilan serta minum dan menggantungkan nya di sepeda mereka.


Mereka mengayuh sepeda sampai ke kolam ikan pribadi milik Arnel, mereka berjalan membawa bekal masing-masing dan duduk di gazebo.


Mereka mengeluarkan makanan, dan mulai menikmati pemandangan disekitar kolam, ada banyak ikan dengan air yang begitu jernih, begitu banyak bunga-bunga indah dan paling terawat disini adalah bunga mawar diujung sana.


Bunga mawar putih yang berada ditengah lingkaran bunga mawar merah di ujung sana, perlahan wajah mereka terlihat sendu setelah melihat bunga mawar itu.


"Aku sungguh masih belum bisa melupakan nya," ucap Rido lesu.


Arnel menghirup nafas panjang dan menghembus nafas kasar.


"Aku juga masih terlalu cemburu kepadanya hingga detik ini, aku juga tak bisa melupakannya. Mungkin hingga akhir waktu kita," sambung Arnel dengan tatapan kosong menatap ke arah mawar indah itu.


"Apakah ia telah memaafkan ku?"


"Aku bahkan belum minta maaf kepada nya," Rido berkata dengan lesu.


Arnel dan Rido hanya saling tatap lalu terdiam menghela nafas mereka masing-masing.


"Aku juga belum minta maaf kepadanya," Arnel berucap dengan sedih.

__ADS_1


Mereka membuka bekal makanan yang dibawa, mencoba memakan makanan itu. Seolah sedang mengajak Yangki makan bersama mereka.


Walau terkadang nasi itu terasa tersendat di kerongkongan, saat mereka menyebut nama Yangki. Tapi setidaknya, dengan ini semua rasa rindu atau pun rasa bersalah mereka bisa terobati sedikit.


__ADS_2