
Di sepanjang perjalan pulang, mereka berdua hanya diam dan senyum malu-malu sampai di rumah keluarga besar Damrah, wajah Arnel tampak sangat bahagia. Ia segera memeluk bi Susi yang menyambut mereka pulang dari sekolah.
Bi Susi sangat terkejut mendapati dirinya dipeluk sangat erat oleh Tuan Muda Arnel, sudah sangat lama ia tidak memeluk bi Susi, mungkin ia memeluk bi Susi terakhir kali kelas 3 SD, itupun saat ia sedang ketakutan atau sedang bersedih dan menangis.
Sejak ia bertumbuh besar sampai remaja seperti ini, ini lah pertama kalinya ia dipeluk kembali oleh Tuan Muda Arnel yang telah ia rawat sedari bayi.
Aira juga ikut memeluk bi Susi, tapi tidak se erat pelukan Arnel saat Arnel melepaskan pelukannya dari Bi Susi. Sang bibi membalas pelukan mereka dengan hangat sambil mengelus punggung mereka.
"Bibi lihat lah, kami lulus," ucap Aira sambil memamerkan kertas yang bertuliskan lulus.
"Selamat ya Tuan dan Nona Muda telah lulus sekolah, alhamdulillah."
"Sekarang Tuan dan Nona Muda mau bibi masakan apa untuk makan siang?" sambung nya.
"Kalau aku sih sembarangan aja bi, aku kan gak milih-milih, asalkan bibi yang masak, aku suka," jawab Aira.
"Aku mau makan capcai aja deh bi," jawab Arnel sambil berjalan pergi menaiki tangga menuju kamarnya.
Aira pun juga menyusul, masuk kedalam kamarnya. Mengganti baju dan menuju dapur membantu bi Susi, agar bisa sambil belajar memasak, harapan nya.
Sedangkan bi Susi, setelah Tuan Muda Arnel memesan makanan, ia segera ke dapur menyiapkan bahan dan memotong sayur-sayuran itu.
Sang bibi asik menumis dan memasak sayur, sedangkan Aira akhirnya hanya bisa melihat saja tanpa bisa membantu. Sang bibi tidak ingin terlambat menyiapkannya sedikitpun, takut jika Tuan Muda akan marah padanya.
Di dalam kamar, Arnel sangat bahagia. Ia melompat riang, tersenyum tiada henti. Ia memegang dada nya yang bergenderang seperti perang di dalam sana.
Berhentilah berdetak cepat seperti ini hatiku, aku tidak ingin terlihat bodoh di depan Aira. Aku sudah lapar, aku mau turun, berdetak lah senormal mungkin, batinnya.
Tapi jantungnya masih saja berdebar-debar, mungkin terlalu bahagia. Ia sungguh senang melihat Aira tersenyum kepadanya dengan tulus, bahkan Aira mau memakai gelang pemberiannya.
Setelah berusaha menenangkan perasaannya cukup lama, ia pun mulai berjalan ke meja makan. Di sana ia melihat Aira seperti bidadari pemilik hatinya, jantungnya mulai kembali berdegup kencang.
Deg... deg...
Ia mulai Salah tingkah berjalan perlahan mendekat meja makan, duduk saling menghadap di depan Aira dengan beberapa jarak kursi pemisah mereka.
Hatiku, berhenti lah membuat aku terlihat salah tingkah begini, aku jadi terlihat bodoh di depannya. Aku ingin mengajak ia berbicara, mungkin bertanya ini atau itu. Tapi kau hatiku, kau membuat lidahku menjadi kelu, tak bisa bicara. Oh aku merasa sangat bodoh sekarang, rutuk nya dalam hati.
__ADS_1
**
Mereka berbincang cukup lama di restoran, sampai suara handphone Wanda berbunyi, mereka segera berpisah, karena Wanda harus pulang segera.
Humaira dan Aira melanjutkan belanjanya, setelah selesai belanja ia kembali pulang dengan sopir.
"Bagaimana belanjanya cucu kakek yang paling cantik?" tanya Ari menyambut Humaira datang.
"Senang kek, dapat banyak baju, terus tadi juga jumpa sama bibi."
"Bibi?"
"Iya bibi, mama tadi nama bibi nya siapa?" teriak Humaira.
"Wanda." sahut Aira sedikit berteriak berjalan menuju dapur.
"Namanya bibi Wanda kek," ucap Humaira.
"Oh Wanda."
"Kakek kenal juga?"
"Kok kakek gak kasih tau sih? dan kenapa dari dulu kita gak pernah jumpa sama bibi?"
"Karena ia tinggal di luar negri."
"Tapi, bibi bilang satu sekolah sama mama? yang mana yang benar nih kek?" tanya Aira bingung.
"Eh kakek lupa, maklum kakek dah tua, iya dulu mereka satu sekolah, kemudian berpisah karena harus melanjutkan kuliah di luar negri," Ari berkata canggung.
"Beneran kek? kok kakek jawabnya gitu sih? kayak lagi ketangkap basah bohong?" selidik Humaira.
Kakek Ari tersenyum canggung.
"Waktu itu...."
•••Falsback off•••
__ADS_1
Arnel dan Aira di daftarkan oleh Sekretaris Zack di sekolah menengah terbaik di kota ini, mereka sudah masuk hari pertama masa orientasi siswa. Aira tersenyum malu saat ia harus berpegangan tangan sepanjang jalan dengan Arnel karena hukuman dari kakak kelas.
Awalnya, Arnel marah-marah kepada Aira tanpa sebab, membuat kakak kelas menghukumnya karena selalu bertengkar, sehingga menghukumnya berpegangan tangan sejak pagi hari sampai jam istirahat sekolah. Bahkan tangan mereka diikat biar selalu berpegangan tangan.
Aira malu sekali harus berpegangan tangan, walaupun pemuda yang berjalan dengannya saat ini adalah pria yang tampan dan pupuler, baru masuk sekolah ini saja sudah dilirik banyak kakak kelas, tapi Arnel tidak pernah peduli, bahkan ia cenderung kasar.
Ia berbeda saat SMP banyak pacar, sedangkan saat sekolah menengah ia kembali saat kelas satu SMP dan SD, menjadi pria dingin yang egois.
Kenapa sih? sifat Tuan Muda harus berubah-ubah? kadang baik, manis, tapi tiba-tiba marah-marah gak jelas. Aneeeh! batin Aira.
Di dalam kegiatan masa orientasi siswa ini, semua murid dibagi menjadi 5 kelompok, Aira dan Arnel masuk kelompok Sriwijaya. Saat jam istirahat datang, tiba-tiba ia melihat sosok yang ia kenal di kelompok Majapahit, ia terus memfokuskan pandangannya untuk melihat pemuda itu dengan jelas.
Itu Yangki bukan? Aira berkata dalam hati.
Ia terus berjalan mendekati kelompok itu, dan memanggil pemuda yang sekarang sedang bertolak punggung dengannya, sampai pemuda itu berbalik dan tersenyum manis kepadanya.
"Hai," tegur Aira berharap pemuda itu berbalik
"Hai," jawab nya berbalik badan.
"Yangki?" seru Aira bahagia.
"Siang Aira," jawabnya tersenyum manis.
"Bukankah kamu mau ke sekolah menengah xxx?"
"Hm... gak jadi, aku males, aku pikir-pikir balik, bagusan sekolah disini."
"Oh gitu, Aku senang deh akhirnya kita satu sekolah," Aira berkata dengan senang hati sambil menggenggam tangan Yangki.
"Aku juga senang Aira," jawab Yangki lembut.
Dia memegang tanganku? Aira apakah kamu tau tentang perasaanku? aku bukan hanya senang satu sekolah bersamamu? tapi aku tidak mampu jauh dan berpisah sekolah denganmu, Yangki berkata dalam hatinya.
Arnel semakin marah sekarang, saat melihat Aira mendatangi kelompok Majapahit dan bahkan sekarang memegangi tangan Yangki.
Cih! dia benar-benar kotoran yang selalu mengikuti! sengaja sekali dia sekolah disini, jelas-jelas dia sudah mendaftar disekolah xxx, aku sudah menyuruh paman untuk mematai-matai. ah!! kesal Arnel dalam hati.
__ADS_1
Ia meremas botol minuman yang ia pegang sampai airnya tertumpah.
"Hai adex ganteng sendirian aja? mau kakak temani gak?" goda gadis kelas 3 itu kepada Arnel.