(Masih Revisi) Danau Hijau Buatan Kakek

(Masih Revisi) Danau Hijau Buatan Kakek
Pengeroyokan Yangki


__ADS_3

Humaira memutuskan menginap di rumah Yuhen. Kini, Aira hanya pulang sendirian. “Baiklah, baik-baik di sini, jangan bandel.” pesan Aira, pada putrinya.


“Ok, Ma. Jangan kawatir.”


**


Malam pun datang.


Yuhen masuk ke dalam kamar Selly dan Humaira, memeriksa para gadis-gadis. Setelah masuk, bukannya cepat keluar, malah tertahan di sana.


Selly dan Humaira, dua gadis yang selalu merindukan Yangki. Menagih cerita pada Yuhen. “Paman, Ayo, ceritakan pada kami. Please...” Dua gadis itu memelas, menunjukan wajah paling iba dan sungguh imut.


Dan akhirnya, Yuhen pun bercerita...


•••Flasback•••


Setelah kepergian Yangki dengan sopirnya meninggalkan rumah keluarga Damrah, Aira segera berlari masuk kedalam kamarnya dan mengunci rapat. Ia menangis dan mengutuki Arnel dan Rido dari belakang. "Dasar anak manja yang egois, pengecut! suka main keroyok dan main pukul!"


"Aku tidak akan pernah bersedia menikah dengan pria egois seperti itu! tidak akan pernah bersedia!" Ia menangis memeluk guling dan memukul guling itu beberapa kali.


Rido dan Arnel masih bermuka masam di luar, masih kesal dengan tindakan Yangki. "Kau tidur disini saja!" mengajak Yangki masuk kedalam rumah dan masuk kedalam kamarnya. "Benar-benar bikin kesal dia!" Rido masih mengumpat kesal.


"Aku masih merasa kesal dan panas, aku mau berenang!" Pergi keluar kamar dan meminta handuk kepada pelayan. "Apa kau ikut?" Rido mengikutinya, mereka berenang sampai dingin malam itu.


"Tuan Muda apa kita gak kerumah sakit aja? hidung Tuan Muda banyak mengeluarkan darah, Paman kawatir sekali!" Sang Sopir melirik cemas dari kaca depan. "Aku baik-baik saja paman, jangan kawatir! ayo, kita pulang saja!"


Yuhen yang baru saja pulang beberapa hari lalu dari luar negri sangat terkejut mendapati adiknya berdarah. Ia sedang libur kuliah, dengan bergegas ia pulang karena mendengar kondisi Yangki semakin buruk setiap hari. Ia juga penasaran dengan wanita yang dicinta adiknya, setiap mereka bertemu adiknya akan menceritakan wanita itu.

__ADS_1


Sejak tadi siang Yangki memintanya menilai penampilannya, ia ingin bertemu dan mengatakan cinta pada gadis pujaannya. Beberapa kali adiknya itu bercermin tidak percaya diri, bahkan beberapa kali mengganti pakaian demi menemui gadis itu. Adiknya telah jatuh cinta pada gadis itu sejak mereka SMP hingga hari ini.


"Yangki, ada apa denganmu!" berteriak cemas. Membuat mama dan papa mereka keluar dan memeluk Yangki. "Anakku kamu kenapa?" Mama Yangki mulai histeris.


"Aku tidak apa-apa, jangan kawatir. Tadi aku hanya terjatuh saking groginya." berkata bohong.


"Apa kau kira aku bodoh! ini bekas pukulan! wajahmu bengkak begini? siapa yang berani memukulmu? akan aku patahkan tangan mereka!" Yuhen menggertakkan giginya dengan geram.


"Ma, Pa, Abangku tersayang. Aku baik-baik saja, aku mau masuk kamar dulu. Aku mau ti..." ucapan Yangki terputus. Badannya ambruk jatuh, untung saja Yuhen dengan sigap menangkap tubuh adiknya. "Ia pingsan, cepat panggil dokter!"


Yangki digendong oleh Yuhen dan papanya masuk kedalam kamar, beberapa puluh menit kemudian dokter keluarga Admaja datang memeriksa keadaan Yangki. Keadaan Yangki bertambah buruk, bahkan sangat buruk setelah terjadinya pemukulan keras di bagian kepalanya. Pukulan yang paling kuat itu dilakukan oleh Rido, hingga membuat Yangki tersungkur lama tadi.


"Aku mohon Dok, tolong anak saya," rengek Mama Yangki. "Kami sudah melakukan yang paling terbaik Bu, sekarang tolong nak Yangki harus diperhatikan istirahatnya, jangan sampai terlalu banyak berpikir dan luka seperti ini lagi dikepalanya!" ucap Dokter sambil memberikan resep obat.


Setelah itu Yuhen mengantar Dokter keluar kamar, Dokter segera pulang kembali. Yuhen mendatangi dan mencengkram leher baju Sang Sopir. Ia dan Yangki sangat berbeda, ia sangat pemarah dan emosian, sedangkan Yangki lembut dan hangat. Ia sangat mencintai adiknya.


"Apa yang terjadi! siapa yang memukul adikku!" berteriak marah. " Maaf Tuan Muda, ini salah Paman. Tuan Muda Yangki melarang Paman mendekat, saat mereka mengeroyoknya."


"Mereka putra dari keluarga Damrah dan Wijaya." menyahuti pertanyaan Yuhen. "Lihat saja, aku akan membalas mereka!"


Ia kembali masuk kedalam kamar Yangki. Ibu Yangki telah memangku kepala Yangki dan mengusap rambut putra bungsunya itu. Sedangkan Ayahnya sedang mengompres wajah putranya. Yuhen segera mendekat dan menggenggam tangan adiknya.


"Tenang saja, Abang akan segera memberi mereka pelajaran!" memegang tangan Yangki dan menempelkan punggung tangan adiknya ke pipinya. "Jangan bang, mereka temanku!" bela Yangki.


"Teman? Huh!" Yuhen mendengus. " Teman seperti apa yang main keroyok? aku akan menghajar mereka! pengecut!" Yuhen tersulut emosi. "Bang tenanglah, aku gak apa-apa, lagian ini semua salahku."


"Sudahlah Yuhen," ucap Ibunya menenangkan. Yuhen segera diam setelah mendengar Yangki terbatuk-batuk kembali. "Ma, Pa, Bang apa kalian pernah jatuh cinta?"

__ADS_1


Mama dan Papa Yangki mengangguk. "Mama dan Papa saling mencintai." jawabnya mengelus rambut Yangki. "Apa Abang pernah jatuh cinta juga?" melirik Yuhen.


"Iya, Abang pernah jatuh cinta dengan seorang gadis." jawab Yuhen, lalu ia tertunduk. Entah apa yang ia rasakan sekarang. "Apakah gadis itu tau?"


"Tidak! dia tidak pernah tau! tapi Abang tau, dia tidak pernah mencintai abang. Dia mencintai orang lain." Yangki menggenggam tangan Yuhen. "Aku do'akan supaya Abang menemukan cinta sejati secepatnya." membalas dengan senyuman lebar.


"Bagaimana dengan gadis yang kamu suka? apa dia juga menyukaimu?" bertanya penuh harap. "Dia belum menjawab, dia masih ragu. Tapi kami telah berciuman."


"Berarti dia juga mencintaimu!" Yuhen tersenyum lebar.


"Lihatlah kotak itu, disana ada beberapa surat yang aku tulis, ada juga beberapa hadiah dan aku mohon supaya nanti memberikannya kepada gadis yang aku cintai, dan 2 orang pemuda yang memukulku hari ini. jika aku sudah tiada," Yangki berkata dengan tersenyum.


"Tutup mulutmu dik! aku tidak mengizinkan kau bicara seperti itu!" jawab Yuhen dengan mata berkaca-kaca.


Yangki tersenyum lebar dan terkekeh.


"Ma, Pa, Bang. Apa kalian ingin mendengar ceritaku?"


"Iya, tentu. Tentu saja!"


•••Yangki memulai cerita...


Hari itu aku berjumpa dengan seorang gadis, ia membuat aku begitu tertarik, dia tidaklah cantik. Memakai kacamata, penampilan biasa saja dan bisa dibilang sangat sopan, rok nya panjang dibawah lutut tidak seperti gadis pada umumnya, memakai rok sebatas lutut atau diatas lutut.


Bibirnya merah berisi, rambutnya panjang dikuncir tinggi, berkulit kuning langsat. Aku ingin sekali mengenalnya, tapi kelihatan ia bersama pemuda yang terlihat sangat populer. Pemuda itu Tuan Muda keluarga Damrah, siapa yang tidak tau? Tapi, yang membuat aku penasaran. Kenapa gadis itu bisa keluar dari dalam mobil pemuda itu?


Apakah mereka saudara? ataukah dia pembantu? Jika saudara tentu saja penampilannya lebih keren seperti gadis umum lainnya, kalau dia pembantu kenapa begitu mewah harus pergi satu mobil. Bukankah Tuan Damrah itu terkenal sangat kejam!

__ADS_1


Aku penasaran sekali, saat pulang sekolah dengan sengaja aku memepetnya. Ia menabrak tubuhku. "Berhasil." pikirku. "Maaf, saya gak sengaja." ucapnya kepadaku. "Iya, tidak apa-apa, nama saya Yangki." jawabku mengulurkan tangan kearahnya.


Aku tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk berkenalan dengannya. "Aku Aira, salam kenal. Aku duluan ya!" balasnya sopan, lalu pergi meninggalkanku. Aku masih ingin berbicara dengannya, aku mengikutinya dan melihatnya dari kejauhan. Tampak jelas olehku pemuda itu berwajah masam dan memarahinya.


__ADS_2