
"Berjanji lah pada ku Aira!" ucap Ari.
"Iya pa, aku janji akan selalu menjaga dan mencintai Arnel."
"Dua hari yang lalu, aku bertemu dengan Hasan di sebuah minimarket. Aku mengikuti nya, aku mengajaknya berbicara di warung kopi ceria yang tidak jauh dari minimarket itu."
"Aku tidak bisa bicara banyak dengannya, ia tidak ingin berbicara dan sepertinya masih enggan bertemu denganku, ia berbicara kepadaku karena permintaan putrinya."
"Apakah kau ingat? teman sekolah mu yang bernama Wanda?"
Aira tentu saja mengenal Wanda, wanita yang telah berpacaran lama sejak SMP dengan Andi, pertemanan mereka mulai berantakan sejak kehamilan Aira dan kedatangan Yuhen.
"Iya, aku ingat dan mengenalnya pa. Kenapa dengan dia?"
"Dia... dia adalah putri Hasan. Karena Wanda kenal dengan kamu dan Arnel, makanya bisa berbicara dengan Hasan."
Aira sungguh terkejut mendengarnya.
"Bagaimana kabarnya pa, papa jumpa ia dimana? selama ini, aku tidak pernah bertemu dengannya lagi," tanya Aira antusias.
"Mereka baik-baik saja, mereka baru pulang dari luar negeri, kemungkinan akan menetap di sini."
Ari menghembuskan nafasnya dengan kasar, lalu meminum air mineral yang telah di siapkan bi Mona untuknya. Ia merasa kepulangan Hasan kali ini bukanlah kebetulan, seperti ada rencana yang ia susun, batinnya.
Baguslah, aku bisa menemui dan mencari mereka, aku sudah lama tidak berjumpa dengan Wanda.
"Pa, ungkapkan lah semua yang menggangu perasaan dan pikiran papa, aku akan mendengar nya."
"Dulu..."
••• Flash back off•••
__ADS_1
Damrah mengayuh sepeda ontelnya dengan bersemangat, ia mengajak Ari bertemu dengan dua orang anak adopsi nya.
Ari yang berumur 10 tahun saat itu menatap dua bocah beradik kakak yang berpenampilan kumuh itu dengan kasihan, orang tua kedua bocah itu meninggal, mereka hidup terlantar, karena kasihan Damrah mengadopsi dan membawa mereka.
Damrah seorang pria hangat, lembut dan penuh kasih sayang. Ia menyukai anak-anak, mereka berdua adalah anak ke delapan dan sembilan yang di adopsi Damrah.
"Aku Ari," ucap nya sambil menjulurkan tangan.
"Aku Hasan, Aku Viza," jawab mereka bergantian sambil menjawab salam.
"Kalian akan menjadi saudaraku ke delapan dan sembilan," sambung Ari.
Semua anak adopsi Damrah sangat patuh dan mencintai Ari dan Damrah. Mereka di besarkan dengan kasih sayang dan di sekolahkan disekolah yang terbaik.
Mereka besar bersama, tapi sebagian informasi tentang mereka mulai di rahasiakan dari publik, hanya Ari yang muncul di permukaan publik, sedangkan yang lain menjadi pendamping rahasia yang setia padanya.
Saat Remaja, Hasan jatuh cinta kepada anak tiri ibu Ari, ia selalu melindungi gadis itu saat Ari berniat melukainya, sehingga suatu hari ia meminta Hasan memperkosa gadis itu, ia tidak kuasa dan terpaksa menurutinya, kalau tidak Ari akan menyuruh orang lain memperkosa gadis itu bersama-sama.
Semenjak kejadian itu, Hasan mulai murung dan mulai tidak patuh akan perintah Ari. ia diam-diam mengintip dan menemui gadis itu.
Hari semakin berlalu, mereka bersaudara mengembangkan usaha kopi Damrah, hingga menjadi pabrik kopi, setelah itu beberapa cabang pabrik kopi, menjadi pabrik minuman lainnya, dan menjadi beberapa pabrik lainnya.
Nama Damrah semakin dikenal, mereka semakin dewasa dan tiba diwaktu pernikahan Ari. ia menikahi gadis desa dari kampung halaman ibu nya, ia menikahi gadis itu dan menyiksa nya.
Hasan sering membela istri Ari dan melindunginya. Apalagi saat ia mengetahui, adik perempuan nya Viza juga diminta ikut campur dengan urusan rumah tangga Ari.
Ia sangat kesal saat mengetahui Viza hamil karena dipaksa Ari tidur dengan laki-laki yang bernama Hardi, ia sangat kecewa karena Ari tidak melindungi Viza, tapi malah merusak hidupnya.
Setelah hamil, Viza diminta menyembunyikan diri dengan Hardi didesa terpencil. Itu semua membuat Hasan semakin marah. Ia sampai memukul Ari, sehingga mereka saling pukul.
Itu untuk pertama kalinya mereka bertengkar sampai saling pukul, persaudaraan mereka jadi pro dan kontra, ada yang membela Hasan dan ada pula yang membela Ari.
__ADS_1
Usaha yang mereka kembangkan, menjadi terpecah. Sakit Jantung Damrah menjadi kambuh saat mendengar Ari meminta Hasan memperkosa anak tiri ibu nya, dan meminta Viza mengandung anak laki-laki yang tidak diketahui asal usulnya.
Setelah Damrah meninggal, mereka semakin pecah, mereka mulai keluar dari rumah keluarga Damrah, yang tertinggal hanya Ari dan empat orang saudara yang mendukungnya, sedangkan dua orang ikut dengan Hasan dan dua orang lainnya menghilang tanpa kabar.
Sebelum keluar dari rumah, Hasan berkata 'jika ia akan membalas dendam untuk adik nya Viza yang telah dipaksa mengandung dengan laki-laki yang bahkan ia tidak kenal'.
•••Flashback On•••
Ari menghela nafasnya.
"Begitulah ceritanya, papa minta maaf," lirihnya.
"Sapu tangan ini adalah hadiah ulang tahun ku, mereka menjahitnya sendiri dengan tangan, menulis nama mereka berdua."
"Aku ingin kau menyimpannya."
Aira mengambil sapu tangan itu lalu menyimpannya dalam kantong, sekarang tubuhnya merasa kaku, ia tidak menyangka papa yang selama ini begitu lembut sangat kasar dan kejam di masa muda.
"Aku masih berpikir, sebenernya ia tidak ingin balas dendam. Jika ia ingin balas dendam, tentu saja ia bisa melakukannya dari dulu. Kecuali, ia tau karena kau dan Arnel saling menyukai."
"Dan aku tidak kawatir lagi, cukup lah aku yang akan menerima amarahnya," sambung Ari.
"Papa jangan banyak berpikir, tidak semua yang terucap di masa lalu itu benar. Tidak semua di bibir akan sama dengan isi hati di masa sekarang. Mungkin dulu paman Hasan berbicara seperti itu karena kesal."
"Aku berharap juga begitu, tapi aku sudah siap menerima semuanya. Asal kan, kau jangan membenci Arnel, ia sangat mencintaimu Aira," ucap Ari sambil meletakkan tangannya di atas kepala Aira.
"Berjanjilah Aira, kau tidak akan membenci Arnel apapun yang terjadi, tetaplah berada di sampingnya, jangan pernah tinggalkan ia. Papa tau dari dulu, papa telah memaksa mu selalu disampingnya, bahkan diam-diam menyusun rencana untuk pernikahan kalian."
"Pa, jangan pikirkan itu lagi. Semua telah berlalu, aku ikhlas menjalani perjodohan ini, dan aku mencintai Arnel sekarang pa, aku akan selalu menjaga cintaku padanya, dan akan di sisi nya hingga akhir nanti," tegas Aira.
"Papa bahagia mendengarnya, sekarang bisa kah kau meninggalkanku sendiri," ucap Ari dengan tatapan kosong ke jendela.
__ADS_1
Aira pergi meninggalkan Ari yang termenung entah memikirkan apa di sana, sedangkan sekarang ia juga termenung menatap sapu tangan yang hendak ia simpan, ia duduk di sofa dengan memegangi sapu tangan itu di dalam kamar, berharap semuanya akan baik-baik saja.