
Rido dan Arnel menghabiskan waktu mereka disana, makan cemilan dan minum. Entah apa saja yang mereka bahas. Mungkin mengenang masa-masa muda dengan bernostalgia waktu lampau.
Sedangkan di tempat lain, Una, Humaira, Aira dan pelayan lainnya telah sampai di parkiran Mall terbesar dikota ini. Mereka awalnya hendak pergi bertiga, tapi Una berinisiatif mengajak para pelayan untuk memberikan mereka hadiah, walaupun sebenernya Aira juga telah memberi mereka bonus beberapa waktu lalu.
Mereka membawa Bi Mona dan pelayan lainnya, bahkan sopir dan dua bodyguard juga mengikuti mereka. Mereka berbelanja begitu banyak, membeli beberapa oleh-oleh untuk Dewi.
Membeli bahan masak dan keperluan lainnya, setelah itu mereka juga disuruh memilih apapun yang mereka suka sebanyak tiga bentuk, boleh pakaian mereka, untuk suami mereka atau anak mereka.
Humaira dan pelayan gadis yang belum menikah lebih memilih ke toko baju, tas dan sepatu. Mereka memilih beberapa dan mencocokkan nya dengan mereka.
Ditoko ini Humaira yang paling aktiv memilih baju, tas dan sepatu. Hampir semua iya coba, bahkan pelayan toko hanya bisa tersenyum ramah padanya, walaupun sudah mulai jengkel mungkin.
Di lain sisi, Aira yang sedang asik memilih bahan lainnya berhenti didepan barang yang iya pegang, iya memegang sebungkus pembalut.
Ia teringat di saat bersama Yangki, betapa perhatiannya pemuda itu padanya. Sesaat Ia termenung cukup lama.
__ADS_1
Aira terkejut saat pundaknya dipukul pelan oleh Una.
"Beb," panggilnya sambil memukul pundak Aira.
"Kok melamun sih? Sambil mengangkat pembalut lagi. Mending lamunin obat kuat beb, biar puas di ranjang," sambungnya terkekeh.
"Bisa aja kamu beb, emang seberapa kuat sih kalo minum obat kuat?"
"Kamu gak pernah coba beb? Arnel gak pernah make apa? Wah, kamu harus coba beb. Bisa puas loh," goda Una.
"Tante sama mama kok lama sih? makanan ku dah mau habis nih," sewot Humaira.
"Maaf sayang, tadi tante cari-cari beberapa barang, apakah calon menantu tante sudah dapat semua yang dibutuhkan?" goda Una.
"Tante apaan sih, siapa yang mau jadi calon menantu Tante? Aku masih sekolah juga." sewot Humaira cemberut kesal.
__ADS_1
Una dan Aira terkekeh melihat Humaira cemberut karena di goda.
Setelah puas berbelanja, mereka berhenti di restoran mengisi perut, para pelayan juga sangat bahagia, apalagi para pelayan yang belum pernah mencicipi menu yang di sajikan para pramusaji di hadapan mereka.
Una dan Aira memesan beberapa meja untuk mereka dan pelayan yang ikut dengan mereka, dengan hidangan yang spesial dan sama antara mereka dan pelayan mereka.
Setelah makan dan berbelanja sepuas hati, mereka semua pun kembali pulang kerumah
**
Sedangkan 2 pira dewasa yang masih bernostalgia itu belum juga memunculkan puncak hidung mereka, padahal jam sudah mulai menunjukkan jam 8 malam.
Arnel dan Rido masih bertahan lama di sana, walaupun nyamuk sudah mulai menggigit kulit mereka, gigitan nyamuk tak sesakit jati yang rindu dan penuh penyesalan, itulah yang mereka rasakan sekarang.
Dua wanita dewasa, Una dan Aira seolah tau, kenapa suami mereka belum juga datang. Mereka sangat paham dan mengerti. Sebenarnya, bukan dua pria dewasa itu saja yang menaruh luka, namun dua wanita dewasa ini juga. Karena dulu, mereka pernah jatuh cinta pada orang yang sama.
__ADS_1