(Masih Revisi) Danau Hijau Buatan Kakek

(Masih Revisi) Danau Hijau Buatan Kakek
Sedang Menunggumu


__ADS_3

Keesokan harinya, aku masih melihat gadis itu turun dari mobil pemuda itu. Aku buru-buru masuk ke dalam kelas sebelum ia sampai. Sebelum itu, aku telah bertukar tempat duduk dengan teman baruku, namanya Andi.


Andi menyukai teman Sekolah Dasar ku dulu, namanya Wanda. Ia dengan senang hati pindah, agar bisa duduk dan berkenalan dengan Wanda, begitu pula aku. Gadis yang aku sukai itu juga teman Sekolah Dasar Andi, jadi aku dan dia bertukar informasi.


Saat dia sampai di kelas, aku melihat wajahnya mengeluarkan expresi terkejut. Dengan cepat aku menyapanya, agar dia tidak berpikir buruk terlebih dahulu padaku. "Hai Aira, aku bertukar tempat duduk dengan Wanda karena Andi ingin duduk disampingnya." ucapku berbisik kepadanya saat ia mencoba melewatiku duduk dibangkunya, disampingku.


Ia menatap lurus kedepan, mungkin melihat Andi. Aku merasa risih dan tidak suka ia menatap Andi, aku kawatir dia akan menyukai Andi. Jadi, dengan tidak tahu malu aku mencari perhatiannya. "Aku dengar dari teman sekolahmu dulu, kamu adalah murid yang sangat pintar."


"Andi juga bilang padaku kau sangat pintar dalam pelajaran fisika, aku kurang menguasai pelajaran itu, bisakah kamu membantuku." Aku mencoba memuji dan menggodanya. "Tidak juga, aku tidak terlalu pintar kok! mungkin kamu harus banyak-banyak membaca dan menghayatinya," jawabnya.


"Pagi ini pelajaran fisika, bantu aku ya! Biar aku paham."


Ia tersenyum. Sungguh cantik pikirku. "Kamu lucu Yangki, aku bukan guru, tentu saja aku tidak bisa membimbingmu. Tapi, jika nanti guru telah menjelaskan, mungkin kita bisa bekerja sama mengerjakan latihannya," terangnya.


Setelah lonceng istirahat berbunyi, aku mengajaknya ke kantin. Tapi ia menolak, ia membawa bekal sendiri. Aku ingin tertawa saat itu, bagaimana bisa seorang gadis yang sudah SMP membawa bekal seperti bocah Sekolah Dasar. Aku menahan tawaku dengan akting senyum hangat.


Walaupun aku merasa lucu, kenyataannya aku penasaran dan mengikutinya. Ia tidak marah saat aku ikuti, ia malah menyuruhku duduk juga saat ia mulai duduk di taman. "Apa kamu banyak bawa bekal? bisa berbagi denganku?" tanyaku penuh harap. Aku sungguh penasaran seberapa enak makanan itu.

__ADS_1


"Tidak banyak sih, apa tidak masalah berbagi makanan denganku?" Ia berbalik bertanya kepadaku. "Oh, tidak masalah. Bukankah kita berteman? kamu mau kan berteman denganku? sekarang kita sudah satu meja belajar. Jadi, aku kira mulai sekarang kita harus berteman baik kan?" pancingku agar dia bisa berteman dengannya, mungkin bisa lebih dekat pikirku.


Awalnya aku hanya ingin mencicipi makanan itu sedikit, aku mencobanya. Makanannya enak dan nafsu makanku bertambah. Aku sungguh menikmati makanan itu, makan satu bekal berdua dengannya membuat aku tersenyum bahagia dalam hati.


Sepertinya, dia masih lapar dan belum puas makan di karenakan kotak bekal memang kecil dan kami memakannya berdua. Sebenarnya aku malu, seolah aku pemuda miskin yang meminta makan seorang gadis.


Tapi entah kenapa makan bersamanya sungguh enak dan membuatku sangat lapar sampai rasa malu ku hilang dengan sendirinya. Aku berniat di dalam hati akan menggantinya esok.


Setelah kami makan, kami berjalan beriringan masuk kedalam kelas. Aku mencuri-curi pandang meliriknya dari samping. Saat kami masuk kedalam kelas, aku melihat tatapan tajam dari pemuda yang selalu satu mobil dengannya.


Pemuda egois itu adalah putra semata wayang keluarga Damrah orang nomor satu di negara ini. Aku tidak peduli, karena aku tidak buruk juga. Mungkin keluargaku adalah orang nomor 2 di negara ini. Ia selalu saja marah padaku dari pertama kali kami bertemu.


Ia bertengkar dan saling pukul. Pemuda yang ia senggol itu adalah anak baru yang cukup sombong dan suka berkata kasar, pikirku. Aku biarkan saja mereka bertengkar, aku tidak peduli. Tapi, tiba-tiba.....


"Jangan pukul Tuan Muda Arnel lagi!" ucap gadis itu melerai mereka. "Pergi!" teriak pemuda sombong itu, ia mendorong tubuh gadis itu sampai ia terjatuh. Perutnya mengenai tepi meja belajar.


"Ciih!" hinaku dalam hati. Aku langsung mendekat, aku sungguh tidak terima gadis itu di dorong dengan kasar olehnya, aku memukul wajah pemuda sombong itu. "Kau!" teriaknya sambil menunjukku dengan marah.

__ADS_1


Aku menyunggingkan bibirku, tersenyum sinis, aku langsung menunjuk pemuda egois yang menjadi lawan bertengkar pemuda sombong itu. "Aku tidak membelamu!"


Lantas menghadap ke pemuda sombong kembali. "Dan tidak mencari masalah denganmu! Tapi, kau berbuat kasar kepada gadis itu. Kau mendorongnya! Aku tidak suka itu!" ucapku lantang kepada pemuda itu. Setelah itu, aku memopoh tubuh gadis yang sedang memegang perutnya itu.


Setelah dari ruangan UKS, ia tidak apa-apa. Hanya sedikit memar dan telah diolesi obat oleh guru dibagian perutnya. Dari mana aku tau? aku melihat guru mengolesnya, tapi tidak melihat secara dekat, apalagi bisa melihat perutnya.


Setelah kejadian itu, kami dibawa kekantor. Pada akhirnya dua pemuda yang bertengkar itu di hukum dan kami berdua disuruh masuk dan belajar ke dalam kelas.


Bel pulang berbunyi, dengan bergegas aku hendak menyusul gadis itu, aku ingin mengantarnya pulang ke rumah. Tapi, ia berjalan begitu cepat dan terburu-buru. Ia langsung bergegas masuk kedalam mobil yang ada pemuda egois itu di dalamnya.


Wajah pemuda itu masih saja masam dan menghardik gadis itu. "Dasar gadis penurut! kau begitu patuh dan takut padanya! apakah benar kamu itu pembantunya?" aku bergumam dalam hatiku sendiri melihat mobil itu melaju pergi.


Pagi esoknya, aku masih memperhatikan gadis itu diam-diam, aku masih melihat dia dan pemuda egois itu satu mobil. Seperti biasa, gadis itu akan turun duluan sedangkan pemuda egois itu akan menyusul beberapa menit kemudian. Aku bergegas lebih dulu melangkah sebelum ia sampai ke dalam kelas.


Aku menunggu gadis itu di depan pintu kelas sambil bersender ke dinding, memegang satu buah buku bergaya sok keren, aku masukkan satu tanganku di kantong celanaku, agar terlihat tampan dimatanya, pikirku.


"Hai Aira, aku sedang menunggumu!" sapaku padanya. Tapi, gadis unik itu hanya berjalan melewatiku, dan masuk kedalam kelas tanpa menoleh apalagi memperhatikanku. Ia tidak menjawabku. Dia sangat berbeda dengan gadis lain, aku semakin tertarik ingin mengenalnya lebih lagi.

__ADS_1


Aku berpikir keras terkadang, kenapa ia sama sekali tidak terpesona kepadaku? Begitu banyak gadis terpesona denganku, banyak yang bilang kalau aku ini tampan dan baik. Aku berjalan mengikuti langkahnya masuk kedalam kelas dibelakangnya. Kemudian aku duduk, tentu saja duduk disampingnya, karena aku satu meja dengannya.


"Untuk apa menungguku?" tanyanya berwajah datar tanpa menoleh kepadaku. Ia sibuk membuka tas, mengeluarkan sebuah buku, dan memasukan tas kedalam laci meja.


__ADS_2