(Masih Revisi) Danau Hijau Buatan Kakek

(Masih Revisi) Danau Hijau Buatan Kakek
Belikan Aku Buku


__ADS_3

Sesampai dirumah Arnel naik keatas menuju kamarnya, membuka bajunya dan hanya memakai celana pendek. Ia mengeluarkan buku-buku didalam tas nya, lalu ia membanting semua buku-buku itu.


Ia juga melempari hampir seluruh isi kamar kedinding dan kesembarang arah. Entah salah apa barang-barang yang tidak berdosa itu?, jika barang-barang itu bernyawa mungkin akan menendang dan memaki Tuan Muda Arnel.


Aira yang berada disebelah kamar Tuan Muda Arnel mendengar jelas suara ribut yang berasal dari dalam kamar tuan muda itu. Ia yakin tuan muda itu sekarang sedang marah dan melampiaskan kepada barang-barang di dalam kamar nya.


Ia tidak peduli dengan sifat tuan muda egois yang banyak ingin nya itu. Ia mengganti bajunya merapikan buku-buku diatas meja, lalu menuju ke ruang makan karena lapar.


Setelah melempar beberapa barang, Arnel terduduk lemas di kasurnya lalu merebahkan badannya diatas kasur dengan posisi kaki masih menjuntai di lantai. Ia memejamkan mata dan satu tangan kiri diletakkan diatas kening.


Sedangkan tangan kanan nya memukul kasur. Kasur itu hanya diam saja menerima pukulan, jika kasur itu hidup mungkin dia akan menjatuhkan tubuh remaja yang tidur diatasnya sekarang, apalagi memukulnya sambil mengeluarkan sumpah serapah entah kepada siapa.


"Ah, berani sekali cowok sampah itu berkata seperti itu padaku! memang kenapa kalau dia memberi hadiah kepada cewek desa itu!? apa peduliku hah?!"


"Berani sekali dia menantang ku! Ah... sial! Dia juga memeluk dan menyentuh cewek desa itu!"


"Lagian kenapa sih cewek desa itu diam saja?! gak sadar diri jadi orang! lihat saja aku akan menghukumnya!."


Tuan Muda Arnel duduk dan memakai baju kaos berwarna hitam, ia berjalan keluar menuruni anak tangga dan segera menuju kemeja makan.


Di meja makan ia melihat Aira makan dengan lahap, Aira berbicara sambil tersenyum manis kepada Bi Susi. Jantung Arnel berdebar-debar melihatnya.


"Ah, kenapa dengan ku?! kenapa aku menjadi aneh seperti ini? melihat cewek desa itu membuat dadaku sakit seperti selesai lomba lari?" Arnel mengumpati dirinya sendiri.


"Oh Tuan Muda sudah turun. Mari tuan muda, bibi siapkan makan siangnya."


Arnel mengambil jarak yang cukup jauh kursinya dari kursi Aira duduk makan sekarang, setelah bibi menyiapkan makanan ia memakan makanan itu dengan diam tanpa suara. Tidak seperti biasanya, dia akan protes ini dan itu dan akan menjahili Aira.


"Huh! kenapa aku gugup sekali didepan cewek desa ini?!" Arnel bergumam dalam hati.


"Tumben Tuan Muda Arnel tidak menjahiliku, dan tidak protes kepada bibi. Apakah ia sakit? atau marah kepada teman-teman nya disekolah tadi?"


"Aku kira itu pasti marah pada teman-teman nya, kalau tidak dia marah padaku pasti menghukum ku dan lagian tadi dia merusak barang-barang dikamarnya, kalau marah padaku pasti barang-barang ku yang dirusak olehnya." Aira bergumam dalam hati.


Meja makan itu cukup lama sepi tanpa suara, hanya dentingan sendok yang bertemu dengan piring. Aira yang telah terlebih dahulu menghabiskan makanannya berdiri hendak meletakkan piring kotor di dapur. Ia terhenti berjalan karena Tuan Muda Arnel berbicara kepadanya.

__ADS_1


"Biarkan bibi membereskan nya, temani aku makan disini."


Aira kembali duduk meletakkan piring kotor didepannya, suasana masih saja diam setelah beberapa saat ini. Arnel yang gugup dan salah tingkah hanya bisa diam agar tidak ditertawakan oleh Aira pikirnya.


"Sial! kenapa aku sampai bilang minta ditemani makan sih? lagian kenapa aku kesal ditinggal makan sendiri, Huh!"


Aira kini semakin larut dalam pikirannya, apalagi yang akan direncanakan Tuan Muda Arnel kepadanya? hukuman apa yang akan dilakukannya? mengingat tuan muda nya sangat egois dan manja itu.


"Kenapa dia diam saja? menemani dia makan? yang benar saja? dia lagi rencanain buat jahilin aku seperti apa lagi ya? hukuman apa lagi ini?"


"Buku apa yang diberikan cowok sampah itu padamu?"


"Cowok sampah?"


"Iya, sampah!, sampah yang memberimu buku tadi dibangku taman sekolah!"


"Ooooh, maksud tuan, Yangki?"


"Cih! dia memanggil dengan sok akrab membuat ku semakin kesal saja!" gumam Arnel dalam hati.


"Iya," jawab Arnel.


"Huh! buku jelek begitu, dari mana bagus nya."


Setelah mendengar jawaban Aira, ia meminum segelas air dan pergi meninggalkan Aira dimeja makan, entah apa sekarang yang ia pikirkan.


"Ada apa lagi? kenapa dia terlihat marah? apa ada yang salah ya sama jawabanku?"


"Huh, lihatlah dia tidak menghabiskan makanannya, dasar cowok manja boros, makan aja bersisa!"


Arnel keluar mencari Kepala Pelayan yang sedang berbicara kepada pelayan lainnya, ia berhenti bicara dan menyuruh pelayan lain itu pergi karena Tuan Muda Arnel memanggilnya.


"Paman lagi apa? sibuk gak?"


"Tumben tuan muda bertanya dulu, biasanya langsung nyuruh dan berbicara langsung, apalagi yang direncanakan tuan muda ya?, apa ingin menjahili nona muda lagi?" gumam Kepala Pelayan dalam hati.

__ADS_1


"Tidak tuan muda, ada perlu apa? mungkin paman bisa bantu."


"Belikan aku buku ditoko buku!"


"Baiklah tuan muda, paman akan meminta pelayan lain membeli buku belajar tuan"


"Yang bilang buku belajar siapa!? beli sendiri aja, jangan suruh yang lain!."


"Maaf tuan muda, kalau bukan buku belajar bisakah paman tau buku apa yang tuan muda maksud? supaya paman bisa membeli buku yang tuan inginkan."


"Buku merawat bunga-bunga, dan buku jenis-jenis bunga."


"Oh, baiklah kalau begitu paman akan membelinya sendiri ditoko ternama di kota ini sekarang."


Beberapa jam kemudian...


Lima buah buku tentang merawat bunga dan jenis-jenis buku telah dibeli Kepala Pelayan dan diberikan kepada Tuan Muda Arnel. Ia segera menemui Aira didalam kamarnya yang sedang membaca buku pemberian Yangki.


Arnel sangat kesal melihatnya, ia langsung menerobos masuk tanpa mengetuk pintu atau mengucapkan salam. Ia langsung melempar lima buku yang baru dibeli Kepala Pelayan kepada Aira, membuat Aira terkejut.


"Ada apa tuan Muda? ini buku apa?"


"Huh! itu buku tentang merawat bunga-bunga dan jenis-jenis nya, semua untukmu tidak perlu membaca buku cowok sampah itu lagi," ucapnya ketus dan menarik buku pemberian Yangki itu.


Ia menarik dan melempar buku itu kedalam tong sampah. Aira sebenernya sangat kesal, tapi dia tidak berdaya menghadapi tuan muda yang manja ini, semakin dilawan semakin membuat susah diri sendiri.


"Sekarang kau ku hukum! cuci semua sepatu yang ada didalam lemari ku, sampai bersih!"


"Tapi semua sepatu itu belum tuan muda pakai, itu belum kotor."


"Jangan menjawab lagi! mau aku suruh lebih banyak lagi! sekarang cepat cuci! aku ingin kau mencuci nya dihalaman."


"Kenapa harus dihalaman tuan?"


"Masih menjawab? itu hukumanmu!"

__ADS_1


Aira hanya menuruti permintaan Tuan Muda Arnel, mengambil dan mencuci semua sepatu dihalaman. Arnel memperhatikan diam-diam Aira yang sedang mencuci sepatu yang tidak kotor itu.


"Lucu sekali cewek desa itu" Arnel bergumam dalam hati sambil tersenyum.


__ADS_2