
Aku pun melanjutkan pertanyaanku kepadanya, walau dia terlihat tak mempedulikanku.
"Aku dengar weekend kita akan melakukan kegiatan penutupan MOS minggu lalu, kabarnya kita akan mengadakan perkemahan, dilanjutkan pertandingan-pertandingan antar kelas, serta pertandingan antar kelas terindah dan terunik."
"Bahkan aku juga dengar, gosipnya kelas sebelah akan menanam bunga gantung di tempurung dan membuat pagar taman kelas dari kayu, menurutmu bagaimana?" tanyaku. Dan akirnya ia menoleh padaku, ia mulai menjawab.
"Oh, begitu. Kenapa kamu cerita padaku? kenapa tidak bahas dengan ketua, bendahara, sekretaris saja, kamu kan juga wakil ketua kelas. Aku kan bukan siapa-siapa!" jawabnya cuek. Aku jadi semakin penasaran, kenapa dia begitu cuek padaku.
'Hehehehe' aku jadi tersenyum canggung dan salah tingkah. Dia benar, aku hanya ingin cari simpatinya sebenarnya. "Aku hanya ingin bercerita saja denganmu, sebenarnya aku berharap kamu bisa satu kelompok berkemah denganku, Apakah kamu bersedia satu kelompok denganku?" itu adalah alasan yang baru saja terpikirkan olehku, tapi tiba-tiba aku jadi sangat berharap dan takut ia menolaknya.
"Aku terserah gimana baiknya saja, dan lihat kesepakatan nanti saja deh!" jawabnya. Akirnya aku tidak bicara banyak lagi, dia mulai larut dalam buku yang ia baca, aku meliriknya diam-diam, dan sepasang mata masih saja melirik kearah kami, siapa lagi kalau bukan pemuda egois itu.
Saat bel istirahat berbunyi, aku mengajak dan menarik tangan gadis itu keluar kelas, tentu saja pemuda yang melihat kami sedari tadi menatap dengan pandang tajam lagi membunuh, seperti ingin mencabik-cabik tubuhku. Aku melirik gadis itu, aku tau saat itu dia juga merasa diawasi, aku lihat dia ketakutan.
Aku pegang tangannya, tangannya berkeringat dan terasa dingin karena takut. Aku menjadi kesal, aku membawanya duduk di bangku panjang di halaman samping sekolah. Aku mengeluarkan bekalku, tentu saja bekalku yang ku bawa isi nya lebih. Ia juga membawa bekalnya. Kami saling berbagi makanan, aku makan bersamanya, aku sungguh bahagia.
___
__ADS_1
Tak terasa acara weekend pun datang dan berlangsung. Salah satunya adalah acara pertandingan antar kelas bermain voly. Sore ini aku menjadi ketua team voly melawan team pemuda sombong itu. Pemuda sombong yang berkata kasar itu adalah putra dari keluarga Wijaya, aku baru saja tau dari pengawal pribadiku. Namanya Rido, sebenarnya jika bukan karena ayah dari pemuda egois itu, Ari Damrah. Keluarga Wijaya masih bukan apa-apa.
Pertandingan antara aku dan dia membuat kami menang. Sorak teman satu teamku bangga. "Yea menang! Menang!" Kami menang, tapi team mereka tidak terima, malah menuduhku berbuat curang, sampai terjadinya perkelahian. "Hei kalau kalah sportif dong! ini cuma pertandingan persahabatan!" jelas salah satu dari teamku.
Tapi dengan sombongnya mereka malah menuding kami. "Kalian jangan sok dan bangga dulu, kalian tidak pernah tau Tuan Muda Rido selalu menang setiap pertandingan voly, kami selalu juaranya. Kalian pasti main curang!"
Dan yang tidak habis aku pikir pemuda itu juga memfitnah kami. "Ya, kalian menyogok wasit berapa?" Aku kesal sekali mendengarnya. "Benar-benar bocah! sudah kalah tidak mau mengakuinya, malah menuduh orang lain curang!" tutur salah satu teamku.
"Kau! Berani sekali berbicara begitu kepada Tuan Muda Rido!" teriak team mereka. "Huh! Siapa peduli? aku tidak takut kepadanya!" ucapku menantang. Pemuda sombong itu langsung berteriak dan memukulku. "Brengsek! kau pikir aku juga takut padamu!"
Kami berkelahi cukup lama, sampai aku melihat pemuda egois itu membawa gadis yang aku sukai menjauh.
Niko mempunyai badan bagus, berotot, tinggi dan besar. Jika dilihat tidak pakai seragam sekolah, ia terlihat bukan lagi anak kelas 3 SMP, tapi sudah seperti anak kuliahan. Orang tuanya juga kaya raya dan terpandang, ayahnya tentara, ibunya pengusaha.
Ia hebat dalam silat, dan ia juga ikut pelatihan tinju, aku bisa bayangkan saat dia memukul kami dengan ototnya yang besar, kami semua jadi menciut. "Apa kalian ingin menjadi jagoan?" tanyanya berteriak kepada kami dengan muka garang.
Kami tidak berani menjawab, kami hanya saling tatap. "Apa kalian tuli? atau kalian bisu? dimana rasa jagoan kalian tadi?!" ia bertanya kembali dengan nada tinggi menghardik.
__ADS_1
Bugh...
"Auchh." pemuda disamping ku meringis. Ia baru saja memukul pemuda itu, kami semua gemetaran. Pemuda sombong itu rupanya juga menciut, tidak ku sangka. Ia pun menjawab dengan lembut dan hati-hati. "Maaf kakak senior, kami tidak akan berkelahi lagi, kami janji."
Nico itu diam dan melirik kami satu persatu, kemudian mundur tanpa memutar badan 2 langkah sejajar dengan ketua OSIS. Ketua OSIS itu maju 2 langkah kedepan, melirik kami. Tatapan matanya terlihat biasa saja, sama seperti Aira, matanya lembut, ia juga memakai kacamata, jam tangan, pakaiannya sopan dan rapi, persis seperti Aira versi laki-laki pikirku.
Ia tidak terlalu berisi, tinggi, berwajah tirus. Tiba-tiba mata teduh yang aku lihat itu berubah jadi mata tajam, seperti anak panah yang akan menancap di otak kami. Namanya Eri. Dia terkenal sangat pintar dan banyak gadis yang memuja-mujanya.
Auranya mengintimidasi kami, kami tidak berkutik. Inikah yang dinamakan, kekuatan kakak kelas? selama aku di Sekolah Dasar, aku tidak pernah merasa takut dengan siapapun.
"Apakah kalian tau dengan kesalahan yang kalian perbuat?" tanyanya kepada kami. Terdengar lembut dan hangat, tapi tatapannya tajam membuat kami tidak berkutik. Dia memutar bola matanya, seolah akan melakukan sesuatu. Aku dengan segera menjawabnya, sebelum kami dihukum lebih. Kabarnya dia sangat tegas, dia pendiam tapi lebih menyeramkan dari Nico si sangar.
"Maaf kakak senior, kami semua bersalah, kami telah membuat rusuh dan membuat pertandingan ini menjadi berantakan, kami janji tidak akan mengulanginya lagi." jawabku.
Ia diam beberapa detik, kemudian gadis yang kami takutkan itu maju dan mendekat, siapa lagi kalau bukan sepupunya Nico, gadis tinggi yang montok itu, bodynya aduhai, rambut panjang diikat kuncir tinggi, wajahnya imut dan cantik. Jangan salah dengan wajah imutnya, dia tidak imut sama sekali dalam memberi hukuman.
Ketua OSIS itu memutar badannya, memukul pundak Niken, seolah ia tau perintah selanjutnya dari si pendiam Eri itu. "Baiklah, karena kalian telah mengakui kesalahan kalian, kami tidak akan memperpanjang permasalahan ini lagi sampai kepada guru pembimbing, cukup kami yang akan menghukum kalian." jawabnya. Tapi, entah kenapa itu terdengar seram.
__ADS_1
Kami saling tatap, melihat dia memutari kami, lalu berdiri di belakang kami. Entah apa yang ada dalam pikirannya.