
Setelah Aira berbicara dengan Yangki, ia menjadi sedih. Beberapa bulan ini, Yangki sangat berubah.
Apakah aku pernah berkata kasar? atau mengecewakannya? Aira bertanya dalam hati.
Sedangkan Yangki, duduk menangis memegang kepalanya di dalam mobil.
"Tuan Muda, apakah kita harus ke rumah sakit?" tanya Sang Sopir khawatir.
"Tidak perlu, ayo kita pulang." jawab Yangki.
**
"Cepatlah, masukan semua barang-barang mu!" perintah Arnel.
"Iya, Tuan Muda."
Aira memasukkan semua barang-barang yang akan di bawa ke Luar Negri.
"Bolehkah papa masuk," sapa Ari dari luar kamar.
"Masuk aja, Paman."
"Papa, mau ngapain kesini?"
"Mau lihat kalian beres-beres, sebenarnya ini kecepatan, bukankah kalian masih ada waktu seminggu lagi."
"Iya, tapi dia suka ceroboh dan pelupa, boleh saja dia pintar dalam belajar, tapi bodoh dalam bertindak."
"Jangan lupa bawa jacket dan kaos kakimu!" pinta Arnel.
Ari lantas tersenyum dan mengelus kepala putranya, "Jika lupa tentang pakaian, kalian bisa beli di sana kan? yang terpenting itu buku pelajaran, dan soal-soal latihan kalian."
"Iya, tapi apa salahnya dibawa sekalian, Pa. Aku gak mau nanti di repotin sama dia."
Ari hanya membalasnya dengan senyuman, tidak ingin lagi berdebat dengan putra kesayangannya itu.
"Permisi, menggangu Tuan Muda, ada Tuan Muda Rido ingin bertemu," ucap Bi Susi.
Mau apa dia kesini? batin Arnel.
Arnel pun keluar kamar, dan turun menemui Rido di ruang tamu. Selepas Arnel pergi, Ari mulai berbicara dengan Aira secara pribadi.
"Aira, Paman ingin berbicara penting denganmu."
"Iya, Paman. Katakanlah, mungkin aku bisa membantu?"
"Paman hanya punya Arnel dan Kamu, Paman sangat menyayangi kalian, bisakah kamu menjaga Arnel untuk Paman?"
__ADS_1
"Arnel mungkin keras kepala dan egois, itu adalah kesalahan Paman yang telah memanjakannya, tapi hanya dia yang Paman punya." ucap Ari.
"Aku mengerti dengan sifat Tuan Muda Arnel Paman, ia sebenarnya sangatlah baik, Paman jangan kawatir."
"Aira, kamu lebih berpikir dewasa dari pada Arnel, maukah kamu menjadi istri Arnel dikemudian hari? Paman ingin sekali kalian hidup bersama."
Uhuk... Aira tersedak air ludahnya sendiri, saat mendengar Ari ingin ia menikah dengan Arnel, bagaimana mungkin?
"Paman tau, ini mungkin terdengar mendadak dan mengejutkanmu. Tapi, dari dulu sebenernya Paman sudah ingin menikahkan kalian. Oleh karena itu, Paman selalu berusaha membuat kalian bersama sejak kalian masuk Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas ini."
"Jagalah dia untuk Paman, menikahlah dengannya setelah kalian selesai kuliah, jaga dia ya, jangan sampai dekat dengan wanita lain, Paman hanya ingin kamu menjadi menantu Paman."
Aira terdiam, ia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Bisakah ia dekat dengan Tuan Muda yang bersifat egois itu? bukankah menikah itu menyatukan perasaan? bagaimana menyatukan perasaannya dengan perasaan Tuan Muda yang kasar seperti itu?
Ia terlarut dalam lamunan, sampai tepukan hangat di punggung tangannya.
"Jangan terlalu di pikirkan, Paman tidak memaksamu sayang, tapi hanya berharap saja," Ari berkata lembut sambil menepuk-nepuk punggung tangan Aira.
"Ya sudah, lanjutkan lah. Paman harus menyelesaikan pekerjaan dulu."
Ari pun keluar dari kamar, ia kembali ke ruang kerja. Sedangkan Aira kembali merinding membayangkan akan menikah dengan Tuan Muda Arnel yang egois itu, ia akan dimarahi setiap hari, dan akan di hukum setiap saat.
Arnel duduk di sofa ruang tamu menghadap Tuan Muda Rido, Bi Susi meletakan 2 gelas minuman dingin dan cemilan untuk mereka.
"Ada apa kau mencariku?"
"Kau mau kuliah dimana?"
"Kau!"
"Apa? mau marah? apa aku salah bicara?"
Rido terdiam menahan amarahnya, ia berniat berbicara baik-baik, tapi selalu saja Arnel bersifat seperti itu.
"Ok, aku tau. Tapi, aku cinta dia. Aku ingin selalu bersamanya!"
Arnel berdiri, dan pindah duduk di samping Rido, kemudian memukul pelan pundaknya.
"Aku paham, maafkan aku." ucap Arnel.
"Aku akan kuliah di Inggris, aku berharap kamu memikirkan masa depanmu," sambung Arnel.
Di lain sisi, Yangki duduk di dalam mobilnya yang berhenti di depan gerbang rumah keluarga Damrah.
Sedangkan Aira juga sedang bertepatan melihat ke jendela, ia melihat Yangki melihat ke arahnya. Dengan segera ia keluar dan turun dari kamarnya yang berada di lantai atas.
Ia segera menemui Yangki, ia telah berdiri di dekat mobilnya menunggu Aira.
__ADS_1
"Aira, bisakah kita berbicara pribadi, aku ingin mengatakan sesuatu."
"Tentu saja, ayo kita ke taman samping," ajak Aira dengan bahagia.
Seketika ia merasa ada bahagia yang menyeruak dari dalam dadanya, ia merasa sangat bahagia melihat wajah tampan pemuda itu.
Mereka duduk berdua di kursi taman, sedangkan sopir dan 1 orang Bodyguard nya menunggu di dekat mobil.
"Aira, aku mendengar kamu akan kuliah di Inggris bersama Arnel, aku harap kamu belajar dengan baik dan benar di sana ya."
Tiba-tiba perasaan sedih menghantam ulu hati Aira, ia merasa seolah Yangki tidak akan berjumpa lagi dengannya dalam kurun waktu yang lama.
"Iya, kamu kuliah dimana?"
"Aku disini saja, belajarlah dengan baik di sana, dapatkan nilai yang bagus, aku percaya kamu pasti bisa, kamu gadis baik yang pintar," ucap Yangki sambil merapikan anak rambut Aira yang berserakan di telinganya.
"Berarti kita tidak bisa berjumpa selama kuliah, kurang lebih 4 tahun ya?"
"Bisa jadi," balas Yangki tersenyum hangat.
Beberapa saat kemudian, mereka sama-sama terdiam, larut dalam pikiran masing-masing.
"Oh ya Ra, aku punya sesuatu untukmu, tunggu sebentar di sini ya."
Yangki dengan cepat berjalan setengah berlari ke arah mobilnya, ia mengambil sebuah hadiah dan satu pot kecil bunga mawar merah. Ia membawanya ke tempat mereka duduk tadi.
"Aira, aku punya hadiah perpisahan untukmu. Bukalah kado ini, nanti, jika kita tidak bertemu lagi, dan rawatlah bunga mawar merah ini ya."
"Kenapa bicara begitu, kita tidak bertemu cuma 4 tahun? tidakkah kau ingin menemuiku di Inggris?"
Tiba-tiba Yangki memeluk Aira dengan erat, hatinya begitu hancur mendengar pertanyaan itu. Ia sangat ingin selamanya bersama Aira, jangankan ke Inggris. Ke ujung penjuru dunia pun akan ia tempuh demi bertemu Aira.
Aira membalas pelukan hangat itu.
"Aira, aku sangat mencintaimu," Yangki berbisik pelan dalam pelukan Aira.
Aira terkejut mendengarnya, ia bahkan tidak bisa berpikir dengan jelas sekarang, apakah ia sedang bermimpi, atau telinganya salah mendengar.
Aira melepaskan pelukannya dan menatap wajah Yangki lekat. Ia melihat mata Yangki berair dan memerah. Pemuda itu sedang menahan tangisannya.
Aira memegang pipi Yangki, tidak terasa air mata yang di tahannya agar tidak keluar, akhirnya menetes juga. Aira menghapus air mata itu.
"Kenapa kamu menangis? ada apa?"
"Aku sangat mencintaimu Aira."
Aira terdiam, memandang wajah tampan itu dengan lekat. Ia merasa sangat sedih sekarang, bahkan ia juga menangis tanpa suara. Yangki menghapus air mata Aira, lantas ia tersenyum.
__ADS_1
"Apakah kamu juga mencintaiku Aira?"
Aira hanya menangis tanpa suara, ia tidak bisa menjawab pertanyaan Yangki.