(Masih Revisi) Danau Hijau Buatan Kakek

(Masih Revisi) Danau Hijau Buatan Kakek
Hadiah Untuknya


__ADS_3

Bel masuk berbunyi, aku buru-buru masuk kedalam kelas. Aku hampir beriringan masuk dengan guru, hanya lebih dulu beberapa langkah darinya. Gadisku telah duduk lebih awal dibangkunya, biasanya aku yang selalu datang duluan menunggunya.


"Hei, tumben kamu telat datang. Kenapa? apa tadi kamu jatuh ya? bajumu terlihat kotor dan kusut!" Ia berbisik, bertanya sambil menarik ujung lengan bajuku dengan masih fokus memandang kedepan menghadap kearah Guru. Aku menjawab dengan kode jari telunjuk ku tempel didepan kedua bibirku. "Ssssstttt!"


"Baiklah, nanti cerita kepadaku ya! Kenapa kau telat." Aku menjawabnya dengan mengacungkan jempolku ke arahnya. Tidak lama, pemuda egois yang berada disamping belakang kami dilempar dengan kapur tulis oleh Guru, ia dihukum berdiri di depan kelas dengan memegang telinga dan satu kaki diangkat kearah belakang.


Bukan hanya dia, tapi pemuda sombong juga kena getahnya. Karena tertawa keras mengejek pemuda egois itu ia menerima pukulan dari Sang guru, tepat dilengannya dengan penggaris panjang yang terbuat dari kayu.


"Siapa lagi yang ingin bermain-main saat belajar?" Sang Guru bertanya sambil memukul penggaris diatas meja, membuat kami menciut semuanya. "Tidak peduli kalian anak orang kaya, manja, pintar ataupun petinggi kelas dan sekolah. Jika kalian bermain-main dengan pelajaran saya, tidak mendengar pelajaran saya dengan baik, kalian semua akan mendapatkan hukuman dari saya."


Suara Sang Guru terdengar nyaring, lantang, dan menyeramkan. Ia adalah guru senior yang galak kabarnya. Kami akirnya belajar dengan tenang sampai bel istirahat berbunyi, Sang Guru keluar lebih dulu dari kami, dan kami semua perlahan gantian juga keluar, termasuk Aku dan gadisku Aira.


Aku dan Gadisku seperti biasa, kami membawa bekal duduk di taman sekolah. "Kenapa kamu telat kesekolah tadi?" ia memulai bertanya terlebih dahulu! tidak seperti biasanya rapi. "Anu..." jawabku ragu dan berpikir. "Anu apaan sih?" ia bertanya kembali.


"Tadi aku lihat sesuatu yang bagus, jadi aku lupa waktu. Aku menjadi tergesa-gesa, membuat aku terjatuh, jadi kusut dan kotor gini deh." jawabku berbohong padanya. "Kamu sih! Sampai lupa waktu segala! Lain kali jangan gitu lagi ya!" Ia mengingatkan ku.

__ADS_1


"Iya deh, setelah makan... aku mau ngomong sesuatu sama kamu!" ucapku. "Ngomong apa? kenapa musti selesai makan dulu? sekarang aja kenapa, sambil makan gini." ia berkata kepadaku. "Nanti setelah makan aja deh! nanti kamu keselek nasi lagi, hehehehe." jawabku dengan terkekeh kepadanya.


"Makananku sudah habis ni! ayo, apa yang mau kamu katakan? katanya tadi, setelah makan ada yang mau di bicarakan," tanya gadisku yang dari tadi penasaran kepadaku setelah menghabiskan makanannya.


Aku memberikan sebotol air kepada gadisku. "Minumlah dulu nanti kamu bisa cegukan!" ia mengambil botol minuman dari tanganku dan meminumnya. Aku membuka tas ku dan mengambil sebuah buku yang baru saja aku bungkus dengan kertas kado.


"Selamat ulang tahun ya Aira, ini ada hadiah untukmu. Aku harap kamu suka, karena aku gak tau mau kasih kamu apa. Kamu gak suka coklat dan makanan manis lainnya, kamu juga gak suka perhiasan dan boneka, jadi aku beli buku ini ditoko, aku lihat kamu suka membaca," aku berucap sangat gugup padanya, tapi aku sungguh memberanikan diri untuk menyerahkan kado itu.


Gadisku terdiam cukup lama menatapku, aku menjadi bertambah gugup. Ia masih menatap kearahku, aku masih menyodorkan hadiah itu di tanganku kearah nya. Tatapan itu membuatku semakin salah tingkah dan gugup, tiba-tiba aku melihat sebuah air bening disudut mata sebelah kiri Gadisku mengalir. Aku segera menyentuh dan menghapus air mata itu diwajah Gadisku.


Aira tiba-tiba memelukku dengan erat, cukup lama pelukan itu, ia tersedu-sedu dalam pelukan itu, membuat aku semakin salah tingkah, apakah aku membuat kesalahan atau hadiah itu terlalu jelek untuk Gadisku?


"Baiklah, menangis lah jika itu membuatmu merasa lebih baik, aku tidak akan menertawakan mu jadi tidak usah malu. Kamu tetap cantik dan kuat walaupun sedang menangis," aku berucap sambil mengusap punggung Gadisku yang sedang memelukku.


Aira melepaskan pelukannya dan merapikan rambutnya, mengusap wajahnya beberapakali. Kemudian ia membuka buku yang terbungkus dengan kertas kado itu, dia memeluk buku itu dengan mengucapkan terimakasih yang sangat dalam kepadaku.

__ADS_1


Aku menatap wajah Gadisku dengan senyuman indahnya, antara bahagia dan sedih saat melihat gadis didepanku itu memeluk buku itu. Merasa bersalah karena membuat ia mengingat orangtuanya, merasa bahagia karena aku satu-satunya yang mengingat ulang tahun gadisku.


Bel masuk berbunyi, Aira dan Aku segera merapikan kotak makanan, dan bersiap kembali ke kelas. Kami belajar dengan baik sampai bel pulang berbunyi, dan kami pun bersiap-siap untuk pulang.


"Yangki, aku duluan ya. Kita berpisah jalan disini aja ya, gak usah beriringan sampai kedepan deh," ucap Gadisku sambil melambaikan tangan kearahku. "Baiklah, hati-hati ya," balasku sambil melambaikan tangan padanya.


Aku masih diam disana, melihat gadisku menuju parkiran, dan entah kapan pemuda sombong itu menghampiriku dengan teman-teman nya. "Huh! kau masih setia melihat gadis pujaanmu ya! seleramu sungguh buruk!" ia datang mengejekku.


"Berhenti lah menghina dia, jika bagimu ia buruk tapi bagiku tidak dan itu bukan urusanmu!" balasku kesal padanya. "Wah, wah, wah. Apa aku harus bertepuk tangan untuk itu?" ia berkata dengan sombongnya.


Aku sangat kesal saat ini, aku pergi dan menuju ke parkiran mobilku. Tapi belum sampai aku pergi, pemuda sombong itu telah memukuliku. "Kau!" Aku menoleh kearah pemuda sombong itu. Aku berdiri dengan tegak dan mengelus pipiku yang nyeri karena pukulan. Aku tentu saja membalas pukulan itu karena suasana hatiku memang sedang kesal.


"Hajar dia! kenapa kalian diam saja!" perintah Pemuda sombong itu kepada teman-teman nya. Aku dikeroyok oleh 6 orang teman Rido, aku dipukuli sampai tersungkur dan ia memijak bahuku, tangan dan kakiku dipegangi oleh teman-temannya.


"Apa tadi pagi kau belum puas dengan pukulan ku? bahkan sekarang kau masih ingin menantang ku?" tanya pemuda sombong itu dengan arogan.

__ADS_1


"Kau bukan laki-laki aku kira! mengeroyoknya seperti banci! jika kau berani kenapa tidak satu lawan satu saja!" Aku terkejut dan tidak percaya, aku melihat pemuda egois itu datang sendirian dan mendengarnya mengejek pemuda sombong itu bersama teman-temannya.


"Cih, kau! ini bukan urusanmu, pergilah! sebelum aku juga menghajar mu!"


__ADS_2