
Arnel menghabiskan makanannya dikantin bersama teman-temannya, kemudian ia pergi duduk-duduk di kursi panjang di dinding kelas sambil menunggu bel berbunyi. Ia tidak ingin berlama-lama di kantin melihat sepasang manusia yang membuat dada nya semakin panas dan ingin memukul kepala si pria nya.
"Gimana rasa nasi gorengnya Na?" tanya Wanda.
"Enak, tapi lebih enakan masakan mama mu sih," jawab Una tersenyum.
"Ah masa? kamu muji gini, jangan-jangan ada maksud nih!"
"Dasar kamu ya, beneran enak masakan mama mu, jangankan nasi gorengnya, apapun yang di masak mamamu aku suka, enak semua."
"Kalau begitu makasih loh ya, hehehe."
"Ya udah, cepetan makan nanti bel bunyi.
"Iya, iya Bu Ratu hehehe," jawab Wanda terkekeh.
Setelah makan, Una dan Wanda juga segera pergi menuju kelompok mereka kembali, tentu saja kelompok kediri. Di sana sudah ada Rido dan Andi yang menunggu.
"Kok lama banget makannya? tadi aku ke kantin juga tapi gak keliatan," tanya Andi kepada Wanda.
"Kami duduk di paling pojok, mungkin ke tutup pot bunga besar itu, kalau dari depan lihat emang gak keliatan sih," jawab Wanda.
"Kan belum ada bel masuk bunyi?" sambung Wanda lagi.
"Iya sih belum," ucap Andi sambil garuk-garuk kepala yang tidak gatal.
Huh! dasar si tukang onar Rido ini, pasti karena dia pengen dekat-dekat Una jadi neror pacarku! Wanda berkata dalam hati.
"Beli apa tadi Na?" tanya Rido
"Nasi goreng," jawab Una ketus.
"Enak gak Na?" tanya Rido.
"Kalo gak enak, ya gak makan lah kami disana, pasti kami sudah pergi dengan cepat."
__ADS_1
"Galak amat sih cantik, nanti cantik nya hilang," goda Rido.
"Aku dah cantik dari dasarnya, mana bisa hilang. Kecuali cantikan nya KW, kayak mantan-mantan mu yang segunung itu!"
Jangan bilang Una cemburu sama cewek-cewek yang aku pacarin? apa akirnya dia juga suka sama aku? pikir Rido dalam hati.
"Apa kamu cemburu cantik ku?"
"Siapa yang cemburu, jangan GR ya!"
"Ya udah cantik ku yang galak, mulai saat ini juga sampai seterusnya aku akan selalu setia sama kamu, gak akan pacaran lagi, apalagi goda-goda cewek lain," janji Rido dengan senyuman bahagia.
"Siapa yang peduli, huh!" ketus Una.
Rido membalas ke ketusan Una dengan senyuman bahagia, yang terpikir sekarang olehnya Una telah jatuh hati padanya, dan sekarang Una sedang cemburu kepadanya karena menggoda para wanita, bahkan cemburu kepada mantan-mantan nya.
"Ngapain sih senyum-senyum sendiri, awas sana minggir, aku mau kesana sama Wanda," ucap Una sambil mendorong Rido.
"Ayo Nda, kita kesana aja! ngapain di sini, bikin kesel deh!" sambung nya.
Una bersama Wanda maju ke kelompok Kediri yang paling ramai, mereka berbincang di sana, Rido dan Andi juga menyusul mereka.
Mereka diminta meminta tanda tangan paling banyak yang dapat dari kakak senior, membuat kesenian yang unik, membuat puisi dan pantun, bermain musik serta melukis dan lain-lainnya.
Semuanya diselesaikan sampai jam pulang, setiap kelompok membagi tugas anggotanya masing-masing, siapa yang bagian meminta tanda tangan, membuat puisi dan lain nya.
Rido tidak peduli dengan apa pun, asal kan dia satu kelompok dan satu tugas dengan Una itu sudah membuatnya senang, dan tidak akan membuat onar saat bersama gadis pujaannya itu.
"Kamu sama pacarmu minta tanda tangan ya! aku bagian melukis sama puisi aja sama Una, kamu atur ya, biar Una mau!" pinta Rido pada Andi berbisik.
"Ok, biar aku coba memberikan usul pada mereka."
Akirnya, Andi berhasil membawa Wanda meminta tanda tangan senior. Sedangkan Una tidak peduli dengan Rido yang mengikutinya, ia hanya melukis gambar pemandangan yang ia bayangkan di dalam otak nya.
Rido duduk sekitar 2 meter jaraknya dari Una, ia menulis beberapa puisi, hampir tentang cinta semua, sedangkan kakak senior meminta 3 macam pusisi, tentang cita-cita dan harapan, tentang tujuan hidup, dan satu lagi bebas. Mungkin bisa puisi cinta.
__ADS_1
Di lain sisi, Aira dan Yangki yang telah menyelesaikan makannya, segera pergi menuju kelompok masing-masing karena bel telah berbunyi, mereka terlalu santai tadi sedang makan, sehingga lupa waktu.
Yangki pergi ke kelompoknya Majapahit, mendengar penjelasan dari kakak senior dan menyusun strategi supaya mendapatkan nilai yang lebih baik, dan bisa mengalahkan kelompok lain.
Begitu pula dengan Aira, ia kembali ke kelompok Sriwijaya, ia berdiri di samping Arnel saat mendengar penjelasan kakak senior. Tentu saja ia berdiri disana karena Arnel menarik tangannya.
"Kenapa lama banget makan? apa kamu sampe tersesat?" tanya Arnel.
"Enggak kok, tadi lagi makan sama...."
"Sama Yangki?" sambung Arnel."
"Kok Tuan Muda tau?" tanya Aira penasaran.
"Aku kan punya mata, ya lihatlah!"
"Ayo baris di depan sana, kakak senior mau kasih informasi kayaknya," ajak Arnel sambil menarik tangan Aira.
Di dalam tugas, Aira dan Arnel mendapatkan tugas meminta tanda tangan. Alasan yang lain karena Tuan Muda Arnel populer, banyak temannya menjadi kakak senior dan tentu saja ia tampan.
Sedangkan Aira, ia terkenal murid yang pintar kabarnya, walaupun murid lain tidak pernah mengenalnya, tapi begitu gosip beredar, apalagi Aira dekat dengan Tuan Muda Arnel si tampan, bahkan tadi di kantin mereka juga lihat Aira dekat dengan si ganteng di kelompok majapahit.
Saat meminta tanda tangan pada salah seorang kakak senior, Aira dan Arnel harus bersaing dengan Wanda dan Andi. Kakak Senior itu meminta mereka masing-masing bernyanyi dan berpose 10 wajah lucu.
Tentu saja itu bikin Tuan Muda Arnel yang egois itu tidak suka, ia mendengus kesal dan mengajak Aira meminta tanda tangan kepada kakak senior yang lain.
"Tuan Muda, jangan begitu. Ia hanya berakting, sengaja menyulitkan kita, namanya juga permainan bersaing, kalau pun kita ganti ketempat lain, mereka juga mempersulit," jelas Aira.
Arnel melirik sinis ke arah kakak senior itu, bahkan sekarang ia juga kesal melihat Andi dan Wanda setelah bernyanyi sekarang mereka berpose dengan wajah lucu.
Dengan begitu, akhirnya Wanda dan Andi mendapatkan tanda tangan, sedangkan Arnel jangankan wajah lucu, wajah senang aja tidak bisa saat harus melihat kakak senior yang membuat dia jengkel.
"Begini Tuan Muda, pipinya digembungin, bibirnya di giniin," ucap Aira sambil memegang pipi Arnel.
"Hehehehehe, begini kan lucu," sambung Aira terkekeh.
__ADS_1
Arnel sungguh terhipnotis saat Aira menyentuh wajahnya, bahkan apa yang di katakan Aira sekarang ia turuti untuk menggembungkan pipi, apalagi melihat wajah Aira yang sangat imut menurutnya.
Walaupun Aira membuat wajahnya terlihat lucu dan jelek, tapi yang terpikir oleh Arnel hanya gadis cantik yang imut.