
Aira masuk kedalam kamar, duduk di atas kasur, di samping suami nya Arnel, ia melihat wajah sendu suami nya itu, kemudian ia mengelus pipi nya, dan Arnel pun memegang tangan Aira yang mengelus pipinya.
Ia menempelkan punggung tangan Aira di bibirnya, matanya masih menatap lurus kedepan dengan tatapan kosong, kemudian Aira tiba-tiba mencium pipi nya lembut, lalu menatapnya dengan penuh kasih sayang.
Arnel menoleh ke wajah istrinya yang melihatnya dengan sangat dekat itu, ia memegang tangan istrinya yang kembali menyentuh pipinya, dengan ujung jarinya menyentuh daun telinga Arnel. Ia tersenyum, lalu menghela nafas panjang.
"Bagaimana dengan pekerjaan nya tadi sayang? bisakah aku tau apa yang terjadi?" tanya Aira.
Arnel tidak menjawab, ia hanya beberapa kali menghembus nafas kasar, mungkin lidahnya terlalu baku untuk berucap sekarang, karena hati nya kurang nyaman.
Aira mengerti, ia mengelus rambut suami nya, lalu mencium kening lebar itu, terus mencium turun diantara kedua alis. Kemudian Aira menempelkan keningnya dengan kening suami nya.
"Aku mencintaimu suamiku, aku percaya apapun yang kamu lakukan pasti sudah kamu pikirkan untuk kebaikan," Aira berkata sambil memegang pipi Arnel, lalu mengecupnya.
Tangan Arnel mendekap pinggang Aira, ia menyenderkan keningnya di bahu Aira, beberapa menit ia bersandar di bahu itu tanpa kata, Aira hanya diam sambil mengelus rambut kepala suaminya itu.
"Sayang, jika kamu merasa mempunyai beban berat di hatimu, tuangkan lah padaku! agar kita bisa berbagi dan saling meringankan," ucap Aira sambil mengelus kepala yang bersender di bahunya, seperti bocah yang bermanja kepada sang ibu.
"Aku benar-benar bingung sayang," jawab nya, sambil mengangkat kepala dari bahu Aira.
"Katakanlah sayang, apa yang membuatmu bingung seperti ini?"
"Apakah Andi begitu membenci saya? apakah dia masih mendendam kejadian saat itu? dan kenapa dia bergabung menjadi keluarga Admaja? apa dia menjadi kaki tangan Yuhen? dan aku merasa semua ini karena Yuhen!" ucap nya, sambil menghembus nafas kasar dan panjang.
"Jangan buruk sangka dulu sayang, aku gak yakin dia dendam apalagi benci. Dia itu mungkin masih canggung karena sudah lama tidak berjumpa."
"Sayang, aku kira dia bukan canggung. Aku pun juga canggung tadi, tapi aku berusaha, makanya tadi aku ajak makan bersama setelah rapat, tapi dia menolak ku dan segera pergi."
"Mungkin ia terburu-buru dan banyak pekerjaan sayang."
__ADS_1
"Anggap lah begitu, tapi kenapa dia melarang semua yang aku rencanakan, bahkan meminta mengambil alih proyek yang dikerjakan Ronald."
"Aku tau kedua anak itu begitu kecewa, tapi harus bagaimana lagi, aku tidak ingin membuat ia tambah membenci lagi, apalagi salah paham dengan tujuan membangun gerbang ke lima ini."
"Sayang, aku percaya sama kamu dan aku yakin Andi tidak akan jahat apalagi merusak semua nya. Aku tidak yakin juga Yuhen akan merusak semuanya, mungkin mereka tidak ingin yang tidak mengetahui semua kejadian itu mengetahui, atau mereka merasa lebih pantas yang mengerjakannya orang yang mengalami kejadian itu."
"Aku berharap juga seperti itu sayang," ucap Arnel sambil memeluk Aira.
"Ya udah, kalau begitu ayo kita tidur, mengistirahatkan semua beban pikiran."
Aira mengecup pipi Arnel, begitu pula Arnel mengecup kening istrinya, lalu tidur sambil memeluk tubuh Aira.
Sedangkan di teras belakang, ada Kakek Ari, Ronald dan Agung, setelah berbincang-bincang dengan kakek Air mereka segera tidur karena akan bekerja besok pagi, begitu pula dengan kakek juga segera tidur sepeninggal ke dua pemuda itu.
Sedangkan Humaira sedari tadi telah tertidur lelap di kamarnya, sekarang yang berjaga hanya beberapa pelayan dan kepala pelayan, itupun mereka juga sedang bersiap-siap untuk tidur, sedangkan para penjaga rumah dan satpam di depan gerbang, sedang duduk menikmati kopi.
°°°
Begitu pula dengan Humaira sudah berdandan, gadis cantik dengan baju sekolah lengkapnya, ia di antar oleh sopir keluarga. Aira mengantar mereka kedepan dan melambaikan tangan untuk mereka semua.
Aira menduduki sofa di ruang tengah, ia melamun disana, beberapa saat kemudian suara langkah kakek Ari mendekatinya.
"Apakah terlalu banyak permasalahan di kantor? pagi ini kalian semua terlihat tidak seperti biasanya."
"Tidak banyak kok pa, cuma sedikit. Tapi Arnel semakin bimbang dengan keputusan nya, aku berharap semuanya akan baik-baik aja."
"Apa karena kepulangan Andi dan Yuhen? atau keputusan dia yang menyetujui permintaan Andi?"
"Apakah Agung dan Ronald yang menceritakan kepada papa?"
__ADS_1
Ari mengangguk.
"Mungkin kedua nya pa, Arnel masih merasa bersalah dan berpikir Andi dendam padanya."
"Mungkin saja, karena waktu itu papa telah meminta orang memukul nya," ucap Ari lirih.
"Aku yakin Andi tidak begitu, waktu itu semua terjadi karena salah paham. Lagian waktu itu kita semua telah saling menjelaskan dan saling bermaafan, jadi ia tidak punya alasan pa."
Apa benar Andi masih marah? dan berencana jahat sama Yuhen? aku gak percaya! mereka berdua adalah orang baik yang ku kenal, bukan orang jahat. Apa aku harus menemui mereka di rumah keluarga Admaja? batin Aira.
"Papa harap sih begitu," Ari berkata sambil memukul punggung tangan Aira.
Dikantornya, Arnel bekerja kurang fokus. lebih banyak melamun, sehingga ia lebih memilih kembali tidur dan meminta sekretaris nya menyelesaikan pekerjaan. Ia semalam tidak bisa tidur karena terlalu banyak berpikir, ia hanya menatap wajah manis Aira yang berada di dekapannya tadi malam.
Sedangkan Agung dan Ronald tetap semangat bekerja, walaupun ada rasa kecewa dari hasil rapat kemarin.
"Hei bro... lu lihat di ruangan sebelah itu? aku kira itu buat mereka ya? tanya Agung yang baru mendatangi Ronald.
"Iya, lu lama-lama udah kayak emak-emak deh, suka banget urus urusan orang."
"Ya elah dasar lu, gue lagi kesel aja sih sama bocah tengik itu."
"Udah deh gak usah di pikirin, bikin sakit hati," jawab Ronald.
"Tapi, buat apa lu pusing, dia bakalan jarang kita jumpain, soalnya tadi gue lihat cuma perwakilan mereka yang menempati tempat itu, jadi gak bakalan sering jumpa lah," sambung Ronald.
"Serius lu, gue malah baru denger!"
"Hahahaha ... dasar emak-emak ketinggalan gosip lu," kekeh Ronald.
__ADS_1
Dilain sisi, Humaira yang berada di kelas menatap Alex dengan seksama, dia memperhatikan laki-laki itu dari ujung rambut sampai ujung kaki. Alex mengetahui jika ia dipandangi, tapi ia tidak peduli. Baginya, hampir semua wanita memandanginya dari dulu. Jadi, menurutnya Humaira salah satu perempuan yang akan tertarik padanya.