(Masih Revisi) Danau Hijau Buatan Kakek

(Masih Revisi) Danau Hijau Buatan Kakek
Sapu Tangan


__ADS_3

Aira membuka mata nya, menoleh kesamping tempat tidur yang telah kosong, ia mengucek mata nya dan masih menggeliat dengan malas, melihat ke arah jam yang terletak di meja kecil disamping kasur king yang ia tiduri itu.


"Jam 10 pagi!" Teriaknya sambil tergesa duduk.


Ia meluruskan tulang-tulang nya menggerakkan kiri dan kanan, badannya terasa lelah dan remuk melayani suami nya semalam.


"Arnel kebiasaan deh, jika aku telat bangun habis layani dia semalam, gak mau bangunin aku," Aira berkata dalam hati sambil tersenyum malu.


Ia segera membereskan tempat tidur yang sudah berantakan itu, memasukkan semua pakaian kotor dalam keranjang baju, lalu ia mandi dengan bersih.


Setelah mandi, ia menatap seluruh tubuhnya di cermin, di penuhi dengan tanda kepemilikan. Ia mengambil baju yang panjang dari dalam lemari, sebenernya baju yang ia pakai saat ini sangat tidak cocok dengan cuaca panas hari ini, tapi demi menutupi tanda kepemilikan yang dibuat oleh Arnel, ia harus memakainya.


Suasana di rumah keluarga Damrah terasa sepi saat ini, karena Arnel dan dua pemuda tampan sedang bekerja di Perusahaan, sedangkan Humaira sedang berada di sekolah.


Hanya ada bi Mona dan bi Susi yang santai menonton di ruangan tengah. Sedangkan kepala pelayan sibuk lalu lalang di rumah belakang bersama beberapa pelayan lain.


Aira keluar dari kamarnya, lalu di sambut segera oleh bi Mona, ia segera di hidangkan sarapan oleh bi Mona, tapi sekarang Aira tidak makan di meja makan, ia membawa sarapannya di ruang tengah, ia makan disana dan duduk bersama bi Susi dan bi Mona yang tertawa menonton acara televisi.


"Apakah papa pagi ini masih duduk di kursi gerbang danau hijau bi?" tanya Aira.


"Tidak Nyonya Muda, Tuan Besar belum keluar sedari tadi dari kamarnya."


Aira terhenti menyuap sarapannya dan menoleh kepada sang bibi.


"Apakah papa sakit bi?"


"Tidak Nyonya, saat aku mengantarkan sarapan ke dalam kamar tuan, ia baik-baik saja, tapi..."


"Tapi kenapa bi?"


"Sepertinya, Tuan besar sedang melihat foto seseorang dan memegangi beberapa barang. Tapi, nyonya jangan kawatir. Walaupun Tuan Besar melamun melihat benda itu, beliau menghabiskan sarapannya kok," jelas bi Mona.

__ADS_1


"Syukurlah kalau begitu bi, aku akan menemui papa sebenar lagi setelah sarapan."


Aira menghabiskan sarapannya dengan lahap, kemudian ia menemui Ari yang sedang duduk di kursi goyang menghadap ke jendela, di jendela itu ia bisa melihat danau hijau, ia masih memegangi photo dan sapu tangan dari kain yang terlihat sudah usang.


Toktok...toktok...


Air mengetuk pintu yang sedari tadi terbuka, tapi Ari tidak menoleh ataupun menjawabnya, kemudian Aira berjalan mendekat, memegangi pundak Ari.


"Pagi pa," ucap nya.


Ari tidak menjawab, ia hanya menatap keluar jendela dengan tatapan kosong.


"Pa, bagaimana keadaan papa? apa hari ini papa merasa kurang enak badan?"


Ari menghela nafas panjang, lalu menoleh menatap menantu nya itu. Kemudian menatap lurus kembali ke luar jendela.


Aira berjongkok dari tegak nya, ia bersimpuh memegangi punggung tangan Ari yang memegangi sapu tangan dan photo itu.


"Aira apakah kamu mencintai Arnel?"


"Tentu saja pa, dia suamiku," tegas Aira.


"Jika aku yang telah menyakiti orang tua mu, apakah kamu masih mencintai Arnel? atau kau akan membencinya karena aku?"


"Apa maksud papa? papa jangan terlalu banyak berpikir. Bagaimana mungkin papa yang menyakiti mereka, papa yang telah merawatku dari kecil, menyekolahkan ku, dan mereka juga meninggal karena kecelakaan, bukan karena papa."


"Aku percaya dan sayang pada papa, bagaimana mungkin aku akan menyalahkan papa, dan membenci Arnel yang jelas-jelas suami yang aku cintai pa."


"Sebenarnya, ibu mu mempunyai seorang kakak laki-laki. Setelah ibumu menikah dengan ayah mu, ia menghilang bak di telan bumi, padahal ia sangat menyayangi ibumu."


Aira terkejut, selama ini ia tidak pernah tau tentang keluarga ayah atau pun ibu nya, mereka tinggal di desa yang cukup terpencil, bahkan selama ini Ari tidak memberi tahunya. Tapi, kenapa saat ini ia menceritakan nya, pikir Aira.

__ADS_1


"Papa, bisa kah papa memberitahuku dimana kakak laki-laki ibuku? walaupun ia tidak menyukai ku nanti, aku sangat ingin bertemu."


Ari menghela nafas nya panjang, ia berdiri lalu meletakkan photo di dalam laci meja, mengembangkan sapu tangan yang ia pegang, disana tertulis nama Viza Love Hasan.


Aira mengernyitkan keningnya, kenapa harus dengan kata love? apakah mantan ibu nya, pikirnya.


"Hasan siapa pa?"


"Nama kakak laki-laki ibumu, ia sangat menyayangi ibumu, mereka berdua yatim piatu yang dirawat oleh ayahku Damrah, ayah ku mengadopsi 9 orang anak, kami tumbuh bersama dan berpisah beriringan waktu karena beberapa masalah."


Air terkejut, selama ini ia tidak pernah melihat saudara Ari, mulai dari acara keluarga bahkan acara penting, hanya satu orang yang mengatakan ia adik Ari waktu pesta pernikahan nya dengan Arnel.


Laki-laki itu seorang profesor, mempunyai dua orang anak, ia tidak banyak bicara dengan orang lain saat itu, hanya berbicara dengan Ari dan Sekretaris Zack, bahkan ia hanya sebentar di pesta saat itu.


"Jadi ibuku adalah anak adopsi, kenapa saat itu papa bilang padaku 'papa teman orang tuaku'?"


"Aku teman yang tidak terlalu akrab dengan ayahmu, dan ibumu saudaraku sekaligus sekretaris pribadiku."


Aira lebih terkejut lagi mendengar kalau ibunya sekretaris pribadi Ari, selama yang ia tahu kalau kedua orang tua nya orang miskin dan bodoh dari desa, bagaimana bisa jadi sekretaris yang harus pintar dan berpendidikan, pikirnya.


"Aira, papa minta maaf padamu," ucap Ari lirih memegang kedua tangan menantunya, ujung mata kanan nya meneteskan air bening yang tepat jatuh di punggung tangannya saat ia menunduk.


"Pa, jangan menangis, aku baik-baik saja, aku tidak marah, aku sangat bahagia mendengarnya. Aku bisa mengetahui tentang keluargaku, papa tidak salah."


"Papa menyakiti orang tuamu, memaksa mereka menikah karena ke egoisan papa, memaksa mereka tinggal di desa terpencil, sehingga terjadi perpecahan saat itu, beberapa saudara adopsi berpihak kepada Hasan, papa, dan sebagian menghilang karena ke kejaman papa."


Aira terdiam, ia mengusap air mata yang mengalir di pipi keriput mertua nya itu, berapa banyak rahasia yang disimpan selama ini oleh mertuanya? pikirnya.


"Papa tidak salah, walaupun mereka menikah dengan paksa, aku yakin karena itu takdir tuhan, dan selama aku berada dengan mereka, mereka begitu harmonis dan sangat menyayangiku pa, jadi jangan menyalahkan diri."


Ari menghela nafas, kembali menatap lurus ke depan jendela dan duduk kembali di kursi goyang itu, sambil memegangi sapu tangan yang bertulis nama Viza love Hasan.

__ADS_1


"Aira, bersediakah kamu mendengarkan ceritaku, tapi aku harap setelah kau mengetahuinya, jangan pernah membenci Arnel. Jika kau marah, maka marah lah padaku," ucapnya lirih dengan tatapan kosong ke arah jendela.


__ADS_2