(Masih Revisi) Danau Hijau Buatan Kakek

(Masih Revisi) Danau Hijau Buatan Kakek
Dia, pembantuku!


__ADS_3

"Hei kutu buku! kau tuli ya? kerjakan buku ini! besok harus selesai, kalau tidak kau tau akibatnya!" Ancam Tuan muda Rido.


Perkataan itu membuat Tuan Muda Arnel jengkel sekali, dia langsung berdiri dan membela Nona Muda Aira. Tapi sayang, awalnya ingin membela akhirnya menjadi perkelahian dan membuat Nona Muda Aira jadi bulan-bulanan teman-teman sekelasnya.


"Apa maksudmu menyuruh dia menyelesaikan tugasmu?!" tanya Tuan Muda Arnel berdiri dari duduknya dengan tatapan tajam.


"Maksud ku? tentu saja menyuruhnya agar tugasku selesai!" jawab Tuan Muda Rido santai sambil tersenyum sinis.


Tuan Muda Arnel berjalan mendekati meja Nona Muda Aira dan membanting semua buku yang berada diatas meja itu, lalu memarahi Nona Muda Aira.


"Kau bodoh ya cewek desa! bisa-bisanya kau diperbudak olehnya!"


Nona Muda Aira hanya diam sambil menundukkan kepalanya, sedangkan Yangki yang sudah berada di depan kelas bersama beberapa teman lainnya yang menonton perdebatan Arnel dan Rido.


Tuan Muda Rido memungut semua buku-buku nya yang telah dibuang oleh Arnel, ia terkekeh sambil berujar yang membuat emosi Tuan Muda Arnel menggebu.


"Aku heran apa hak mu membuang buku ku? yang aku suruh dia bukan kau!"


"Kau tidak punya hak untuk menyuruhnya!"


"Lalu kau punya hak?"


"Tentu saja!" jawab Tuan Muda Arnel.


"Oh aku penasaran, hak seperti apa? apa dia pacarmu? atau tunanganmu?"


"Bukan urusanmu!"


"Tentu saja urusanku, karena tadi kau bilang mempunyai hak. Jadi, aku ingin tau hak apa yang kau miliki sehingga bisa melarangku menyuruhnya dan kau membuang buku ku."


"Kau bisa menyuruh orang lain yang kau suka untuk diperintah, tentunya selain dia!"


"Ahahahahaha.... kenapa harus selain dia? aku suka menyuruh dia, karena jawaban dari latihan dia pasti benar, dia pintar dan tulisannya rapi, itu lebih baik dari pada yang lain."


"Aku bilang selain dia!" ucap Arnel dengan hawa ingin memukul sampai babak belur.

__ADS_1


"Kenapa? kau bisa suruh dia kenapa aku tidak!"


"Karena dia!....." jawab Arnel sedikit tersendat.


"Dia..? pacarmu...? tunanganmu...?" tanya Rido antusias sambil memicingkan pandangan nya ke arah Yangki yang diam memandangi perdebatan itu.


"Huh! dia pembantuku! hanya aku yang bisa memerintahkan nya, dan kau tidak punya hak!"


"Waduh sayang sekali dong, aku kira tunanganmu. Kalau pembantu, siapapun bisa menyuruh dia dong? ahahahahaha" jawab Rido terkekeh.


Nona Muda Aira merasa sedikit sedih mendengar jawaban tuan Muda Arnel. Entah kenapa, mungkin karena ia merasa akhir-akhir ini tuan muda itu lebih baik pada dirinya, sehingga ia lupa kalau tuan muda selalu menganggap dia cewek desa yang bodoh.


"Jadi, Tuan Muda selama ini baik sama aku karena aku pembantu nya? bukan karena dia sudah mulai suka berteman denganku?"


"Hm... mungkin aku terlalu berharap lebih, karena mendengar paman selalu bilang, Tuan Muda tidak bisa mengekspresikan perasaannya yang ingin berteman denganku, kenyataannya dia memang tidak ingin berteman denganku," gumam Aira dalam hati.


Tuan Muda Yangki yang mendengarkan kata "pembantuku" langsung merasa kesal berjalan mendekati Nona Muda Aira dan menarik tangannya pergi keluar kelas. Ia kecewa sekali mendengar bahwa Arnel hanya menganggap Aira hanya pembantu.


Sejak semalam ia berfikir keras, agar bisa mencoba menjauhi Aira, bahkan tadi ia menghabiskan waktu bermain voli dengan teman-teman agar bisa menjauh. Tapi sekarang ia bertekad untuk selalu bersama Aira, dengan melihat perlakuan Arnel selama ini, Yangki sangat merasa perjodohan ini adalah tindakan egois keluarga.


"Apa? dia hanya menganggap Aira pembantu? dia mengelak? mengatakan kalau Aira bukan tunangannya?"


"Aku sangat yakin, ini hanya ke egoisan papamu yang menyekolahkannya, aku akan selalu berada di sisi Aira mulai sekarang walaupun kau melarang," gumam Yangki dalam hati.


Langkah Yangki terhenti dihadang oleh Tuan Muda Arnel, ia marah dan memukul Yangki. Tapi Yangki mengelak dan menangkisnya hingga terjadi perkelahian di dalam kelas itu.


"Lepaskan tangan dia!" hardik Arnel.


Yangki diam saja, dan terus mencoba berjalan sambil menarik tangan Aira.


"Kau tuli? lepaskan tangan sampahmu itu darinya!"


"Kalau aku tidak mau, kenapa?!"


"Kau!"

__ADS_1


Tuan Muda Arnel memukul Yangki.


"hehehehehe" Tuan Muda Yangki terkekeh.


"Kau masih berani tertawa? lepaskan tanganmu!"


"Apa hakmu? dia bukan pacar atau tunanganmu! jadi tidak ada hak kau untuk melarangku memegang tangannya, dan lagian ini masih di sekolah! bukan jam pembantu, pembantu itu kerja dan patuh kalau dirumahmu."


Tuan Muda Arnel sangat marah lalu memukulnya, Yangki akhirnya juga terpancing emosi dan berkelahi. Kelas menjadi ricuh, teman-teman yang menonton perdebatan dari tadi banyak yang lebih memilih pergi dari pada kena getahnya dan sebagian pergi ke kantor untuk menemui guru agar melerai mereka.


Mereka akhirnya dilerai oleh guru, walaupun tadi Aira melerainya tapi mereka begitu tersulut emosi sampai Aira terdorong ke dinding, mereka tetap saling pukul memukul. Mereka dibawa ke kantor, bukan hanya Arnel dan Yangki tapi juga Rido dan Aira.


"Apa kalian sekarang sudah menjadi jagoan?" tanya seorang guru.


Mereka semua hanya diam, tidak tau harus menjawab apa, atau mungkin terlalu takut, atau mungkin masih kesal ingin saling pukul. Rido yang berniat mencari masalah agar bisa membujuk wali kelas menjenguk Una malah harus kecewa.


Wali kelas sudah pulang dari tadi, dan tidak menyangka semua niatnya terjadi sangat tidak sesuai prediksi nya, Arnel dan Yangki saling tersulut emosi.


"Jawab!"


"Tidak guru, kami tidak berani," jawab Yangki.


"Kalian masih murid kelas satu tapi sudah sok jagoan, sangat disayangkan kalian adalah anak-anak dari orang terpandang di negara ini, mempunyai kepintaran yang bagus dan kalian seharusnya populer dengan prestasi, bukan dengan masalah begini," ceramah pendek sang guru.


"Maafkan kami guru, telah mengecewakan guru," ucap Yangki.


"Baiklah sekarang hukuman kalian membersihkan kantor ini, dan rangkum isi dari buku ini dari ini sampai ini, besok kumpulkan rangkumannya."


"Ini banyak sekali Bu guru," jawab Tuan Muda Rido.


"Baiklah kalau tidak mau, kalian bisa menggosok semua toilet disekolah ini."


"Maaf guru, kalau begitu kami akan memilih membersihkan kantor dan membuat rangkuman."


Sedangkan didalam kelas, sejak Arnel dan Yangki berkelahi dan mendengarkan Arnel mengatakan Aira pembantu, membuat yang lain mulai menghina dan mencomoohnya.

__ADS_1


"Aku tidak menyangka rupanya dia pembantu, aku mengira dia juga anak orang kaya, setiap pulang dan pergi ke sekolah turun dari mobil."


"Dan aku juga mengira, kalau tiga cowok keren disekolah ini menyukai dia, rupanya salah. Tuan Muda Rido menyukai Una sedangkan lain hanya menganggap dia pembantu."


__ADS_2