(Masih Revisi) Danau Hijau Buatan Kakek

(Masih Revisi) Danau Hijau Buatan Kakek
Mengantar Pulang


__ADS_3

“Kau sudah sadar? Syukurlah.” ucap Ari tersenyum hangat.


Nelma mengernyit, masih menyesuaikan diri dari pingsan tadi. Barulah ia sadar sepenuhnya. Bergegas ia duduk.


“Ah, maafkan saya Tuan Muda.” ucapnya.


“Tidak apa-apa, jangan meminta maaf padaku. Seharusnya aku yang meminta maaf padamu. Aku telah memukulmu. Pasti sakit sekali, ya.” Ari menyelipkan rambut Nelma yang sedikit berantakan kebelakang daun telinganya.


Jantung Nelma yang tadi denyutannya sudah normal, kini kembali bergemuruh.


“A-A-Aku harus kembali pulang!” Ia langsung berdiri, mengalihkan pandangannya pada yang lain.


“Iya, baiklah, aku akan segera mengantar kamu pulang.” sahut Ari.


“Tidak usah! Saya bisa sendiri Tuan Muda.” tolak Nelma.


Ari tak mengindahkan ucapan Nelma. Ia memakai jacket, lalu tersenyum ke arah Nelma. “Ayo, saya antar pulang.”


“Tidak usah Tuan Muda, ini merepotkan.”

__ADS_1


“Ayo, aku akan lebih repot nanti jika seandainya kamu hilang dan tidak pulang.”


“Itu tidak akan, Tuan Muda.”


“Bagaimana bisa kamu pastikan tidak akan, tadi saja kamu pingsan.”


Mau tidak mau akhirnya Nelma pulang diantar oleh Ari berjalan kaki yang diiringi oleh Rasyid di belakang mereka berdua. Ari berjalan menggenggam erat tangan Nelma, seperti seorang sepasang kekasih. Sekali-kali, mereka berbincang, terdengar suara tertawa kecil dari mereka.


Nelma begitu bahagia dalam hati.


“Malam, Pak, Bu.” sapa Ari pada orangtua Nelma.


“Malam Tuan Muda, silahkan masuk.” sambut mereka ramah dan baik.


“Oh begitu. Baiklah, pintu rumah kami selalu terbuka. Terimakasih sudah mengantar putri kami, Tuan Muda.”


_____


Hari-hari terus berlalu,

__ADS_1


Ari semakin hari semakin menarik perhatian warga, masyarakat yang polos sangat mudah untuk di bujuk, Ia dan 4 saudaranya bisa menguasai banyak kebun warga dengan membeli dan memberikan tawaran gadai pada mereka.


Belum lagi Ari juga memberikan bantuan jalan ke kampung mereka, membuat semua keyakinan masyarakat penuh padanya.


Bukan hanya masyarakat yang memiliki kebun, Ia juga ramah pada hampir semua warga desa. Sifatnya yang sombong dan angkuh dulu tak terlihat lagi.


Apalagi bagi Nelma, Ia semakin terbuai cinta. Pria tampan, mapan, ramah dan baik. Ia semakin jatuh hati.


Ari sudah berkunjung kerumahnya dua kali, Pemuda itu membawa saudaranya Rasyid dan Viza. Orangtua Nelma bahkan sangat bangga dan bahagia atas berkunjungnya pemuda itu ke rumah mereka.


“Kamu punya hubungan apa sama Tuan Muda?” tanya Ayahnya.


“Teman Ayah.” sahutnya.


“Oh.” Ayah Nelma mengangguk mengerti.


“Itu bukan hanya teman, Nak. Tuan Muda terlihat sangat tertarik padamu. Ah, betapa bahagia dan bangganya jika kamu menikah dengan Tuan Muda, Nak.” ucap Ibu berapi-api, senyuman terkembang mekar diwajahnya.


“Bu, kamu tidak boleh berkata seperti itu, apalagi berharap yang lebih. Dia itu Tuan Muda tampan dan kaya, pasti banyak wanita yang dekat dengannya, rasanya itu tak mungkin. Jangan bermimpi terlalu tinggi, Bu.” ucap Ayah Nelma mengingatkan.

__ADS_1


“Loh! Ibu bukan bermimpi tinggi, alias tukang halu Pak. Tapi jika punya harapan tinggi, apa salahnya. Siapa tahu Tuan Muda tertarik dengan putri kita. Nelma putri kita cantik, banyak pemuda di desa ini yang suka padanya.”


“Hah?!” Nelma membulatkan matanya, terdengar aneh saat Ibu mengatakan ia cantik dan banyak pemuda di desa ini yang menyukainya. Pasalnya tak ada yang menyatakan cinta padanya selama ini.


__ADS_2