(Masih Revisi) Danau Hijau Buatan Kakek

(Masih Revisi) Danau Hijau Buatan Kakek
Apa Perutmu Masih Sakit?


__ADS_3

Pagi hari,


Ari dan dua remaja sedang sarapan pagi di meja makan, mereka memakan beberapa goreng perkedel jagung dengan segelas susu hangat.


"Apa perutmu masih sakit?" tanya Arnel.


"Sudah tidak lagi Tuan Muda," jawab Aira.


Mereka menyelesaikan sarapannya dan segera berangkat kesekolah dengan berpamitan kepada Ari dan Sekretaris Zack.


"Apa perutmu masih sakit?"


"Ti...tiiiidak lagi Tuan Muda," jawab Aira heran.


"Kalau tidak, kenapa kamu memegangi perutmu dari tadi?"


Apa dari tadi ia memperhatikan aku?


"Itu... iya masih sedikit. Tapi, sudah gak apa-apa kok."


Arnel melirik Aira diam-diam di atas mobil, masih berpikir tentang menstruansi yang membuat gadis menderita. Pagi-pagi ia telah bertanya kepada bi Susi tentang datang bulan, yang membuat sang bibi senyuman-senyum sendiri melihat kekawatiran Tuan Muda, pikirnya Tuan Muda Arnel telah berpikiran dewasa akhir-akhir ini.


"Bi, datang bulan itu sakit?"


Bi Susi terkejut mendengar pertanyaan itu.


"Tergantung Tuan Muda, ada yang sangat sakit dan bisa ditahan. Tapi, hampir semua merasa nyeri di hari-hari awal menstruansi. Satu sampai dua hari nyeri, dan hari ketiga sampai ke tujuh tidak nyeri lagi."


Pasti dia kesakitan, keluar darah dari tubuh pasti sakit, harus menahan sakit selama dua hari, kasihan juga dia.


"Apa gak ada obatnya biar gak datang bulan bi?"


"Datang bulan itu harus datang tiap bulan Tuan Muda, jika tidak datang artinya seorang wanita sedang hamil atau sakit, darah yang keluar dari tubuh mereka itu juga darah kotor."


Arnel terdiam dan tercengang mendengar penjelasan bibi, berarti menstruasi itu penting pikirnya.


"Oh begitu ya bi, apakah darah yang keluar itu banyak, apa gak bikin pusing?"


"Tentu saja banyak Tuan, terkadang bikin pusing, tapi lebih banyak nyeri di bagian perut dan pinggang. Itu membuat perasaan tidak nyaman selama periode haid itu."


"Haid apa lagi bi?"


"Haid, menstruasi, datang bulan, mereka itu sama, hanya berbeda penyebutan," jelas bi Mona.


"Apakah tidak ada obatnya bi?"

__ADS_1


"Ada Tuan Muda, seperti jamu atau minuman pereda nyeri. Kalau boleh tau kenapa Tuan Muda bertanya seperti itu?"


Muka Arnel berubah merah, ia gugup dan salah tingkah mendapati pertanyaan bi Susi.


"Anu... hm... kemarin Aira berdarah saat pulang sekolah. Ia memegangi perutnya, sepertinya sangat kesakitan."


"Oh Nona Muda, ia tidak bersedia minum jamu, katanya pahit. Ia tidak menyukainya," jelas bi Susi.


Arnel tersadar dari lamunannya saat mobil yang dibawa oleh pak Tanto berhenti digerbang sekolah, mereka turun dari mobil hampir beriringan.


Awal-awal waktu mereka beriringan dan saat baru mengetahui Aira pembantunya, semua murid menjahili dan menghina Aira. Tapi, akhir-akhir ini semuanya menjadi penakut dan tidak berani berbicara lagi.


Bagaimana tidak? ada dua orang Tuan Muda yang akan memberikan tatapan tajam kepada mereka, siapa lagi kalau bukan Tuan Muda tampan yang banyak disukai wanita, ia terkenal ramah tapi tidak bisa didekati sembarangan wanita.


Dan Tuan Muda manja yang egois ditakuti para siswa karena ke populeran dan kekayaan keluarganya, dan ia juga pintar dan tampan. Siapa lagi mereka kalau bukan Tuan Muda Yangki dan Tuan Muda Arnel.


Aira berjalan dengan cepat menuju kelasnya, sedangkan Arnel membuntuti nya sekitar tiga meter dibelakangnya. Saat sampai dikelas, Aira segera duduk di bangkunya, di samping Yangki.


Yangki segera menyambut nya dengan senyuman manis, begitu pula dengan Arnel duduk di bangkunya paling pojok belakang sebelah kanan, menundukkan kepalanya, terdiam tanpa menoleh kearah mereka.


"Bagaimana keadaanmu Ra? apa perutmu masih sakit?" tanya Yangki.


"Sudah baikan kok, cuma sedikit nyeri aja," jawab nya.


"Oh iya Ra, aku bawa obat nih. Aku minta dibuatkan sama pelayan ku, tenang saja obatnya tidak pahit kok," ucap Yangki sambil menyodorkan botol minum yang berisi obat kepada Aira.


"Makasih," Aira mengambil minuman itu tersipu malu.


Ya ampun, Tuhan... Tuan Muda Yangki sangat perhatian, dia tampan begini membuat aku sangat terharu.


"Iya sama-sama Ra, tapi minumnya nanti aja setelah makan, kita makan di taman belakang ntar ya, aku minta bibi bikin kan makanan lebih juga buat kamu," ajak Yangki.


"Ok."


Pembelajaran berlangsung lancar sampai jam istirahat berbunyi, Aira dan Yangki berjalan ke taman belakang sekolah, mereka memakan bekal mereka disana dengan senda gurau.


"Kamu cantik hari ini," ucap Yangki keceplosan.


Apa? Tuan Muda Yangki bilang aku cantik? aku gak salah denger kan?


"Maksudnya gimana ya? apa lagi mengejek aku? tanya Aira.


"Bu.. bukan kok, beneran kok kamu cantik," jawab Yangki gugup.


"Perasaan aku masih seperti biasa, apa kemarin-kemarin nya aku sangat jelek?"

__ADS_1


Ya ampun, apa aku salah ucap ya?


"Gak lah Ra, maksud aku, kamu tambah cantik hari ini," jawab Yangki tersenyum manis.


Aku grogi banget di bilang cantik, aku pengen berteriak dan loncat-loncat rasanya dibilang tambah cantik. Selama ini gak ada yang bilang aku cantik.


"Tuan Muda bisa aja, aku gak pernah cantik dari dulu."


"Loh kok panggil tuan muda sih? kan aku dah bilang! jangan panggil aku tuan muda sama seperti yang lain, kamu panggil nama aja sama aku, bukankah waktu itu kita sudah berjanji kalau kita berteman? kalau teman itu harus panggil nama aja!."


"Iya, iya maaf ya Yangki," jawab Aira tersenyum menggoda sambil berwajah sok imut dengan memanyunkan bibirnya kedepan.


Lucu dan tambah cantik aja dia semakin hari.


"Ok, ayo lanjutkan makanannya, nanti keburu bel masuk bunyi loh," jelas Yangki.


Aira dan Yangki menghabiskan makanannya dengan saling mencuri-curi pandang satu sama lain. Sedangkan dari kejauhan Arnel memandangi mereka sambil menikmati jajanan yang ia makan bersama teman-temannya.


"Sini aku bukain, keras ya tutupnya?" Yangki membuka tutup minuman Aira.


Aira minum air mineral dan minum obat nyeri yang dibawakan Yangki untuknya.


"Bagaimana rasanya? tidak pahit kan?"


"Tidak, rasanya seperti teh hambar, tapi ada aroma kunyit, cengkeh dan kayu manis, makasih ya Yangki, kamu perhatian banget sama aku."


"Sama-sama, kita kan berteman. Jadi, harus saling perhatian," jelas Yangki tersenyum manis kepada Aira.


Tampan banget sih, senyumannya manis banget.


Pipi Aira merah dan ia salah tingkah sekarang, membuat Yangki juga salah tingkah. Ia merapikan duduknya, merapikan baju nya, bahkan sampai berpikir mungkin kancing celana atau bajunya lepas, pikirnya.


"Kamu kenapa Ra? pipi mu memerah tuh! apa perut mu sakit lagi?"


Aduh malu banget deh, ngapain pipi aku merah begini sih? apa dia tau, kalau aku gugup karena melihat ketampanannya?


"Gak kok, aku gak apa-apa. Mungkin cuma kepedasan aja," jawab nya asal.


"Oh, kalau begitu minum punyaku aja, ini manis dan dingin lagi," ucap Yangki sambil memberikan minuman dingin yang baru ia pesan kepada temannya yang lewat didepan mereka.


"Makasih ya."


"Makasih mulu, kita kan teman," ucap Yangki sambil mengacak rambut Aira.


Untung aja dia percaya, kalau gak! aku malu banget deh, aku sih gak sadar diri kadang, sukur bisa temanan sama si tampan ini, jangan punya perasaan aneh lagi deh hati ku!

__ADS_1


__ADS_2