(Masih Revisi) Danau Hijau Buatan Kakek

(Masih Revisi) Danau Hijau Buatan Kakek
Kedatangan Keluarga Wanda


__ADS_3

"Ma, kapan-kapan undang bibi Wanda ke sini ya, Kakek bilang mama sama bibi Wanda dulu akrab banget ya?"


"Iya,"


"Kalau begitu, mama telfon bibi sekarang. Minta malam minggu makan disni, makan malam keluarga di rumah kita ya."


"Baiklah, mama akan video call."


"Hai Wanda."


"Hai Ra."


"Putri ku ingin bicara sama kamu nich! katanya rindu sama bibi nya,"


"Mama, ih!" sungut Humaira malu.


"Hai anak bibi yang cantik."


"Hai Bi."


"Gimana kabarnya Bi?"


"Baik sayang, lagi apa?"


"Lagi santai aja Bi, oh ya malam minggu besok Bibi ada acara gak?"


"Hm, belum ada sih. Kenapa?"


"Hmmm, Aku mau ajak Bibi sekeluarga makan di rumah, penasaran juga mau jumpa sama Kakek Hasan."


"Hm gitu, Ok. Nanti Bibi bicarakan sama Kakek ya, insyallah Bibi bakalan segera kasih kabar ya."


___


Malam minggu.


Sejak siang Humaira dan Aira beserta Bi Mona dan Bi Susi memasak banyak makanan, mulai dari kesukaan penghuni rumah keluarga Damrah dan kesukaan Wanda yang di ingat Aira waktu dulu.


Malam ini mereka akan makan malam di rumah keluarga Damrah karena undangan Humaira.


Semua makanan sudah siap, mereka menunggu keluarga Wanda.


Sebuah mobil berhenti tepat di gerbang pagar rumah keluarga Damrah, beberapa orang turun dari mobil. Melihat Wanda telah sampai, Aira dan Humaira segera menyusul untuk menyambut mereka.


Arnel, Agung, Ronald, dan Kakek Ari terhenti melangkah saat hendak menyambut mereka. Begitu pula Aira, ia terkejut melihat siapa suami Wanda.

__ADS_1


Walaupun begitu, Aira segera merubah mimik wajahnya, segera menyalami mereka bersama Humaira dan meminta mereka masuk ke dalam.


Setelah masuk ke dalam rumah, keluarga Wanda juga bersalaman dengan 4 orang laki-laki yang masih berdiri kaku itu karena terkejut kedatangan 3 laki-laki yang mendampingi 2 orang wanita.


Mereka duduk di meja makan dan Aira segera menyuguhkan minuman, cemilan dan makanan.


"Oh ya, kenalin ini putra saya Alex dan ini adik sepupunya Selly."


"Ini papa saya, dan ini suami saya," tunjuk nya kepada ke dua orang laki-laki yang duduk di antara Wanda dan Humaira.


Kecanggungan sungguh terasa di meja makan saat ini.


Bagaimana tidak, suami dan putra Wanda adalah orang yang membuat Agung dan Ronald kesal. Kedatangan 2 laki-laki itu telah mengambil pekerjaan pertama mereka.


Sedangkan kakek Ari merasa sangat canggung berjumpa dengan Andi, sejak kasus pemukulan itu, ia belum pernah minta maaf dan bertemu dengan Andi lagi.


Begitu pula Arnel, ia merasa canggung dan entah apa yang harus di bicarakan sekarang, sangat canggung. Ia merasa terkejut saat mengetahui Wanda dan Andi akirnya menikah, bukankah saat itu mereka putus.


Dan bagaimana bisa, Aira keponakan Hasan ayah Wanda, tapi Hasan juga saudara adopsi papanya. Ia merasa sangat rumit dengan masalah ini, apalagi yang di sembunyikan istri dan papa nya darinya.


Agung dan Ronald tidak berselera makan sedikit pun melihat wajah Alex dan Andi. Terutama Alex, Agung dan Ronald sangat tidak suka.


Saat Humaira berjalan ke dapur menambah air, Agung mengikuti adik perempuan nya itu.


"Dek, kenapa kamu gak cerita sama abang kalau keluarga bibi itu mereka! tau gitu gak usah undang datang ke rumah ini. Abang kesal lihat pemuda tengik itu, dan kenapa harus mereka jadi keluarga bi Wanda sih!"


Agung menyentil kening Humaira.


"Apa kau lupa, katanya mau bantu Abang jadi mata-mata, balas dendam, apaan nih! jangan-jangan adek suka lagi sama pemuda tengik itu? Hah?"


"Ih! mana ada. Aku gak suka sama dia bang, cuma kalau abang turuti rasa kesal sekarang, yang ada abang gak akan berhasil, mereka itu keluarga kita."


"Aku dah cerita sama kakek, penyebab kenapa papa dan paman Rido bersedia menyerahkan proyek gerbang ke 5 sama paman Andi dan Alex itu karena mereka yang lebih pantas bang," sambung Aira.


"Pantas apa nya? terus kami yang sudah berusaha susah payah begini gak pantas gitu?" kesal Ronald yang baru saja masuk ke dapur menyusul mereka.


'Huft.....' Aira menghirup nafas dan menghembus nya dengan panjang.


"Bukan begitu, tapi proyek gerbang ke 5 ini di buka untuk umum dan di beri nama kenangan bukan?" Humaira berkata.


"Paman Andi orang yang paling berhak tentang kenangan di gerbang 5, tentang mawar merah dan mawar putih serta lukisan itu."


"Jika tidak, Kakek dan Mama pasti akan turun tangan, kita hanya harus bertanya dan mencari tau semua nya kan bang?" sambung Humaira bertanya kepada Agung.


Setelah itu Humaira ke depan meninggalkan dua pemuda itu di dapur, beberapa saat kemudian 2 pemuda itu menyusul kembali. Mereka mulai bercerita walau sedikit canggung.

__ADS_1


Selly mulai berteman dan berbincang dengan Humaira, Andi mulai berbicara dengan Arnel di ruang kerja, sedangkan Aira dan Wanda sibuk di dapur, entah apa yang sedang mereka buat.


Tinggal lah Alex, Agung, Ronald, Hasan dan Ari.


Tidak lama Hasan mengajak Ari bermain catur di halaman belakang yang ditemani teh hangat tanpa gula, sedangkan Hasan kopi hitam dengan sedikit gula.


Sungguh canggung rasanya, Agung memberanikan diri berbicara dengan Alex.


"Lo suka main games?"


"Iya,"


"Kalau gitu, bagaimana kalau kita main game mobile legend atau free fire?"


"Ok," jawab Alex singkat.


"Kalau gitu, kita main di kamarku saja," ajak Agung.


Ronald yang masih kesal mau tidak mau mengikuti mereka dan bermain game bersama. Mereka mencoba menerima semuanya, seperti Arnel dan Ari yang tadi nya canggung sekarang mereka terlihat sangat akrab.


Tanpa terasa, ke akraban mengalir tanpa diminta, Ronald dan Agung mulai memukul bahu Alex, mulai tertawa terbahak-bahak, lupa dengan rasa kesal mereka tadi karena sebuah permainan.


Di ruang kerja.


"Selamat ya, aku senang akhirnya kamu menikah dengan Wanda, aku bahkan tidak menyangka sama sekali, aku pikir kau menikah dengan orang lain," tutur Arnel.


"Ya begitulah, mungkin karena jodoh Nel, aku juga tidak menyangka sama sekali dulu."


"Maafin aku yang dulu ya."


"Sudahlah Nel, aku sudah lama memaafkannya. Aku hanya ingin jangan sampai kau menyakiti Aira, hanya itu yang aku mau."


"Tentu, aku sudah berjanji pada diriku sendiri. Aku akan menjaganya dan menyayanginya seumur hidupku, kamu jangan kawatir."


"Aku lega mendengarnya."


"Bagaimana dengan proyek gerbang ke 5?" tanya Arnel.


"Selama ini berjalan lancar, dan aku masih menunggu dan menambahkah, jika ada ide-ide cemerlang dari karyawan, tapi...."


"Tapi apa?"


"Sepertinya Yuhen belum setuju tentang lukisan itu, dia masih bersikeras dan tidak merelakannya. Walaupun keluarga Admaja telah melepas dan memberikannya, tapi ia masih bersikeras. Aku juga tidak bisa berbuat apa-apa."


"Biarlah, jika ia belum rela. Itu hak dia, dia begitu mencintai Yangki, manyayangi nya. Jadi, itu wajar Ndi. Kita hanya perlu memahami perasaannya dan mungkin menunggu sampai hatinya merelakan."

__ADS_1


"Entahlah, aku harap juga begitu Nel," jawab Andi, lantas tersenyum samar.


__ADS_2