
Humaira dan Kakek Ari berjalan santai sampai di depan teras. Di sana sudah ada Aira dan Arnel.
“Mama, Aku dan Kakek sudah habiskan sarapannya loh.” ucap Humaira tersenyum riang.
“Ya, letakkan piring kotornya kembali ke dapur ya.” sahut Aira. Dan Humaira pun mengacungkan jempol setujunya.
"Begitu lah pertemuan Mama dan papa," Ucap Ari mengakhiri ceritanya pada Humaira.
“Hari ini, Abang mau pulang bersama keluarga paman Rido kan, Ma?” tanya Humaira.
“Iya.”
**
Tidak lama kemudian, sebuah mobil berhenti di perkarangan rumah keluarga Damrah.
"Mama, sepertinya paman Rido dan keluarganya sudah sampai, ayo kita keluar! " ajak Humaira menggandeng tangan mamanya.
Sesampai di teras, Humaira begitu senang melihat kakak laki-laki nya yang sudah dua tahun tidak bertemu dengannya. Dia meloncat kedalam pangkuan laki-laki itu. Humaira sedikit melirik kesamping saat dia masih dalam pelukan kakak laki-laki nya, dia melihat seorang pemuda yang berdiri disamping kakak laki-laki nya itu sedang tersenyum ramah kepadanya.
"Iiiiiissshhh... Ngapain dia senyum- senyum gak jelas sama aku?" Humaira bergumam dalam hati melihat pemuda itu.
Aira menyambut semua tamu dan mempersilahkan mereka masuk, ia juga meminta pekerja rumahnya untuk membawa barang-barang mereka kedalam kamar tamu.
"Duduklah, istirahat dulu. Mau minum apa biar aku siapkan dulu."
"Gak usah repot-repot Aira." jawab wanita berpenampilan elegant itu.
Wanita ini adalah istri Rido namanya Dewi. Arnel menitipkan putra sulungnya tinggal bersama mereka sekarang ini. Bukan hanya itu, sekarang putra semata wayang Rido juga sangat akrab dengan Agung putra Arnel itu.
__ADS_1
Pagi hari...
Dua Remaja tampan berjalan menuruni tangga dan duduk di teras, Disebelah kiri pemuda berbaju kaos maroon dengan celana hitam santai. Berkulit putih, rambut lebat sedikit ikal, mata bulat dan hidung mancung. Ia adalah Agung Eldo Damrah.
Di sebelah kanan, pemuda berkaos putih celana pendek cream. Rambut hitam tebal lurus, hidung mancung dan bermata sedikit sipit. Ia adalah Ronald Andrew Wijaya.
Agung dan Ronald telah bersiap-siap menunggu kakek yang memberi makan ikan kesayangannya dikebun belakang, mereka menunggu di teras ditemani teh panas dan handphone mereka masing-masing.
Kakek dan kedua pemuda tampan ini menaiki kobuggy dan sopir pribadi menjalankannya pelan sambil menikmati dan melihat indahnya danau hijau buatan kakek dan sekitarnya.
Sambil menunjuk sana sini dan bertanya ini dan itu, bercerita panjang lebar sampai siang mengitarinya, mereka berhenti sebentar dan membeli gulali, telur gulung dan bakso bakar, dan beberapa botol air dingin.
"Apa tempat orang jualan ini masih kawasan kakek?" tanya Ronald dengan penasaran.
"Iya"
"Berarti jalan-jalan ini dan taman juga kek?" tanya Ronal kembali.
"Kenapa bisa kolam ikan jadi danau kek?"
"Awalnya kakek tertarik membuat kolam ikan dari usul nenek, karena dapat untung banyak, kakek membuat banyak kolam-kolam ikan yang besar, akhirnya kolam-kolam ikan itu menyatu karena kecerobohan kakek dalam mengelola pompa air."
Ari menghela nafas panjang dan mengisap air dingin dengan sedotan, dia terbayang wanita yang sangat dicintai dan dirindukannya, sebenarnya semua alasan danau hijau bukan hanya kolam tapi tujuan danau itu tentang wanita yang dicintainya.
Bahkan Danau ini banyak menjadi saksi cinta beberapa orang, bukan hanya dia dan istrinya juga bukan hanya putra semata wayangnya Arnel dengan Aira, tapi banyak remaja bahkan hari ini bersantai manja dengan kekasihnya.
Danau hijau diperluas dan semakin dikembangkan oleh putranya Arnel, semakin hari semakin ramai dan menjadi salah satu pusat pariwisata di kota ini, Arnel membagi danau beberapa daerah privasinya dan umum.
Di danau hijau ini ada empat gerbang masuknya, salah satunya milik pribadi keluarga Damrah yang terletak di sekitar halaman luas yang mewah di rumah keluarga Damrah.
__ADS_1
Di setiap tepi danau ditanam beberapa bunga yang terbatas pagar, didampingi jalan-jalan trotoar, ada tempat-tempat orang berjualan, ada taman-taman bunga warna warni mini, taman hiburan, dan juga ada tempat olahraga.
Disekitar danau disediakan beberapa kursi dan tong sampah, dibeberapa titik danau tertentu tersedia sampan-sampan dan perahu-perahu lucu seperti angsa.
Ditepi danau tertentu, beberapa bocah-bocah mandi dengan ban-ban, suara gembira anak-anak beserta ibu dan ayah mereka, pemandangan alam dan keluarga yang indah.
Bahkan sebagian mereka main ski air dan kano, beberapa remaja lomba berenang dan latihan berenang.
Arnel semakin membuat danau hijau buatan kakek Ari semakin indah, setiap hari akan ada petugas yang membersihkan dan beberapa petugas bahkan pengunjung memberi makan ikan-ikan dan kura-kura didanau.
Beberapa waktu yang lalu, Arnel dan Humaira telah memasukan 100 ekor anak kura-kura kedalam danau hijau.
"Kakek kenapa ditengah itu belum boleh dikunjungi?"
"Tanah itu belum kuat, itu sengaja dibuat seperti pulau kecil oleh papamu, dia mempunyai rencana ingin membuat sesuatu."
"Apakah kakek tau rencana apa itu?"
"Kakek dengar cuma gazebo, tapi kakek juga tidak tau pasti,"
"Cuma gazebo? habis banyak modal dan usaha membangun pondasi tanah dari bawah bukan kah itu pemborosan?"
"Ada beberapa hal yang tidak bisa diukur dengan harga untung atau ruginya, tergantung apa yang terniat, bahkan jika seluruh harta habis, bahkan tenaga, jika terniat begitu tulus dan sungguh-sungguh mungkin itu tidak akan ternilai harganya apalagi bisa menjadi sebuah rugi untuk melakukannya sedangkan hati ikhlas melakukannya."
Perkataan yang keluar dari lubuk hati Ari, Bahwa semua yang dilakukan dengan ikhlas dan sungguh-sungguh hasilnya tidak akan mengecewakan.
"Kakek, kenapa setiap kelapa puyuh itu selalu ditanam bunga anggrek dibatangnya? apa itu disengaja?" tanya Ronald.
"Iya, dulu nenek suka dengan jenis bunga lili dan anggrek, itu bunga anggrek putih memang lebih suka hidup dibatang kelapa dan tidak merugikan batang kelapa seperti parasid."
__ADS_1
Bahkan saat melihat pohon kelapa saat ini, Ari masih terbayang wajah istri yang sangat dirindukan nya, terkenang masa lalu bersama istri tercinta, saat mengambil dan meminum buah kelapa satu biji berdua.
Ingat pertama kali memancing ikan didanau ini dan membakarnya, memakan ikan bakar sambil mengelus perut besar istrinya, kenangan indah yang tak bisa ia lupakan.